Waktu baca: 3 menit

JAKARTA — Sore itu, aroma asap knalpot dan suara klakson yang biasa mengisi Jalan Gunung Sahari tiba-tiba pecah oleh teriakan histeris. Sebuah Toyota Calya hitam, seperti banteng yang kehilangan arah, menerobos lawan arah dengan kecepatan tak wajar, menciptakan adegan kejar-kejaran yang lebih mirip film laga ketimbang realita lalu lintas ibu kota.Pukul setengah lima sore, Rabu (25/2/2026), HM—pengemudi berinisial tersebut—membuat keputusan yang mengubah hari biasa menjadi tragedi. Ketika dua polisi lalu lintas menghentikan mobilnya karena mencurigai penggunaan pelat nomor palsu D-1640-AHB, logika seharusnya sederhana, berhenti, kooperatif, selesai. Namun rasa takut, entah ditambah apa, membuat HM memilih jalan lain—jalan yang salah.

Mobil itu melarikan diri, menyusup ke Jalan Gunung Sahari, lalu melawan arah dari selatan ke utara di jalan Bungur Besar. Seperti tikus dalam labirin, HM berputar-putar, belok kiri di simpang Bungur, lurus melawan arah di Jalan Pos, lalu berputar balik ke simpang empat Menara Bidakara Alfa Land. Setiap putaran, setiap meter yang ditempuh, adalah pertaruhan nyawa.Kemudian, benturan.Sebuah sepeda motor tidak sempat menghindar. Perempuan bernama NH, warga Cengkareng, Jakarta Barat, terserempet dan terjatuh dengan luka-luka. Di dekatnya, motor lain ringsek di bagian depan dan bodi samping kanan. Toyota Calya yang dikemudikan HM pun tak luput dari kerusakan—bodi samping kanan penyok, kaca belakang hancur berkeping-keping.Namun yang membuat insiden ini berbeda adalah reaksi massa.



Video yang beredar di media sosial, termasuk di akun @lintasjakartaupdate, merekam momen dramatis: mobil hitam itu dikejar puluhan pengendara motor, beberapa melemparkan helm ke arah kaca yang sudah retak, yang lainnya meneriaki dan mengepung. Di tengah kemacetan Jakarta yang biasanya membuat orang pasrah, kali ini warga berubah menjadi “penegak hukum dadakan.”Kapolres Metro Jakarta Pusat, Kombes Pol Reynold Hutagalung, memastikan tidak ada korban jiwa dalam insiden ini. “Ada seorang korban dilaporkan mengalami luka-luka,” ujarnya di Kantor Polsek Tanah Abang, Rabu malam.

Namun yang lebih membuat penasaran adalah pertanyaan, mengapa HM begitu nekat?Jawabannya mungkin sederhana—ketakutan akan tertangkap menggunakan pelat palsu. Tapi konsekuensinya kompleks: satu orang terluka, properti rusak, dan seorang pengemudi yang kini menghadapi jerat hukum jauh lebih berat daripada jika ia berhenti saat diperiksa polisi.Kini, HM menunggu tes urine. Apakah ada zat lain yang mengaburkan penilaiannya sore itu? Polisi masih menyelidiki. Yang pasti, kaca pecah di Jalan Gunung Sahari telah menjadi cermin, kadang, lari dari masalah kecil justru membawa kita bertabrakan dengan bencana besar.