Waktu baca: 3 menit
Porostasik.com – Tasikmalaya — Tersembunyi di balik gerbang berwarna biru langit di Jalan Bantar, Kelurahan Bantarsari, sebuah makam tua berdiri tegar di bawah naungan pohon raksasa yang akarnya telah menembus abad. Makam Eyang Dalem Adipati Sakarembong bukan sekadar gundukan tanah berbatu nisan; ia adalah saksi bisu pertemuan dua kerajaan besar Mataram dan Sumedang Larang yang melahirkan salah satu tokoh penyebar Islam paling berpengaruh di Priangan, namun namanya jarang tercatat dalam buku-buku sejarah formal.
Sang Putri yang Menyandang Nama Lain
Nama aslinya adalah Ratu Cempaka, putri dari Kerajaan Mataram yang menikah dengan Prabu Dilaya dari Kerajaan Sumedang Larang. Dalam silsilah kerajaan, ia adalah bagian dari dinasti yang menghubungkan dua kekuasaan besar di Pulau Jawa. Pernikahan ini bukan sekadar aliansi politik, melainkan misi dakwah yang membawa cahaya Islam ke pelosok Priangan.
Bersama sang suami, Ratu Cempaka kemudian dikenal sebagai Eyang Adipati Sakarembong menyebarkan ajaran Islam kepada masyarakat sekitar. Seperti banyak kisah wali lainnya, perjalanan dakwahnya tak berjalan mulus. Konflik keluarga yang berujung pada kematian tragis menjadi puncak pengorbanan sang tokoh, menjadikan makamnya bukan hanya tempat peristirahatan terakhir, melainkan simbol ketahanan spiritual masyarakat Tasikmalaya.
Mata Air yang Tak Pernah Kering
Di bagian utara kompleks makam, tersembunyi sumber mata air yang disebut Cai Karomah. Konon, air ini dipercaya tidak pernah kering, bahkan ketika musim kemarau panjang melanda Priangan. Bagi warga setempat, air bukan sekadar H₂O mengalir ia adalah manifestasi karomah sang eyang yang terus memberi berkah dari alam kuburnya.
Tradisi ngalap berkah telah berlangsung berabad-abad di sini. Para penziarah datang dengan harapan: membuka jalan rezeki, mempermudah urusan hidup, hingga mendapatkan perlindungan batin. Makam ini menjadi ruang meditasi urban tempat di mana kebisingan kota Tasikmalaya mereda, digantikan desiran daun dan bisikan doa.
Cagar Budaya yang Terlupakan ?
Meski diakui sebagai tokoh penyebar agama Islam dan memiliki pengaruh kuat terhadap ketahanan sosial masyarakat, Makam Eyang Dalem Sakarembong masih menunggu perhatian serius dari pemerintah. Berbeda dengan makam-makam wali lainnya yang telah menjadi destinasi wisata religi terorganisir, kompleks ini tetap sederhana—dikelilingi pohon tua dan suasana sepi yang menyimpan banyak cerita.
Bagi masyarakat Tasikmalaya, ia adalah penjaga spiritual yang masih “hidup” melalui Cai Karomah dan tradisi ziarah. Bagi para pengunjung yang datang mencari ketenangan dan refleksi diri, ia adalah bukti bahwa sejarah tak selalu tertulis di kitab kadang, ia mengalir seperti air, tak terlihat namun tak pernah habis.
@malaya.project Membalas @palupi.sobarilah Di balik tenangnya Kota Tasik, tersimpan kisah yang tak banyak orang tahu… Makam Eyang Adipati Sakarembong, sosok yang diyakini sebagai penyebar Islam dan penjaga ketenangan batin masyarakat sekitar. Dari cerita Ratu Cempaka hingga konflik tragis yang mengiringi hidupnya, tempat ini bukan sekadar makam biasa. Ada Cai Karomah yang konon tak pernah kering, dan tradisi ngalap berkah yang masih dijalankan hingga kini… Tempat sunyi, penuh doa, dan menyimpan banyak misteri. Kalau kamu ke Tasik, berani mampir ke sini? 👀 Follow untuk kisah menarik lainnya yang belum banyak terungkap! #tasikmalaya #kisahmistis #sejarahindonesia #ziarah #makamkeramat ♬ suara asli – MALAYA PROJECT | CERITA SERU
Sumber : tiktok @malaya.project



















