Aku duduk diam di teras, gitar masih di pangkuan. Petikan jemariku berhenti.Di sudut hati yang paling kecil, yang jarang kukunjungi akhir-akhir ini, ada bisikan pelan yang muncul begitu saja:Sudah cukup lama kekosongan hati ini tak tersiram air pencerahan jiwa.Kata-kata itu terasa seperti jarum halus yang menusuk tanpa sakit, tapi meninggalkan getaran panjang.

Sudah berapa bulan aku hanya sibuk dengan senar, dengan lagu-lagu yang kutulis saat gelisah, dengan rokok dan mimpi-mimpi kecil yang tak kunjung terwujud? Sudah berapa lama aku lupa duduk tenang, mendengarkan panggilan yang lebih dalam daripada bunyi gitar?Sholawat anak-anak itu masih mengalun, semakin khusyuk saat azan mulai naik ke bagian “Hayya ‘alas sholah… Hayya ‘alal falah…”Aku menunduk, memandang senar baru yang masih mengkilap samar di bawah cahaya lampu teras. Gitar ini memang sudah bernyanyi lagi, tapi hati ini… masih banyak senar yang putus di dalamnya.

Angin magrib berhembus lembut, membawa aroma wangi tanah dan suara sholawat yang semakin merdu. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, aku merasa ada sesuatu yang lebih besar dari keinginan memiliki senar premium empat puluh ribu.Ada kerinduan yang lebih dalam.Aku meletakkan gitar perlahan di samping kursi, berdiri, dan melangkah pelan menuju masjid. Langkahku ringan, meski dada terasa berat oleh kesadaran yang baru saja bangun.Malam ini, mungkin gitar bisa menunggu.Malam ini, hati yang lama kosong itu butuh disiram dulu.

Bersambung lagi mikir dulu 👨‍💻

By Mang Asuy