Waktu baca: 4 menit

Di balik tembok tebal Lapas Khusus Kelas IIA Gunung Sindur, Bogor, denyut kreativitas tidak berhenti. Kamis, 21 Januari 2026, suasana di area pembinaan berubah menjadi mini konser spontan. Lagu dengan irama ceria dan beat mengajak bergoyang baru saja diputar perdana. Para warga binaan lainnya ikut berjoget riang, menyaksikan dua rekan mereka, Zul Zivilia dan Putri Ajeng (PJ) eks 7Icons, meluncurkan single kolaborasi bertajuk “Sabar-Sabar Ade”.

Yang membuat momen ini luar biasa adalah lokasinya. Ini bukan sekadar perilisan lagu, melainkan bukti nyata bahwa kreativitas dapat tumbuh di mana saja—bahkan dari balik jeruji besi. Kolaborasi ini mempertemukan dua musisi yang sama-sama menjalani masa pembinaan di lembaga pemasyarakatan berbeda.

Proses Kreatif di Tengah Keterbatasan

Kolaborasi lintas lapas ini tidak mudah diwujudkan. Zul Zivilia berada di Lapas Gunung Sindur, sementara Putri Ajeng menjalani masa hukumannya di Lapas Kelas IIA Tangerang. Proses kreatif harus menembus sekat fisik dan birokrasi.

Rekaman Kilat dan Koordinasi Rumit· Lokasi Rekaman: Studio musik di Lapas Khusus Kelas IIA Gunung Sindur· Metode: Hybrid recording, demo musik dikirim ke Tangerang· Sesi Rekaman: Semua rampung dalam satu hari; pagi take vokal, siang syuting video klip· Tantangan Utama: Perizinan lintas wilayah (Kanwil Banten & Jawa Barat) yang kompleks.

Keduanya hanya bisa berkomunikasi terbatas melalui bantuan petugas. Zul mengirimkan demo musik ke Tangerang untuk dipelajari Putri Ajeng. Proses rekaman vokal dan syuting video klip kemudian dilakukan dalam satu hari saat Putri Ajeng diizinkan ke Gunung Sindur, memanfaatkan momentum dengan efisien.

Makna dan Refleksi

“Sabar-Sabar Ade” bukan sekadar lagu ceria. Liriknya bercerita tentang sepasang kekasih yang menunda pernikahan karena sang pria sedang berusaha mencari nafkah, meminta sang kekasih untuk setia menanti. Tema ini memiliki resonansi khusus bagi para pembuatnya yang juga sedang dalam masa penantian dan perjuangan pribadi.Zul sengaja keluar dari zona nyamannya di musik pop melayu. Ia menciptakan aransemen yang lebih mengikuti tren terkini, dengan nuansa musik Indonesia Timur yang sedang digandrungi, untuk mengajak pendengar bergoyang. Baginya, ini adalah cara tetap terhubung dengan dunia luar dan perkembangan industri musik.Bagi Putri Ajeng, kolaborasi ini adalah angin segar. Ia menyanggah stereotip kehidupan penjara yang monoton. “Jadwalku padat banget, ada menari, menyanyi, sampai pembinaan kepribadian. Malah lebih sibuk daripada waktu aku masih di 7Icons dulu,” ujarnya.

Pembinaan yang Memberdayakan

Kolaborasi ini mendapat apresiasi dari pejabat Ditjen Pemasyarakatan. Maulidi Hilal, Direktur Teknologi Informasi dan Kerja Sama Pemasyarakatan, menyatakan ini sebagai kolaborasi pertama antar-lapas yang melibatkan warga binaan. Ia menegaskan bahwa negara memang memenjarakan fisik, tetapi pikiran dan kreativitas justru harus dibuka seluas-luasnya.Karya ini merupakan bagian dari program pembinaan berbasis industri kreatif yang bertujuan mempersiapkan warga binaan agar mandiri secara ekonomi saat kembali ke masyarakat. Lapas Gunung Sindur bahkan menyediakan studio musik, di mana Zul juga menyumbangkan speaker dan komputernya untuk mendukung produksi.

Musik sebagai Jalan Perubahan dan Nafkah

Bagi Zul, berkarya di penjara memiliki makna mendalam. Di balik jeruji, fokusnya telah bergeser. “Dulu di luar otaknya narkoba-narkoba terus. Kalau sekarang saya pikirkan gimana saya bisa biayain keluargaku,” tuturnya.Royalti dari lagu-lagunya, termasuk yang populer seperti “Aishiteru 3”, ia manfaatkan untuk menafkahi keluarga, terutama membiayai pendidikan anaknya setahun di muka.

Agar royalti langsung diterima keluarga, semua lagu yang diciptakannya di lapas didaftarkan atas nama istrinya, Retno Paradinah.Zul, yang divonis 18 tahun pada 2019 dan telah menjalani hampir 7 tahun, serta Putri Ajeng, yang menjalani vonis 3,5 tahun, sama-sama melihat karya ini sebagai bagian dari komitmen memperbaiki diri. “Saya ingin membuktikan kalau saya bisa jadi orang yang lebih baik lagi saat nanti kembali ke masyarakat,” tutup Zul.“Sabar-Sabar Ade” akhirnya lebih dari sekadar single. Ia adalah simbol harapan, potongan narasi tentang rehabilitasi yang humanis, dan bukti bahwa di balik keterbatasan paling keras sekalipun, melodi kehidupan—dan kesempatan untuk bangkit—tetap dapat mengalir.