Waktu Baca: 5 menit
Jakarta, pertengahan Februari 2026. Di sebuah ruang konferensi yang dingin oleh pendingin udara, para pejabat tinggi duduk berhadapan dalam jarak ribuan mil—secara virtual maupun langsung—menyaksikan sebuah momen bersejarah.
Dua kepala negara menekan pulpen mereka di atas dokumen bernama Agreement on Reciprocal Trade. Di satu sisi, Presiden Prabowo Subianto. Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump. Senyap sejenak, lalu jabat tangan diplomatik mengudara.
Di dalam naskah itu, terselip satu frasa yang kemudian menggerakkan denyut nadi para peternak ayam di pelosok negeri, impor live poultry dari Amerika Serikat.
“Kami Tak Akan Biarkan Peternak Tersingkir”
Sejak kabar itu merebak, kekhawatiran merayap di kandang-kandang ayam milik rakyat. Namun Haryo Limanseto, Juru Bicara Kemenko Perekonomian, buru-buru memasang pagar.
“Pemerintah tetap memprioritaskan perlindungan peternak dalam negeri,” ujarnya dalam pernyataan resmi yang dikutip Minggu (22/2/2026). Suaranya tenang, mencoba meredam riak di lapangan.
Ia menjelaskan, 580.000 ekor ayam yang akan datang dari AS bukanlah ayam potong biasa, melainkan Grand Parent Stock (GPS)—bibit unggul generasi pertama yang tak bisa diproduksi di dalam negeri. “Ini sumber genetik utama yang sangat dibutuhkan peternak,” katanya.
Nilai impornya? Sekitar 17-20 juta dolar AS. Bukan untuk membanjiri pasar, tapi untuk memperkuat industri dari hulu.
Daging Ayam Negeri Sendiri, Untuk Apa Impor?
Tapi publik tak hanya bertanya soal bibit. Di pasar tradisional, para ibu rumah tangga dan penjual bakso mulai resah,apakah daging ayam dari AS bakal membanjiri lapak-lapak mereka?
Haryo menjawab dengan hati-hati. Impor bagian ayam seperti leg quarters, dada, dan paha sejatinya sudah diatur ketat. “Sepanjang memenuhi syarat kesehatan dan kebutuhan tertentu, itu diperbolehkan,” katanya.
Namun yang lebih banyak masuk justru Mechanically Deboned Meat (MDM)—daging ayam yang dilumatkan mesin, menjadi bahan baku sosis, nugget, dan bakso. Setiap tahun, Indonesia mengimpor 120–150 ribu ton MDM. Angka yang tak bisa diabaikan oleh industri makanan dalam negeri.
Sejuta Ton Jagung, Seribu Ton Beras, Impor Lain di Meja yang Sama
Perjanjian itu tak hanya soal ayam. Di lembar yang sama, tertulis juga soal jagung dan beras.
Untuk jagung, akses dibuka bagi produk AS sebagai bahan baku industri makanan dan minuman. Sekitar 1,4 juta ton kebutuhan jagung industri tahun 2025—sebagian akan dipasok dari ladang-ladang Nebraska atau Iowa.
“Jagung AS punya spesifikasi mutu yang cocok untuk industri,” kata Haryo. Industri makanan-minuman ini, lanjutnya, menyumbang 7,13 persen PDB dan mempekerjakan 6,7 juta orang. Angka yang membuat pemerintah berpikir ulang sebelum menutup keran impor.
Sedangkan beras? Hanya 1.000 ton dari AS. Jika dibandingkan dengan produksi nasional 2025 yang mencapai 34,69 juta ton, angka itu bagai setetes dalam ember. “Tidak signifikan,” ujar Haryo. “Dan realisasinya tetap tergantung permintaan dalam negeri.”
Tapi mengapa AS ngotot menjual produk pertaniannya ke Indonesia? Jawabannya ada di meja negosiasi tarif.
Sejak April 2025, AS mengancam mengenakan tarif resiprokal 32 persen untuk produk Indonesia. Negosiasi alot terjadi. Hingga akhirnya, angka itu turun jadi 19 persen. Sebagai imbalannya, Indonesia membuka akses untuk sejumlah komoditas AS, termasuk ayam, jagung, dan beras.
“90 persen dokumen yang kami kirim, diterima AS,” kata Menko Perekonomian Airlangga Hartarto, dengan nada sedikit lega.
Yang menarik, di sisi lain, Indonesia justru mendapat keringanan. Minyak sawit, kopi, kakao, hingga komponen elektronik asal RI bebas tarif masuk AS. Tekstil dan garmen dapat tarif nol persen, meski dengan kuota.
“Ini manfaat bagi 4 juta pekerja tekstil dan 20 juta jiwa keluarganya,” tambah Airlangga.
Suara dari Kandang
Kembali ke kandang ayam. Di sebuah desa di Jawa Timur, peternak bernama Sukirman masih memegang erat ponselnya. Ia membaca berita-berita impor dengan alis berkerut.
“Katanya ayam ini buat bibit, bukan buat dipotong,” katanya. “Tapi kalau nanti anak-anak ayam ini besar, siapa yang beli? Peternak lokal atau malah industri besar?”
Pertanyaan Sukirman adalah gema dari ribuan peternak lain. Pemerintah menyebut kebijakan ini untuk menjaga keseimbangan. Tapi di lapangan, keseimbangan adalah hal yang rapuh. Harga bisa jatuh dalam sekejap jika pasokan membeludak.
Perjanjian telah diteken. Angka-angka telah diumumkan. Kini semua mata tertuju pada eksekusi.
Akankah 580.000 ekor ayam bibit itu benar-benar memperkuat industri perunggasan nasional? Ataukah ini hanya babak baru dari drama panjang impor pangan yang kerap menyisakan cerita pahit bagi peternak kecil?
Pemerintah berjanji tak akan mengorbankan peternak lokal. Tapi di kandang-kandang sederhana, para peternak hanya bisa berharap—dan bersiap—menyambut ayam-ayam dari negeri Paman Sam yang sebentar lagi mengepakkan sayapnya di langit Nusantara.
Sumber : Tulisan di adaptasi dari berbagai sumber di internet mengenai Impor Ayam AS



















