Waktu baca: 5 menit
Dari harapan gizi gratis hingga deretan infus di Puskesmas Cisayong kisah 114 siswa SMAN 1 Cisayong yang menjadi korban program yang seharusnya menyelamatkan mereka.
CISAYONG, Tasikmalaya — Pukul 11.30 WIB, Rabu (8/4/2026), suasana di SMAN 1 Cisayong tampak seperti hari biasa lainnya. Ratusan siswa baru saja menyelesaikan jam istirahat dengan santapan yang seharusnya menjadi berkah: seporsi nasi putih, sup ayam hangat, tempe goreng renyah, dan seiris melon segar. Program Makan Bergizi Gratis (MBG)—cita-cita besar pemerintah untuk memastikan generasi muda Indonesia tumbuh optimal—baru saja dijalankan di sekolah yang berdiri di kaki Gunung Galunggung ini.
@priangan.com Dugaan Keracunan MBG di SMAN 1 Cisayong, Puluhan Siswa Dilarikan ke Puskesmas @cecepnurulyakin77 @pemkabtasik @badangizinasional.ri @prabowosubianto08 @DPRD KABUPATEN TASIKMALAYA ♬ suara asli – priangan.com
Tidak ada yang menyangka bahwa dalam hitungan jam, keheningan kelas akan pecah menjadi jeritan mual, muntah tak terkendali, dan napas yang tersengal-sengal.
Gelombang Pertama
Arif, guru SMAN 1 Cisayong, masih mengingat dengan jelas detik-detik ketika kepanikan dimulai. “Yang mengeluhkan gejala ada 114 orang, 14 di antaranya harus dirawat,” ujarnya kepada tim Satgas MBG Tasikmalaya. Angka itu bukan sekadar statistik mereka adalah wajah-wajah familiar yang biasa mengerjakan tugas di kelas, bercanda di koridor, atau berlatih drumband di lapangan.Dari total 861 siswa yang menyantap menu MBG hari itu, sebagian mulai merasakan keluhan serupa: mual yang tak tertahankan, pusing berputar-putar, hingga sesak napas yang membuat dada terasa diremas.
Beberapa siswa kelas 10, termasuk keponakan salah seorang warga yang melapor, dilarikan ke Puskesmas Cisayong dengan kondisi lemas tak berday].”Ponakan saya kelas 10, sekarang masih di puskesmas. Di sana ramai sekali,” tulis seorang pelapor melalui pesan langsung di media sosial, menggambarkan suasana Puskesmas Cisayong yang tiba-tiba dipenuhi seragam putih-biru siswa SMAN 1 Cisayong.
Menu yang Dicurigai
Dugaan sementara mengarah pada satu menu spesifik yang disajikan dalam program MBG, sup ayam dan buah melon. Kini, sampel dari kedua makanan tersebut telah diamankan dan sedang menjalani serangkaian uji laboratorium untuk memastikan kandungan bakteri atau zat berbahaya yang mungkin terlewat dalam proses pengawasan.Program MBG, yang digulirkan dengan anggaran triliunan rupiah dan harapan besar untuk mengurangi angka stunting serta meningkatkan konsentrasi belajar siswa, tiba-tiba berubah menjadi ancaman di meja makan sekolah. Ironisnya, program yang bertujuan memenuhi gizi justru membuat puluhan siswa kehilangan cairan tubuh dan tenaga karena muntah-muntah tak henti.
Respons dan Penyelidikan
Satgas MBG Kabupaten Tasikmalaya langsung bergerak cepat. Dalam keterangan resmi, mereka memastikan bahwa semua korban mendapat penanganan medis yang memadai, sementara penyedia makanan SPPG Salman Tasikmalaya—diberhentikan sementara (suspend) hingga hasil investigasi keluar.
“Korban MBG (makan beracun gratis),” tulis seorang warga di media sosial dengan nada kecewa yang mencerminkan luka kepercayaan publik terhadap program yang seharusnya menjadi solusi.
Bagaimana proses quality control yang dilakukan? Siapa yang bertanggung jawab memastikan setiap piring nasi yang sampai ke tangan siswa benar-benar aman dikonsumsi? Dan yang paling penting apakah ini hanya kecelakaan isolasi atau bagian dari masalah sistemik pengawasan program skala nasional?
Suasana di Puskesmas

Foto-foto yang beredar di media sosial menunjukkan pemandangan yang mengharukan: siswa-siswa berbaris di ruang tunggu Puskesmas Cisayong, beberapa terbaring lemas dengan infus menancap di tangan mereka, wajah pucat dan mata terpejam. Petugas medis bergerak cepat dari satu pasien ke pasien lainnya, mencoba menenangkan para remaja yang seharusnya sedang mengerjakan PR atau bersiap ujian semester.
Di tengah ramainya puskesmas, terdengar isak tangis orang tua yang bergegas datang setelah menerima telepon dari sekolah. “Dari siang sampai sekarang masih berdatangan,” tambah pelapor, menggambarkan betapa masifnya insiden ini.
Ekosistem Ketakutan
Kasus di SMAN 1 Cisayong bukanlah yang pertama. Beberapa bulan sebelumnya, catatan serupa pernah terjadi di berbagai daerah, menciptakan ekosistem ketakutan di kalangan orang tua. Program yang dirancang untuk mengurangi beban ekonomi keluarga justru menambah kekhawatiran baru: apakah anak saya akan selamat menyantap makan siang hari ini?
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak sekolah maupun Dinas Kesehatan Kabupaten Tasikmalaya mengenai penyebab pasti kejadian tersebut. Namun satu hal sudah jelas: 114 siswa telah menjadi korban, 15 di antaranya harus dirawat inap, dan satu sekolah harus merasakan trauma kolektif yang mungkin tak akan mudah dilupakan.Menanti Keadilan di Piring
Sementara sampel sup ayam dan melon masih diuji di laboratorium, para siswa SMAN 1 Cisayong berusaha pulih. Beberapa sudah bisa kembali ke rumah, namun trauma akan tetap tinggal. Program MBG, yang seharusnya menjadi simbol kepedulian negara terhadap generasi penerus, kini tercoreng di halaman sekolah yang berdiri megah di lereng Gunung Galunggung.Pihak berwenang berjanji akan melakukan investigasi menyeluruh. Namun bagi 114 siswa yang muntah-muntah di kelas, menahan sakit perut yang melilit, dan merasa sesak napas di tengah pelajaran janji itu datang terlambat. Mereka hanya ingin makan siang seperti hari biasa. Mereka hanya ingin pulih.Dan mereka pantas mendapatkan jawaban: mengapa program yang seharusnya menyelamatkan justru hampir merenggut mereka.
Fakta Terkini: Tanggal Kejadian: Rabu, 8 April 2026 Lokasi: SMAN 1 Cisayong, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat Total Korban: 114 siswa mengalami gejala Dirawat: 15 siswa (sempat dirawat di Puskesmas) Menu MBG yang Dicurigai: Nasi, sup ayam, tempe goreng, dan melon Tindakan: SPPG Salman Tasikmalaya disuspend, sampel makanan diuji lab.



















