Tasikmalaya — Di tengah persaingan seleksi pendidikan yang semakin ketat, sebuah lembaga pendidikan di pedalaman Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, tengah mempersiapkan diri menghadapi gelombang baru evaluasi nasional. SMP IT Baabul Hudaa Cinangsi, yang berdiri di bawah naungan Yayasan Pesantren Baabul Hudaa di Kampung Cinangsi, Desa Mekarsari, Kecamatan Kadipaten, kini berada di persimpangan sejarah—menjadi bagian dari revolusi penilaian akademik yang digulirkan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melalui Tes Kemampuan Akademik (TKA).

Mengapa TKA Penting ?
TKA lahir dari kesadaran mendalam akan sebuah problem klasik dalam dunia pendidikan Indonesia: ketiadaan laporan capaian akademik individu yang terstandar secara nasional. Bertahun-tahun, seleksi masuk jenjang pendidikan lebih tinggi—baik dari SD ke SMP, SMP ke SMA, maupun ke perguruan tinggi—bergantung pada data rapor yang rentan terhadap disparitas objektivitas antar satuan pendidikan.
“Pada situasi seleksi yang didasarkan pada data dari hasil penilaian masing-masing satuan pendidikan, menimbulkan masalah dalam hal objektivitas dan keadilan,” Ungkap Ibu Siti M disela waktu istirahatnya kepada porostasik.

Bagi siswa kelas 9 SMP IT Baabul Hudaa Cinangsi yang hendak melanjutkan ke jenjang SMA/SMK, TKA kini menjadi instrumen strategis yang dapat memperkuat posisi mereka dalam jalur seleksi prestasi—meski kebijakan spesifik tetap bergantung pada keputusan pemerintah daerah masing-masing.
Yang membedakan TKA dari ujian-ujian nasional sebelumnya adalah sifatnya yang tidak wajib. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, menegaskan bahwa TKA dirancang sebagai assessment of learning untuk memotret capaian, assessment for learning sebagai dasar perbaikan pembelajaran, serta assessment as learning yang menjadi bagian dari sistem penilaian komprehensif.
Baabul Hudaa Cinangsi yang juga berfungsi sebagai pusat pengembangan spiritual dan sosial bagi masyarakat sekitar , fleksibilitas ini memberikan ruang bagi siswa untuk mempertimbangkan kesiapan akademik mereka tanpa tekanan berlebihan. Murid yang merasa siap dapat mengikuti, sementara yang belum siap tidak perlu merasa tertekan—tanpa konsekuensi pada kelulusan dari satuan pendidikan.
Tiga Fungsi Strategis TKA
1. Seleksi Masuk Jenjang Pendidikan Lebih Tinggi
Hasil TKA kelas 9 SMP dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk masuk ke SMA/SMK melalui jalur prestasi—sesuai kebijakan masing-masing pemerintah daerah. Bagi siswa SMP IT Baabul Hudaa Cinangsi, sertifikat hasil TKA (SHTKA) yang dilengkapi kode pengaman dan tanda tangan elektronik ini menjadi dokumen resmi yang dapat memvalidasi capaian akademik mereka di mata institusi penerima.
2. Pengakuan Prestasi Akademik
TKA menyediakan sertifikat resmi capaian akademik yang dapat digunakan untuk berbagai keperluan seleksi—mulai dari penerimaan siswa baru, beasiswa, hingga keperluan administratif lainnya. Sertifikat ini menjadi bukti objektif kemampuan siswa, terlepas dari latar belakang satuan pendidikan formal, nonformal, maupun informal.
3. Pemetaan Mutu Pendidikan
Fungsi ketiga TKA yang sering terlupakan namun sangat krusial adalah perannya sebagai instrumen pemetaan mutu pendidikan nasional. Kepala Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan (BSKAP), Toni Toharudin, menjelaskan bahwa TKA dirancang sebagai alat diagnosis nasional untuk membaca kondisi kemampuan akademik murid secara lebih jernih dan berkeadilan.
Data TKA akan menjadi titik awal perbaikan kebijakan, penguatan pembelajaran mendalam, penyempurnaan kurikulum, serta peningkatan kualitas proses belajar-mengajar di tingkat satuan pendidikan. Bagi SMP IT Baabul Hudaa Cinangsi, hasil TKA dapat menjadi cermin untuk memahami kebutuhan nyata pembelajaran di kelas dan mendorong perbaikan proses pembelajaran.
Teknologi dan Integritas
Pelaksanaan TKA menggunakan pendekatan Item Response Theory (IRT) dengan model dua parameter logistik, sehingga penilaian tidak hanya mempertimbangkan jumlah jawaban benar, tetapi juga tingkat kesulitan dan daya pembeda soal . Hasil disajikan dalam empat kategori: kurang, memadai, baik, dan istimewa—dengan deskripsi kemampuan yang membantu murid dan sekolah melakukan perbaikan pembelajaran secara terarah.Kemendikdasmen juga menegaskan komitmennya terhadap integritas pelaksanaan. Inspektur Jenderal Kemendikdasmen, Faisal Syahrul, menyatakan bahwa pihaknya telah mengantongi nama-nama pelaku pelanggaran berat dan memberikan sanksi mulai dari teguran lisan hingga pemberian nilai nol untuk menjaga kredibilitas TKA.
Menatap Masa Depan
Bagi SMP IT Baabul Hudaa Cinangsi, partisipasi dalam TKA bukan sekadar mengikuti arus kebijakan nasional. Ini adalah kesempatan untuk memposisikan diri dalam ekosistem pendidikan yang semakin terbuka dan transparan—di mana mutu pembelajaran diukur bukan dari retorika, melainkan dari hasil yang dapat diverifikasi secara objektif.Sebagai lembaga yang berdiri di wilayah rural dengan misi menumbuhkan iman dan ilmu pengetahuan, Baabul Hudaa Cinangsi memiliki potensi untuk membuktikan bahwa kualitas pendidikan tidak terbatas oleh geografis. TKA menjadi salah satu instrumen yang dapat mengukir narasi baru: bahwa siswa-siswi dari pedalaman Tasikmalaya mampu bersaing dan menorehkan prestasi di panggung yang lebih luas.




















