Waktu Baca: 5 menit

Tasikmalaya, Maret 2026 – Isu panas dari Timur Tengah, di mana ketegangan antara Amerika Serikat-Israel dan Iran memanas, tak pelak lagi membuat denyut nadi masyarakat Indonesia berdetak lebih kencang. Kekhawatiran akan kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) tiba-tiba melintas di benak banyak orang. Di media sosial, bayangan antrean panjang dan aksi borong (panic buying) sempat menghantui. Namun, di tengah situasi yang genting itu, sebuah kepastian hadir dari ujung barat Pulau Jawa.

Di kantor Pertamina Tasikmalaya yang sederhana, Kamis (5/3/2026) siang, Faisal Fahd, Sales Branch Manager Pertamina Tasikmalaya, mencoba meredam riak kekhawatiran yang mulai menjalar di masyarakat Priangan Timur. Dengan nada tenang namun penuh keyakinan, ia membuka data.

“Stok BBM di masa Satgas tahun 2026 untuk wilayah Priangan Timur aman dan sesuai kebutuhan masyarakat,” ujarnya . Pernyataan ini bukan sekadar janji di atas kertas. Ada infrastruktur raksasa yang menjadi garda terdepan memastikan energi tetap mengalir ke SPBU-SPBU di Tasikmalaya, Ciamis, Banjar, dan Pangandaran.Lantas, apa yang membuat Faisal begitu yakin? Jawabannya terletak ratusan meter di bawah permukaan tanah. Sebuah jaringan pipa baja membentang dari Kilang Minyak Cilacap, yang dikenal sebagai Kilang RU IV, hingga ke jantung Kota Tasikmalaya.

“Stok kita aman karena didistribusikan langsung dari Kilang Cilacap melalui jalur pipa,” tegas Faisal

Jalur pipa inilah yang menjadi “pahlawan” dalam kisah ketahanan energi Priangan Timur. Kilang Cilacap, sebagai salah satu kilang terbesar di Indonesia, tidak hanya memproduksi BBM untuk memenuhi kebutuhan domestik, tetapi juga mendistribusikannya melalui sistem perpipaan canggih . Dari sana, BBM dialirkan ke Terminal BBM Lomanis, yang berperan sebagai titik nol distribusi, lalu diteruskan melalui pipa khusus ke barat menuju Terminal BBM Tasikmalaya dan Bandung . Sistem ini meminimalisir ketergantungan pada truk tangki yang rawan terhadap kemacetan dan gangguan cuaca.

Menerjemahkan Angka 21 Hari

Isu global juga sempat diperkeruh oleh pernyataan tentang stok BBM nasional yang hanya cukup untuk 21 hari. Angka ini sontak membuat publik bergidik. Namun, Faisal dengan sabar menjelaskan makna di balik angka tersebut.

“Definisi stok 21 hari ke depan itu, bukan berarti sekarang tanggal 5 Maret, maka tanggal 26 Maret kita selesai. Bukan seperti itu. Di rentang 21 hari itu, di setiap hari stok kita terus bertambah,” jelas Faisal dalam kesempatan lain malam harinya .

Pernyataan Faisal ini seirama dengan klarifikasi Menteri ESDM Bahlil Lahadalia di Jakarta. Bahlil menegaskan bahwa angka 21 hari itu adalah soal kapasitas tangki penyimpanan, bukan soal stok yang membeku. “Kemampuan storage tempat penampung minyak kita sejak dahulu kala memang kapasitas tampungnya itu hanya 25 hari… Sekarang minyak kita 23 hari. Jadi itu artinya bahwa standar kepemilikan kita, minyak kita itu aman,” ujar Bahlil . Ia juga memastikan pasokan minyak mentah telah dialihkan dari Timur Tengah ke sumber lain seperti Amerika, Nigeria, dan Brasil.



 

Jangan Panik, Bijaklah!

Ketua Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas (Hiswana Migas) Priangan Timur, Sigit Wahyu Nandika, juga angkat bicara. Dalam rapat koordinasi bersama Pertamina di sebuah restoran seafood di Jalan Yudanegara, Kamis malam, ia mengamini jaminan keamanan stok.

“Situasi global tentu di luar kendali kita. Kita hanya bisa mendoakan semoga konflik reda. Tetap tenang, gunakan BBM dengan bijak, dan jangan panic buying,” imbaunya .

Kekhawatiran masyarakat sebenarnya beralasan. Pada November 2025 lalu, warga Tasikmalaya sempat dihebohkan dengan insiden di SPBU 34.46109, di mana sejumlah kendaraan mogok setelah mengisi BBM yang diduga tercampur air . Peristiwa seperti ini tentu meninggalkan trauma dan membuat warga lebih sensitif terhadap isu kelangkaan atau kualitas BBM. Namun, Pertamina memastikan kejadian tersebut sudah ditangani dan pengawasan kualitas di seluruh SPBU diperketat, apalagi menjelang Lebaran.

Lebaran Tenang dengan Satgas RAFI

Menariknya, ketegangan global ini beririsan dengan persiapan besar lainnya: arus mudik Lebaran 1447 H. Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Bagian Barat (JBB) telah mengaktifkan Satuan Tugas Ramadan dan Idulfitri (Satgas RAFI) untuk memastikan kelancaran distribusi .

Di Priangan Timur, yang menjadi salah satu jalur favorit pemudik menuju Pangandaran, berbagai layanan ekstra disiapkan. Mulai dari layanan Motoris (BBM kemasan) di titik-titik rawan macet seperti Gentong dan Cikoneng, hingga SPBU Modular di kawasan wisata Pangandaran . Semua ini dilakukan agar masyarakat bisa merayakan Idulfitri dengan tenang dan nyaman.

Di tengah hiruk-pikuk geopolitik, setidaknya warga Tasikmalaya dan sekitarnya bisa sedikit lega. Pasokan BBM mengalir pasti melalui pipa-pipa baja dari Cilacap, jauh dari hiruk-pikuk suara sirene perang di Timur Tengah. Kini, yang diperlukan hanyalah kebijaksanaan: membeli secukupnya, tidak perlu panik, dan tetap berdoa agar dunia segera kondusif.