Waktu baca: 3 menit

Pentagon menepis pernyataan tersebut “Itu Bohong, Rudal Tidak Mendekat”

TEHERAN/WASHINGTON – Ketegangan militer di Teluk mencapai puncaknya saat Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) mengumumkan serangan balasan dahsyat terhadap armada Amerika Serikat, menargetkan kapal induk nuklir USS Abraham Lincoln (CVN-72) dengan empat rudal balistik sekaligus. Klaim tersebut langsung dibantah keras oleh Komando Pusat AS (CENTCOM) yang menyebut rudal-rudal Iran “tidak mendekat” dan kapal induk tersebut tetap beroperasi normal.

Dalam pernyataan resmi yang dirilis Kantor Humas IRGC melalui kantor berita Tasnim, Minggu (1/3/2026), Garda Revolusi menyatakan: “Kapal induk Angkatan Laut AS Abraham Lincoln diserang dengan empat rudal balistik. Serangan dahsyat angkatan bersenjata Republik Islam Iran terhadap kekuatan militer musuh memasuki fase baru, dan darat dan laut akan semakin menjadi kuburan para agresor teroris.”



Serangan ini merupakan bagian dari Operasi “True Promise 4” yang dilancarkan Iran sebagai balasan atas serangan gabungan AS-Israel—dengan nama sandi “Epic Fury”—yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei pada Sabtu (28/2/2026) lalu.

Namun, dalam konferensi pers singkat di akun resmi X, CENTCOM membantah total klaim Teheran: “🚫 IRGC Iran mengklaim telah menyerang USS Abraham Lincoln dengan rudal balistik. BOHONG. ✅ Lincoln tidak terkena. Rudal yang diluncurkan bahkan tidak mendekat. Lincoln terus meluncurkan pesawat untuk mendukung kampanye tanpa henti CENTCOM dalam mempertahankan rakyat Amerika dengan melenyapkan ancaman dari rezim Iran.”

Pertempuran di Laut Oman semakin memanas ketika AS mengumumkan berhasil menenggelamkan kapal perang kelas korvet Jamaran milik Iran di pelabuhan Chah Bahar. Sementara itu, Pentagon membenarkan adanya korban pertama di pihak Amerika—tiga prajurit tewas dan lima lainnya luka parah—menjadi korban jiwa pertama AS sejak operasi militer besar-besaran dimulai.

USS Abraham Lincoln, kapal induk kelas Nimitz berbasis di San Diego, California, saat ini beroperasi di Laut Arab sekitar 240 kilometer lepas pantai Oman, membawa sekitar 90 pesawat tempur termasuk jet siluman F-35C dan F/A-18 Super Hornet, serta 5.680 awak.

Sementara video yang beredar di media sosial yang menampilkan kapal induk terbakar setelah serangan rudal telah dikonfirmasi sebagai video palsu dari permainan video Arma 3 yang beredar sejak Juni 2025.