Waktu Baca : 4 menit
Bila nama Persib Bandung disebut, yang terngiang adalah gemuruh “Bobotoh” di Stadion Gelora Bandung Lautan Api, biru-putih yang membakar, dan julukan “Maung Bandung”. Di balik sorot lampu stadion dan drama 90 menit di lapangan hijau, ada satu sosok yang langkahnya kerap senyap menentukan, “Glenn Sugita”. Bukan sekadar pemilik klub, pria kelahiran 1968 ini adalah seorang navigator ulung yang mengemudikan kapal besar bernama Persib melalui gelombang krisis, tekanan politik sepak bola nasional, dan desakan hati ribuan suporter.
Dari Dunia Korporasi ke Hati Lapangan Hijau
Jauh sebelum namanya lekat dengan jersey Persib, Glenn Sugita telah membangun imperiumnya di dunia yang tampak berseberangan, finansial dan ritel. Sebagai salah satu pendiri Northstar Group dan pernah duduk di kursi komisaris Alfamart, ia adalah ahli dalam membaca angka, struktur manajemen, dan logika pasar. Di balik naluri bisnis yang tajam itu, tersimpan gairah lama, tenis yang pernah dibawanya ke tingkat nasional dan, yang lebih dalam, cinta pada sepak bola.
Pada 2009, ia memutuskan untuk tidak lagi sekadar menonton dari tribun. Pengambilalihan Persib bukan sekadar akuisisi bisnis, itu adalah perpindahan haluan hidup. Ia membawa presisi dunia korporat ke dalam kabin ke pelatihan dan ruang direksi, merekat tangan-tangan profesional seperti Teddy Tjahjono dan Umuh Muchtar. Visinya jelas, membangun fondasi manajemen yang kokoh sebagai landasan ambisi sportif.
Menjembatani Antara Tahta Nasional dan Semangat Bobotoh
Karier sepak bolanya mencapai puncak formal ketika ia dipercaya mengemban amanah di tingkat nasional, duduk sebagai Komisaris Utama PT LIB. Namun, justru di puncak itulah ujian terberat menghantam. Tragedi berdarah di GBLA pada 2018 bukan hanya duka kolektif, itu adalah krisis eksistensial. Persib terpuruk, dihukum bermain tanpa dukungan suporter nyawa klub itu sendiri.
Di sinilah narasi Glenn Sugita berubah dari eksekutif menjadi sosok yang terjepit antara loyalitas. Desakan keras dari Bobotoh, jantung Persib yang berdarah, menggema, “Kembalilah, fokuslah pada Maung Bandung!” Tekanan itu bukan sekadar permintaan, itu adalah seruan hati nurani klub. Keputusannya untuk mengundurkan diri dari PT LIB pada Oktober 2018 adalah sebuah pernyataan politik yang gamblang. Ia memilih hati daripada tahta, memilih tangisan Bobotoh di tribun kosong daripada kursi berkuasa di kantor federasi. Itu adalah momen yang mendefinisikan,dia adalah orang Persib, sebelum menjadi eksekutif sepak bola nasional.
Warisan: Kekayaan yang Tak Terukur oleh Triliunan
Pemberitaan kerap menyebut angka fantastis, hingga Rp 27,8 triliun, sebagai ukuran kekayaannya. Namun, bagi warga Bandung dan para Bobotoh, warisan Glenn Sugita yang sesungguhnya tak tertera di laporan keuangan. Warisannya adalah keteguhan saat klub terpuruk, keberanian untuk memilih sisi ketika terjepit, dan komitmen untuk membangun fondasi, meski hasilnya tak selalu instan terlihat di papan skor.
Kembalinya ia ke kursi Komisaris PT LIB pada 2025 membuktikan bahwa pengalamannya dihargai. Glenn Sugita tetap menjadi sosok kompleks: seorang korporat yang jatuh cinta pada klub, seorang nasionalis yang tak mau mengkhianati akar lokalnya. Ia adalah arsitek yang terus membangun, bukan di atas lapangan rumput, tetapi di dalam labirin kekuasaan, gairah, dan tanggung jawab yang mengitarinya. Di stadion yang sunyi atau yang bergemuruh, langkah Glenn Sugita tetap menjadi penentu arah laju “Maung Bandung”.



















