Waktu Baca : 4 menit

Dalam keheningan yang tersisa, ada getaran renungan yang lebih dalam dari gemuruh mesin pesawat. Saat nama Bacharuddin Jusuf Habibie disebut, ingatan kita langsung melayang pada sosok jenius di balik teknologi dirgantara Indonesia, pada presiden ketiga yang membawa angin perubahan, atau pada kisah cinta legendaris bersama Ainun. Namun, di balik semua pencapaian duniawinya, tersimpan sebuah pesan reflektif yang mungkin justru lebih berharga dari semua itu—sebuah pesan tentang prioritas hidup yang sejati.

Suatu ketika, dalam sebuah pidato di Kairo, sang maestro teknologi itu mengungkapkan sebuah pencerahan yang tiba-tiba hadir di tengah-tengah puncak kariernya. “Saya diberikan kenikmatan oleh Allah ilmu teknologi sehingga saya bisa membuat pesawat terbang,” ucapnya. “Tapi sekarang saya tahu bahwa ilmu agama itu lebih bermanfaat untuk umat. Kalau saya disuruh memilih antara keduanya, saya akan memilih ilmu agama.”

Pernyataan itu bukan sekadar retorika. Ia seperti sebuah prolog puitis dari sebuah narasi panjang tentang akhir perjalanan manusia yang seringkali kita abaikan dalam kesibukan mengejar kesuksesan duniawi.

Saat Tua Tiba, dan Kesepian Menjadi Teman Setia

Bayangkan sebuah rumah yang luas dan megah. Udara dingin AC bersenandung, aset-aset produktif terus bekerja di balik layar, dan foto-foto di dinding bercerita tentang masa lalu yang penuh semangat, ketika tubuh masih kuat dan suara riuh keluarga memenuhi setiap sudut. Namun, hari ini, rumah itu sunyi. Hanya detak jam dinding yang setia menemani, bersahutan dengan desahan napas penghuni tunggalnya: seorang lelaki renta.

Tangannya telah gemetar, penyakit-penyakit lama datang bergantian menjenguk. Duduk terasa tak enak, berjalan pun serba tak nyaman. Dari sudut matanya, air mata menetes perlahan saat memandangi wajah-wajah anak-anaknya dalam bingkai foto. Mereka semua sukses, seorang berkarir gemilang di negeri orang, seorang lagi menduduki posisi puncak di perusahaan multinasional, dan satu lainnya adalah pengusaha yang disegani. Mereka adalah kebanggaan, bukti dari pendidikan terbaik yang pernah ia berikan.

Namun, di balik semua keberhasilan itu, ada kehampaan yang menggerogoti. Ada pilu yang mendesak-desak di sudut hati yang paling dalam. Di manakah mereka, saat dirinya hanya ingin ditemani berbagi cerita? Akankah mereka sempat datang, jika malaikat Izrail tiba-tiba menjemput? Siapa yang akan memandikan jenazahnya dengan penuh hormat? Di mana tanah peristirahatan terakhirnya nanti? Pertanyaan-pertanyaan ini berputar-putar dalam kesunyian, lebih nyaring dari suara apa pun.

“Mengapa kalau sempat? Mengapa itu semua tidak jadi perhatian utama kita?” bisik hati nurani yang terlambat tersadar. Kita begitu pandai membangun istana di dunia, namun lalai menyiapkan bekal untuk istana yang hakiki di akhirat. Kita begitu adil dalam urusan bisnis, tetapi seringkali tak adil pada diri sendiri dengan mengabaikan investasi terpenting, investasi untuk kehidupan setelah kematian.

Pesan Habibie

Di sinilah pesan Prof. Dr. Ing. BJ Habibie menemukan konteksnya yang paling menghujam. Pilihannya untuk “lebih memilih ilmu agama” jika diberi pilihan, bukan berarti menafikan pentingnya ilmu duniawi. Sebaliknya, ia adalah seorang bukti nyata bagaimana keduanya dapat bersinergi. Pesannya adalah tentang prioritas dan perspektif.

Ilmu teknologi, ekonomi, atau kedokteran adalah alat yang mulia untuk membangun peradaban. Namun, ilmu agamalah yang menjadi kompas moral, penentu arah, dan penjaga agar semua pencapaian duniawi tidak membuat kita lupa daratan. Ia adalah fondasi yang memastikan bahwa rumah megah kita tidak kosong dari makna, bahwa kesuksesan anak-anak kita tidak hanya diukur oleh materi, dan bahwa di akhir perjalanan, kita punya sesuatu yang lebih berharga untuk dipertanggungjawabkan kepada-Nya.

Akhir kata, tulisan ini mungkin berakhir dengan gambaran yang muram tentang kesepian di usia senja. Namun, pesan di baliknya justru penuh harapan. Ia adalah alarm yang membangunkan kita sebelum terlambat. Dunia hanyalah persinggahan sementara, tempat kita menabur benih. Setiap senyum yang kita berikan, setiap sedekah yang kita sembunyikan, setiap ilmu bermanfaat yang kita sebarkan, dan setiap doa anak saleh yang kita upayakan, adalah benih-benih yang akan tumbuh menjadi pohon penaung di perjalanan panjang nan kekal kelak.

Maka, marilah kita terus menjadi penabur kebajikan, “selama hayat masih dikandung badan, meski hanya sepotong pesan.” Seperti yang diingatkan oleh sang visioner, BJ Habibie, bekallah. Karena kematian itu pasti, dan yang tersisa hanyalah amal yang kita tinggalkan.