Waktu baca: 4 menit

Eksperimen sederhana di Bale Kota yang bisa jadi cetak biru gerakan hemat energi nasional.

Porostasik.com – TASIKMALAYA — Biasanya, jalan menuju Bale Kota Tasikmalaya dipadati deretan mobil dan sepeda motor yang mengantarkan Aparatur Sipil Negara (ASN) memulai rutinitas kantoran. Namun, pekan ini akan berbeda. Mulai Rabu, 15 April 2026, setidaknya selama sebulan ke depan, para pegawai negeri di kota ini akan meninggalkan kendaraan bermesin bensin di rumah. Gantinya? Sepeda, motor listrik, atau bahkan sepasang sepatu lari.

Wali Kota Tasikmalaya, Viman Alfarizi Ramadhan, tidak sedang bercanda ketika mengumumkan uji coba Car Free Day (CFD) khusus ASN ini. Di tengah gemerincing mesin kendaraan konvensional yang masih mendominasi ruang publik, pria yang dikenal gemar berlari ini justru melihat celah untuk sebuah perubahan.

“Kita akan coba CFD sebagai langkah penghematan kendaraan yang energinya bersumber dari fosil,” ujar Viman di Bale Kota, Senin (13/4/2026). Matanya berbinar saat menjelaskan bahwa ini bukan sekadar aturan kaku, melainkan “ajang sosialisasi”—sebuah undangan untuk berpikir ulang tentang jarak antara rumah dan kantor yang selama ini ditempuh dengan begitu boros.

Sebuah Konversi Gaya Hidup

Program ini bukan datang dari ruang hampa. Sebelumnya, Pemkot Tasikmalaya telah menguji coba kebijakan Work From Home (WFH) setiap hari Jumat bagi ASN di luar layanan publik. CFD adalah evolusi logis dari upaya efisiensi tersebut—kali ini, mereka yang tetap harus hadir di kantor diminta untuk datang dengan jejak karbon minimal.Viman, dalam gaya kepemimpinannya yang pragmatis, tidak memaksakan satu moda transportasi. “Silakan bersepeda, naik motor listrik, atau bahkan lari jika memungkinkan,” katanya, menawarkan fleksibilitas dalam disiplin. Bahkan, pribadi yang akrab disapa Viman ini berencana menyesuaikan diri: “Bisa naik sepeda atau motor listrik, menyesuaikan saja.”

Di balik sifat sukarela tersebut, terdapat perhitungan matang. Viman menyadari bahwa sebagai kota dengan ukuran relatif kecil, dampak langsung CFD terhadap emisi gas buah Tasikmalaya mungkin tidak signifikan secara kuantitatif. “Tapi kampanye mengenai penghematan energi ini harus digalakkan kepada masyarakat, dimulai dari pemerintah dulu,” tegasnya.

Menakar Niat di Balik Kebijakan

Ada nuansa unik dalam cara Viman membingkai kebijakan ini. Berulang kali ia menekankan kata “sosialisasi”—bukan “regulasi”, apalagi “sanksi”. CFD di Tasikmalaya dirancang sebagai teater politik yang partisipatif, di mana para ASN menjadi aktor sekaligus penonton dalam drama perubahan perilaku.

“Ini bukan hanya untuk pemerintah, tetapi juga sebagai contoh bagi masyarakat,” ujarnya.Logikanya sederhana namun kuat: bagaimana masyarakat bisa diajak berhemat energi jika para penjaga kota sendiri terlihat bergantung pada BBM setiap hari?

Meski demikian, Viman tidak mengabaikan sisi lain dari konsumsi energi. Ia menyoroti bahwa penghematan tidak berhenti di parkiran kendaraan. “Penggunaan energi di perkantoran yang kita perhatikan,” tambahnya, mengisyaratkan bahwa CFD hanya puncak gunung es dari agenda efisiensi yang lebih besar.

Satu bulan ke depan akan menjadi periode krusial. Jika uji coba berjalan lancar—jika para ASN mau berkeringat sedikit demi tiba di kantor dengan sepeda, jika masyarakat melihat dan bertanya “mengapa tidak saya juga?”—maka Mei 2026 bisa menjadi titik balik. Viman telah mengisyaratkan bahwa CFD yang kini bersifat sukarela bisa berubah menjadi kebijakan yang lebih permanen dan terstruktur.

Di tengah hiruk-pikuk debat kebijakan energi nasional yang sering terjebak dalam retorika makro, langkah sederhana di Bale Kota ini menawarkan narasi alternatif: perubahan dimulai dari satu hari tanpa bensin, satu sepeda yang menggantikan mobil dinas, dan satu pemimpin yang mau berlari ke kantor demi memberi contoh.

Sumber : Newstasikmalaya, TribunJabar,RRI