Waktu baca: 4 menit

Suara alarm otomatis itu memecah kesunyian udara Manama pada Sabtu siang, 28 Februari 2026. Peringatan yang sama terdengar di ponsel warga, di speaker pangkalan militer, dan di udara kota yang biasanya tenang. Dalam hitungan menit, langit biru Teluk Persia berubah menjadi panggung pertempuran.Di sebuah kendaraan yang melintas di dekat kawasan Juffair, seorang warga merekam momen yang kemudian viral di media sosial. Video tersebut menunjukkan sebuah rudal menghantam area dekat markas Armada Kelima Angkatan Laut AS—salah satu fasilitas militer Amerika yang paling vital di Timur Tengah.”Oh my God, oh my God,” terdengar teriakan penumpang di dalam mobil saat bola api dan asap hitam tebal membubung ke udara, menyelimuti gedung-gedung pencakar langit Manama yang biasanya menjadi simbol kemakmuran Bahrain.

Jantung Armada AS di Ujung Rudal

Bahrain bukan sekadar sekutu AS di Teluk Persia. Negara kepulauan kecil ini adalah rumah bagi Markas Besar Armada Kelima Angkatan Laut AS—pusat komando operasi laut Amerika di kawasan yang mencakup Laut Merah, Teluk Persia, hingga Samudra Hindia. Sekitar 8.300 personel Angkatan Laut AS bertugas di sini, bersama ratusan keluarga mereka. Ini adalah salah satu postingan “berkeluarga” (accompanied tour) yang langka di kawasan konflik .Tasnim News Agency, outlet media yang berafiliasi dengan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), dengan cepat mengklaim serangan tersebut sebagai bagian dari balasan atas “Operasi Epic Fury”—serangan gabungan AS-Israel yang dilancarkan sekitar pukul 00.30 dini hari waktu setempat .Menurut Reuters, pusat layanan Armada Kelima memang menjadi “sasaran serangan rudal” . Video yang terverifikasi oleh beberapa outlet media menunjukkan momen dramatis saat rudal menghantam dekat pangkalan angkatan laut, meninggalkan kepulan asap yang membubung tinggi.

Dari Bahrain hingga Seluruh Kawasan Teluk

Serangan di Bahrain bukanlah yang satu-satunya. Iran melancarkan gelombang serangan terkoordinasi terhadap fasilitas militer AS di seluruh kawasan Teluk—menandai eskalasi militer yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam konflik AS-Iran.Menurut laporan resmi, target-target tersebut meliputi:

Pangkalan Udara Al Udeid di Qatar – markas maju Komando Sentral AS (CENTCOM) yang menampung ribuan pasukan Amerika Pangkalan Udara Al Dhafra di UEA – fasilitas strategis di Abu Dhabi .

Pangkalan Al Salem di Kuwait – dekat Bandara Internasional Kuwait Wilayah udara Yordania dan Arab Saudi – yang juga menjadi sasaran rudal balistik .

Di Qatar, sistem pertahanan udara berhasil mengintersepsi sejumlah serangan yang ditujukan ke pangkalan Al Udeid .

Sementara di UEA, rudal dan serpihan intersepsi jatuh di area permukiman di Abu Dhabi dan kawasan Palm Jumeirah Dubai, menewaskan satu warga sipil berkebangsaan Asia dan melukai beberapa orang lainnya.



Suasana di Markas Komando

Di Washington, Presiden Donald Trump memantau perkembangan dari Mar-a-Lago di Palm Beach, Florida. Foto yang dirilis Gedung Putih menunjukkan Trump duduk bersama Kepala Staf Susie Wiles, Menteri Luar Negeri Marco Rubio, dan Direktur CIA John Ratcliffe, dengan peta operasi “Epic Fury” terpampang di papan di belakang mereka .Dalam pesan video yang dirinya unggah, Trump menyatakan tujuan operasi adalah “menghancurkan industri rudal Iran dan melenyapkan angkatan laut mereka.” Ia juga mengakui kemungkinan korban di pihak AS: “Saya tidak membuat pernyataan ini dengan enteng: rezim Iran berusaha membunuh. Nyawa pahlawan Amerika yang berani mungkin akan hilang dan kami mungkin akan mengalami korban. Itu sering terjadi dalam perang” .Namun hingga berita ini diturunkan, Komando Sentral AS (CENTCOM) mengumumkan tidak ada laporan korban jiwa atau luka-luka di kalangan personel militer Amerika. “Kerusakan pada instalasi AS minimal dan tidak berdampak pada operasi,” demikian pernyataan resmi .