Malam itu, langit sore di Desa Cinangsi masih berwarna jingga pucat ketika aku terbangun dari mimpi yang anehnya terasa begitu nyata. Keringat tipis membasahi pelipisku, napasku sedikit tersengal. Dalam mimpi itu, aku berdiri di depan gitar akustik kesayanganku yang sudah tua, senarnya putus satu per satu seperti urat nadi yang lepas. Bunyinya sudah tak lagi merdu, hanya dengung kosong yang menyedihkan.Aku tahu, gitar itu harus diganti senarnya. Sudah lama aku menunda-nunda, tapi sore itu, mimpi seolah memaksa:
*sekarang*.
Dengan hati yang masih setengah di alam mimpi, aku membayangkan diriku berjalan menyusuri jalan setapak menuju warung kecil di ujung desa. Matahari mulai condong ke barat, debu tanah halus mengepul di bawah sandal jepitku. Warung itu sederhana, atapnya dari seng berkarat, rak-rak kayu penuh barang seadanya. Di balik meja, Pak Min, tukang warung yang sudah tua, menyambutku dengan senyum lesu.“Senar gitar, Pak?” tanyaku, suaraku masih agak serak karena baru bangun.Pak Min mengangguk pelan. Ia membungkuk, mengeluarkan beberapa plastik kecil dari laci bawah. “Ada yang ini, Mas. Satu set cuma dua puluh ribu. Bagus kok, cukup buat main santai.”Dua puluh ribu.Kata-kata itu terasa seperti tamparan ringan. Aku menatap plastik bening itu dengan kecewa yang mendalam.
Senar itu memang terlihat biasa saja kilapnya kurang, mereknya tak kukenal. Bukan yang aku inginkan. Di kepalaku, aku sudah membayangkan senar premium yang harganya empat puluh ribu satu set. Yang mereknya terkenal, yang bunyinya jernih, sustain-nya panjang, dan sentuhannya begitu halus di jari. Senar yang bisa membuat gitar tua ini bernyanyi lagi seperti dulu, seperti saat aku masih sering ngamen di jalanan atau sekadar bernyanyi sendirian di kamar kos.Aku sangat menginginkannya. Begitu menginginkannya hingga dada ini terasa sesak.
Tapi tanganku sudah merogoh kantong celana. Jari-jari menyentuh lembaran uang yang sudah tipis. Empat puluh ribu—itu yang tersisa dari uang saku minggu ini. Tapi ketika aku menghitung lagi, ternyata hanya tiga puluh lima ribu. Lima ribu rupiah telah lenyap tadi pagi, habis untuk dua batang rokok filter yang kuisap sambil memandang langit mendung.
Tiga puluh lima ribu.Cukup untuk senar murahan dua puluh ribu itu, lalu sisanya buat… entah apa. Mungkin secangkir kopi hitam, atau sebatang rokok lagi. Tapi tidak cukup untuk senar impianku.Aku berdiri di sana, diam, memandangi plastik senar dua puluh ribu itu seperti sedang berhadapan dengan pilihan hidup yang kecil tapi menusuk. Di satu sisi, aku bisa membeli yang murah sekarang, memasangnya malam ini juga, dan gitarku bisa bernyanyi lagi meski tak sempurna. Di sisi lain, ada keinginan yang lebih dalam: ingin yang terbaik, yang pantas untuk lagu-lagu yang selama ini kutulis di tengah malam, untuk melodi yang lahir dari rasa sepi dan harapan.















