Waktu baca: 4 menit

Porostasik.com – Dari kos-kosan sederhana hingga gedung putih megah di tengah Jakarta, jejak perjalanan Direktur Utama PT Yasa Artha Trimanunggal yang baru saja memenangkan proyek pengadaan motor listrik Badan Gizi Nasional senilai Rp1,2 triliun.

JAKARTA — Gedung putih megah berarsitektur klasik di Jalan Kepu Baru, Jakarta Pusat, terlihat mencolok di antara deretan rumah warga yang lebih sederhana. Bangunan tiga lantai dengan kubah hitam di bagian atapnya ini menjadi kantor pusat PT Yasa Artha Trimanunggal, perusahaan yang baru-baru ini mencuri perhatian publik setelah ditunjuk sebagai pemenang tender pengadaan motor listrik untuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG) senilai Rp1,2 triliun.

Yang lebih menarik perhatian bukan hanya nilai kontraknya yang fantastis, melainkan sosok pemiliknya, Yenna Yuniana, Direktur Utama yang namanya tengah menjadi perbincangan hangat di berbagai forum publik.

Pak RT Tidak Mengenalnya

Ironisnya, di tengah hiruk-pikuk pemberitaan, sosok Yenna tetap menjadi misteri bagi tetangga terdekatnya. Ketua RT setempat mengaku sama sekali tidak mengenal perempuan yang tinggal di rumah bernomor 1850 tersebut. “Saya tidak kenal,” ucapnya singkat.

Warga sekitar mengatakan, rumah mewah berpagar kayu rapat yang tinggi dengan kanopi menutupi hampir seluruh halaman itu sebenarnya dulunya merupakan kos-kosan. “Dulu ini kos-kosan, tapi sekarang sudah berubah jadi rumah mewah,” cerita seorang warga yang telah bertahun-tahun tinggal di lingkungan tersebut.

Keeksklusifan Yenna tampaknya bukan mitos. Rumahnya dijaga ketat, pagar kayu tinggi melindungi privasi penghuninya dari pandangan luar. Bahkan, belakangan kantor perusahaannya pun sempat dijaga polisi setelah viral di media sosial.

Rekaman Jejak Bisnis

Meski profil pribadinya tertutup, rekam jejak bisnis Yenna Yuniana menunjukkan sosok yang bergerak cepat dan ambisius. Berdiri sejak 2016, PT Yasa Artha Trimanunggal beroperasi di bidang logistik, pengadaan umum, alat kesehatan, hingga ekspor-impor dengan jangkauan hampir seluruh Indonesia.

Langkah strategis terbesar datang pada September 2024 ketika Yasa Artha mengakuisisi maskapai perintis SAM Air (PT Semuwa Aviasi Mandiri). Akuisisi ini bukan sekadar ekspansi bisnis, melainkan bagian dari visi besar mendukung ketahanan pangan nasional.

“Kami akan membeli 2 unit pesawat Cassa 212 dan 10 unit pesawat N219 dari PT Dirgantara Indonesia,” ujar Yenna dalam keterangan resmi November 2024. Pesawat-pesawat ini direncanakan untuk distribusi pangan ke daerah-daerah terpencil dan wilayah kepulauan Indonesia.

Proyek Motor Listrik MBG yang Kontroversial

Proyek pengadaan motor listrik untuk Badan Gizi Nasional menjadi puncak pencapaian Yasa Artha Trimanunggal. Berdasarkan data Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP), BGN mengalokasikan sekitar Rp1,2 triliun untuk pembelian sepeda motor listrik merek Emmo Mobility melalui e-Katalog 6.0. Kepala BGN Dadan Hindayana memastikan pengadaan ini masuk dalam anggaran 2025 untuk mendukung operasional Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). “Realisasi total motor listrik sebanyak 21.801 unit dari 25 ribu unit yang dipesan,” jelasnya.

Namun, proyek ini tidak lepas dari sorotan. Yenna Yuniana ternyata pernah diperiksa tim penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada November 2025 terkait kasus dugaan korupsi penyaluran bantuan sosial beras untuk Keluarga Penerima Manfaat (KPM) Program Keluarga Harapan (PKH) Kemensos TA 2020.

Pertanyaan yang Tersisa

Di balik gemerlap proyek triliunan rupiah, sosok Yenna Yuniana tetap menjadi teka-teki. Bagaimana seorang pengusaha yang tetangga sekitarnya tidak kenal bisa meraih proyek pemerintah sebesar itu? Dari mana asal modal bisnis yang mampu membeli 12 unit pesawat sekaligus?

Gedung putih di Jalan Kepu Baru tetap berdiri megah, tanpa papan nama yang mencolok, seperti pemiliknya yang memilih untuk tetap dalam bayang-bayang.sampai proyek motor listrik MBG membawa namanya ke pusat perhatian nasional.

Sumber : Tribunnews , Tribun Medan, IDN Times, Indonesia Aerospace , Sam Air.