Waktu baca: 3 menit

Porostasik.com – JAKARTA — Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa melontarkan wacana pemungutan tarif terhadap kapal-kapal komersial yang melintasi Selat Malaka. Gagasan yang mengikuti jejak Iran di Selat Hormuz ini langsung memicu reaksi keras dari Malaysia dan Singapura, dua negara tetangga yang berbagi jalur perairan strategis tersebut.

Dalam acara Simposium PT SMI 2026 di Jakarta, Rabu (22/4/2026), Purbaya tidak menyembunyikan keinginannya untuk mengoptimalkan potensi ekonomi dari posisi geografis Indonesia. “Dan seperti arahan presiden, Indonesia ini bukan negara pinggiran, kita ada di jalur strategis perdagangan dan energi dunia, tapi kapal lewat Selat Malaka enggak kita charge, enggak tahu betul apa salah?” ujarnya dengan nada yang menggoda.

Wacana ini muncul di tengah upaya pemerintah mencari sumber pembiayaan baru. Purbaya melihat potensi besar dalam jalur perdagangan dunia yang setiap tahun dilintasi ribuan kapal kargo dan tanker. “Sekarang Iran mau charge kapal lewat Selat Hormuz. Kalau kita bagi tiga, Indonesia, Malaysia, Singapura, lumayan kan? Punya kita jalurnya paling besar, paling panjang,” tambahnya.

Angan-angan tersebut langsung mendapat penolakan tegas dari dua mitra terdekat. Malaysia dan Singapura, yang bersama-sama mengelola jalur perairan tersebut, menyatakan penolakan mereka terhadap rencana Indonesia.Singapura, sebagai salah satu pelabuhan terbesar dunia, tentu tidak ingin biaya operasional perdagangan internasional melonjak akibat tarif tambahan.

Purbaya sendiri mengakui bahwa konsep ini belum tentu bisa direalisasikan dan tidak mudah dijalankan. Meskipun demikian, ia menekankan bahwa dengan segala kekayaan alam dan posisi strategis yang dimiliki, Indonesia tidak boleh lagi berpikir defensif. “Kita harus mulai main ofensif. Tapi tetap terukur,” ucapnya

Wacana ini sekaligus menjadi pengingat bahwa Selat Malaka bukan sekadar jalur laut biasa. Sejak zaman dahulu, selat ini telah menjadi arteri vital perdagangan internasional yang menghubungkan Samudra Hindia dengan Laut China Selatan. Lebih dari 80.000 kapal komersial melintas setiap tahunnya, membawa sekitar seperempat perdagangan dunia dan separuh pasokan energi Asia.

Dengan Indonesia memegang porsi terbesar jalur perairan di Selat Malaka, wacana Purbaya membuka babak baru dalam diplomasi maritim regional. Apakah ini akan menjadi langkah berani yang mengubah peta ekonomi maritim dunia, atau sekadar angin laut yang lewat begitu saja? Satu yang pasti, gagasan ini telah membuat Selat Malaka kembali menjadi sorotan dunia.

Sumber :

CNBC Indonesia ,Kompas.com ,Tempo.com