Waktu Baca : 5 menit
YOGYAKARTA — Namanya panjang: Gusty Anggara Sheeba Kingkeane. Tapi panggilan akrabnya sederhana: Agus. Dan kini, di panggung-panggung kecil kafe Yogyakarta, ia dikenal sebagai Gusarasa—nama panggung yang ia sematkan pada seluruh risau, asa, dan lagu yang ia cipta.

Tangan Agus bergerak pelan memetik senar gitar akustik di sudut kafe yang temaram. Suaranya mengalir seperti percakapan larut malam, hangat, tak menggurui, tapi mengendap.
Di usianya yang baru 19 tahun, mahasiswa Universitas Islam Indonesia (UII) ini tengah menyiapkan sebuah tonggak. Pertengahan Februari 2026, mini album perdananya berjudul Jejak akan dirilis secara digital. Lima lagu. Lima kisah. Dan satu mimpi yang sejak SMA ia rawat.

Dari Tangerang ke Jogja, Gitar Tak Pernah Lepas
Sebelum Jogja mengenalnya sebagai Gusarasa, Agus kecil di Tangerang sudah akrab dengan senar dan nada. Sejak SMA, ia mulai menghabiskan malam-malamnya di kafe-kafe pinggir kota—bukan sebagai pengunjung, tapi pengamen panggung yang membayar rasa percaya diri dengan keringat.
“Dulu di Tangerang main di kafe kecil-kecilan. Kadang cuma tiga orang yang dengerin. Ya tetap jalan,” katanya, tertawa.
Tapi Jogja punya caranya sendiri merawat anak seni. Agus yang datang sebagai mahasiswa, perlahan menemukan panggung baru. Kafe-kafe di Sleman hingga pusat kota Yogyakarta mulai jadi saksi. Dari satu pertunjukan ke pertunjukan lain, ia bertemu dengan musisi-musisi jalanan yang nasibnya serupa, tak punya label besar, tapi penuh lagu yang ingin didengar.
Di kampus, Agus aktif di organisasi musik bersama teman-temannya. Diskusi larut, jam session dadakan, hingga gagasan bikin album mulai mengkristal.
Jejak,Bukan Sekadar Album, Tapi Catatan Perjalanan
Pertengahan 2025, Agus memutuskan masuk studio. Bukan studio mentereng dengan segudang perangkat canggih—tapi Studio Doni Ryu, tempat yang cukup hangat untuk menuangkan segala ide yang selama ini mengendap.
Mini album itu dinamainya Jejak. Seperti judulnya, ia ingin meninggalkan tanda.
Lima lagu mengisi album ini: Debu Semesta, Langasa (Langit Asa), Pelebur Lara, Jejak, dan Kelu. Semua ditulis dari pengalaman yang bergerak—tentang perjalanan hidup, perjuangan, dan tentu saja, cinta.
“Semua lagu itu kayak diari. Ada yang sedih, ada yang marah, ada yang pasrah,” ujar Agus pelan.
Dua lagu di antaranya istimewa karena lahir dari kolaborasi dengan teman-teman dekat. Di Pelebur Lara, Gusarasa menggandeng Eiffel, sahabat yang kerap menemani proses kreatifnya. Sementara di Kelu, Zahra hadir dengan suara lembut yang melengkapi petikan gitar Agus.
Nuansa akustik mendominasi. Sederhana, mudah dicerna, dan—seperti ia sendiri menyebutnya—”tidak berisik”. Agus tertawa saat mengatakan itu.
“Mungkin musiknya memang kayak ngobrol biasa. Tapi kadung nyaman.”

Gusarasa Management
Di balik formasi solois ini, ada tim kecil yang menguatkan. Mereka menyebut diri Gusarasa Management. Ishaq NST, Hardi Savakustik, Eiffel, dan Fadel—adalah wajah-wajah yang sibuk di belakang layar: mengatur jadwal manggung, mendesain sampul, hingga negosiasi rilis digital.
“Mereka bukan manajemen dalam arti formal. Tapi mereka yang pertama percaya lagu-lagu saya layak didengar,” kata Agus.
Keyakinan itu perlahan menemukan jalannya. Pertengahan Februari 2026, mini album Jejak akan dirilis secara digital bekerja sama dengan MF Music Group. Dari panggung kafe, kini suara Gusarasa siap menjangkau lebih banyak telinga.
Bukan Sekadar Selesai
Di akhir obrolan, Agus terdiam sejenak. Malam itu, kafe mulai sepi. Di luar, hujan rintik membasahi aspal Jogja. Ia memetik senar gitarnya sekali lagi—pelan, seperti enggan pergi.
“Saya nggak tahu album ini bakal didengar berapa orang. Tapi saya sudah mulai. Dan rasanya, nggak akan berhenti di sini.”
Jejak memang baru lima lagu. Tapi bagi Gusarasa, itu bukan akhir. Hanya satu pijakan kecil sebelum melangkah lebih jauh.
Di kota yang ribuan musisi lahir setiap tahun, Agus mencoba tak sekadar lewat. Ia ingin meninggalkan jejak yang—meski kecil—cukup dalam untuk dikenang.



















