Pak Min menatapku sabar, menunggu keputusan.Angin sore berhembus pelan, membawa bau tanah basah dan asap rokok dari warung sebelah. Aku menarik napas dalam-dalam.Mimpi tadi sore itu seolah meninggalkan bekas yang aneh. Bukan sekadar soal senar gitar. Tapi tentang pilihan antara cukup dan yang benar-benar diinginkan. Antara apa yang mampu kubeli hari ini, dan apa yang layak untuk masa depan suara hatiku.Akhirnya, dengan suara pelan, aku bertanya kepada Pak Min,“Pak… yang empat puluh ribu-nya ada stok nggak? Besok saya bisa ke sini lagi kalau perlu nabung dulu.”Pak Min tersenyum tipis, menggeleng pelan.“Yang mahal itu jarang laku di sini, Mas. Tapi kalau mau nunggu, besok sore saya pesanin.

“Aku mengangguk. Kantongku tetap ringan, gitar di rumah tetap bisu. Tapi di dada, ada api kecil yang menyala lagi.Besok, aku akan kembali. Entah dengan uang yang pas, atau hanya dengan tekad yang lebih kuat.Karena kadang, mimpi bukan hanya soal melihat apa yang rusak. Tapi juga mengingatkan kita pada apa yang masih layak diperjuangkan.

setelah meninggalkan warung Pak Min dengan hati yang masih berat , aku memutuskan untuk tidak menunggu besok. Dengan sisa tiga puluh lima ribu di kantong, aku akhirnya memilih senar yang dua puluh ribu itu. Bukan karena aku puas, tapi karena jari-jemariku sudah gatal ingin menyentuh senar baru, ingin mendengar bunyi yang setidaknya mendekati melodi yang lama hilang.Sesampainya di tempat kost , cahaya senja sudah mulai memudar. Aku duduk di teras kecil berkarpet usang, gitar tua itu tergeletak di pangkuanku seperti sahabat lama yang sedang sakit.

Satu per satu, senar lama kulepas dengan hati-hati. Bunyinya yang putus terdengar seperti erangan pelan. Lalu, dengan teliti, aku memasang senar baru itu. Jari-jemariku bergerak pelan, memilin, menarik, menyetel. Nada demi nada kuatur ulang.Ketika senar terakhir terpasang dan aku memetik pelan string pertama, bunyi yang keluar masih jauh dari sempurna, tapi sudah ada kehidupan di dalamnya. Getarannya merambat ke dada, hangat, meski belum jernih seperti yang kuharapkan.

Aku tersenyum kecil. Setidaknya malam ini, gitar ini tidak lagi bisu.Waktu merangkak pelan menuju magrib. Langit di ufuk barat berubah menjadi ungu keemasan, lalu perlahan memudar menjadi biru tua. Udara mulai sejuk, bercampur bau tanah dan dedaunan basah setelah gerimis sore tadi.

Tiba-tiba, dari kejauhan terdengar suara tawa riang dan langkah langkah kaki kecil yang berlarian. Anak-anak kampung Cinangsi, berusia enam hingga sepuluh tahun, berlari-lari kecil menuju masjid yang terletak tak jauh dari rumahku. Baju koko mereka agak kusut, peci hitam miring di kepala, tapi wajah mereka penuh semangat. Beberapa di antaranya masih membawa mainan plastik di tangan, tapi segera dilemparkan begitu saja ke rumput saat mendengar panggilan.

Anak-anak kampung Cinangsi, berusia enam hingga sepuluh tahun, berlari-lari kecil menuju masjid yang terletak tak jauh dari tempat kos. Baju koko mereka agak kusut, peci hitam miring di kepala, tapi wajah mereka penuh semangat. Beberapa di antaranya masih membawa mainan plastik di tangan, tapi segera dilemparkan begitu saja ke rumput saat mendengar panggilan.

“Mau sholawat dulu yuk!” seru salah seorang di antara mereka dengan suara cempreng.Mereka berkumpul di serambi masjid yang sederhana, duduk bersila di tikar hijau yang sudah usang. Suara mereka yang masih lugu mulai mengalun pelan, melantunkan sholawat Nabi.Allahu sholli ‘alaa Muhammad…Nada-nada itu mengambang di udara magrib, lembut, polos, dan penuh keikhlasan. Suara anak-anak itu bercampur menjadi satu, naik-turun seperti ombak kecil yang menyapa pantai hati. Tak lama kemudian, azan magrib bergema dari speaker masjid yang agak serak. Suara muadzin yang sudah tua itu menyatu indah dengan sholawat yang masih terus berkumandang.