Waktu baca: 4 menit

Porostasik.com – JAKARTA — Setiap tanggal 14 April, ribuan pengajar Madrasah Diniyah Takmiliyah (Madin) di seluruh Indonesia mengenakan kemeja batik hijau-putih mereka. Bukan sekadar perayaan biasa. Ini adalah Harlah FKDT — Hari Lahir Forum Komunikasi Diniyah Takmiliyah — sebuah peringatan yang dalam lima belas tahun terakhir telah bertransformasi dari sekadar tasyakuran sederhana menjadi ajang konsolidasi kekuatan politik keagamaan.Logo emas bertuliskan “14th” yang kini viral di media sosial menandakan organisasi ini telah menginjak usia 14 tahun sejak didirikan pada 14 April 2012.

Di balik angka tersebut, tersembunyi narasi panjang tentang perjuangan para guru Madin yang berupaya menegaskan eksistensi mereka di tengah hiruk-pikuk kebijakan pendidikan nasional.

Dari Tumpeng di Ungaran hingga Rapimnas di Jakarta

Tahun ini, perayaan Harlah tidak berlangsung serentak. Di kediaman Kyai Abdul Rohman di Nyatnyono, Ungaran Barat, Jawa Tengah, acara tasyakuran digelar dengan pemotongan tumpeng bersama perwakilan Kanwil Kemenag Jateng pada Senin, 14 April 2025 .Sederhana, namun penuh makna simbolis.Tiga bulan kemudian, pada 19 Juli 2025, gelanggang berpindah ke Hotel Bidakara Jakarta. Rapimnas FKDT 2025 menghadirkan barisan elit negara: Menteri Agama Prof. Dr. KH Nasaruddin Umar, Menteri Sosial Saifullah Yusuf, hingga Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo .Tema yang diusung menggema keras: “Memperkuat Soliditas Ustadz Madrasah Diniyah Takmiliyah Menuju Indonesia Emas 2045.”

Di tengah suasana perayaan, membahas Isu kesejahteraan guru Madin juga menjadi sorotan. Di tengah gemerlap Indonesia Emas 2045, ribuan pengajar di pondok-pondok kecil masih berjuang dengan honor yang tak menentu.

Apa Itu FKDT ?

Bagi yang asing, Forum Komunikasi Diniyah Takmiliyah adalah wadah komunikasi bagi Madrasah Diniyah Takmiliyah — pendidikan agama Islam non-formal di tingkat dasar yang tersebar di pelosok nusantara. Dari Sabang sampai Merauke, FKDT menjadi jaringan silaturahmi bagi para ustadz dan ustadzah yang mengabdi di lembaga-lembaga ini.

Logo mereka menggambarkan visi organisasi: buku terbuka melambangkan ilmu, jabat tangan menandakan komunikasi dan solidaritas, serta padi dan rantai menunjukkan keterikatan dengan tradisi dan kemakmuran. Semuanya diapit dalam pentagon yang kokoh.

Menuju Harlah Ke-14 “Harmoni dan Sinergi”

FKDT Harlah ke-14 pada 14 April 2026. mengusung Tema : “Menjaga Harmoni Memperkuat Sinergi”. Apakah ini menandakan pendekatan baru? Atau sekadar taktik diplomasi di tengah dinamika politik yang semakin kompleks?Yang pasti, setiap tanggal 14 April, FKDT bukan lagi sekadar organisasi. Ia menjadi simbol perlawanan, solidaritas, dan harapan bagi ribuan pengajar yang terus mengabdi di barisan terdepan pendidikan Islam Indonesia menjaga api ilmu tetap menyala di tengah badai kebijakan.