Waktu baca: 5 menit

DIENG, JAWA TENGAH — Di balik kabut tipis dan udara dingin yang menyelimuti Dataran Tinggi Dieng, lima bangunan batu andesit berdiri tegak dalam kesunyian. Mereka adalah Kompleks Candi Arjuna, saksi bisu dari salah satu episode paling awal peradaban Hindu di Jawa. Namun, sedikit yang tahu bahwa keheningan megah ini adalah hasil dari “kebangkitan kedua.” Selama berabad-abad sebelumnya, puncak-puncak candi ini hanya menyembul seperti batu karang dari permukaan air telaga yang dingin, terlupakan oleh waktu.

Penemuan yang Menggemparkan dari Kedalaman

Pada tahun 1814, sebuah pemandangan tak terduga menyambut seorang tentara Inggris (beberapa sumber menyebut Belanda) yang sedang menjelajahi dataran tinggi itu. Alih-alih kompleks percandian, yang terhampar adalah permukaan telaga yang luas. Hanya atap dan puncak beberapa bangunan batu yang tampak, seperti pulau-pulau mini yang menyembul dari dalam air. Telaga Balekambang telah meluap dan menggenangi seluruh kompleks candi, menyimpannya dalam kondisi terawetkan, sekaligus tersembunyi, selama ratusan tahun. Penemuan tentara itu membuka lembaran baru bagi arkeologi Indonesia, meski upaya penyelamatan serius baru dimulai empat dekade kemudian.

Upaya Besar Pengeringan dan Dokumentasi

Tahun 1856 menjadi titik balik. Seorang insinyur bernama H.C. Cornelius (atau Isidore van Kinsbergen menurut catatan lain) memprakarsai proyek ambisius: mengeringkan telaga yang menenggelamkan candi. Pekerjaan besar ini kemudian dilanjutkan oleh J. Van Kirnsberg (atau Y. Van Kinsbergen).Selain mengawasi pengeringan, Van Kirnsberg tercatat sebagai orang pertama yang mendokumentasikan kompleks candi ini secara visual. Foto-foto yang diambilnya menjadi bukti sejarah tak ternilai, merekam momen ketika Candi Arjuna dan tetangganya muncul kembali ke permukaan bumi setelah berabad-abad tertidur di bawah air. Upaya pembersihan dan stabilisasi kemudian berlanjut hingga tahun 1864 oleh pemerintah Hindia Belanda.

Mengapa Candi Arjuna Begitu Penting?

Dari dasar telaga, candi ini mengungkapkan narasi yang jauh lebih besar daripada sekadar bangunan tua. Berikut adalah fakta-fakta kunci yang membuatnya unik:Bukti Peradaban Hindu Tertua di JawaPrasasti beraksara Jawa Kuno bertahun 809 M (731 Saka) yang ditemukan di kompleks ini menegaskan bahwa Dieng telah menjadi pusat kegiatan religius sejak awal abad ke-9 Masehi. Para ahli memperkirakan candi ini bahkan dibangun lebih awal, sekitar abad ke-7 hingga ke-8 M oleh Wangsa Sanjaya dari Kerajaan Mataram Kuno. Ini menjadikannya salah satu kompleks candi Hindu tertua di Indonesia, bahkan lebih tua dari Borobudur dan Prambanan.Pusat Spiritual dan Pendidikan AgamaBukti arkeologi terbaru, termasuk penemuan tangga batu kuno (ondo budho) dan fondasi bangunan yang diduga dharmasala (asrama atau tempat belajar), menguatkan teori bahwa Dieng bukan hanya tempat pemujaan, tetapi juga pusat ritual dan pendidikan agama Hindu yang penting pada masanya. Masyarakat dari wilayah sekitar diperkirakan menggunakan jalur tangga ini untuk melakukan perjalanan ziarah menuju kompleks candi di puncak.

Arsitektur Awal yang Menunjukkan Pengaruh Langsung

Gaya arsitektur candi-candi Dieng, termasuk Candi Arjuna, menunjukkan kemiripan kuat dengan gaya candi India Selatan (Dravida). Hal ini mengindikasikan bahwa pengaruh seni dan budaya India masih sangat kuat dan langsung pada periode awal pembangunannya, sebelum para arsitek Jawa mengembangkannya menjadi gaya yang lebih khas lokal pada periode berikutnya.

Candi Arjuna: Candi induk, dipersembahkan untuk Dewa Siwa.· Candi Semar: Candi perwara, bentuknya menyerupai rumah tradisional Jawa.· Candi Srikandi: Relief di dindingnya menggambarkan Trimurti (Wisnu, Brahma, Siwa).· Candi Puntadewa: Bentuk tubuh ramping dengan atap bertingkat.· Candi Sembadra: Arsitektur paling sederhana dengan ornamen minimalis.

Warisan yang Hidup dan Tantangan Masa Kini

Kini, Candi Arjuna adalah ikon Dataran Tinggi Dieng. Kompleks ini dikelola oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Tengah dan menjadi jantung dari Dieng Culture Festival tahunan, tempat ritual ruwatan anak berambut gimbal dilaksanakan. Keberadaannya adalah bukti nyata dari perpaduan sejarah yang dalam, budaya yang hidup, dan keindahan alam yang memukau.Namun, warisan ini juga menghadapi tantangan. Dibangun dari batu andesit di ketinggian lebih dari 2.000 mdpl, candi-candi ini terus-menerus terpapar cuaca ekstrem, kabut, dan kelembaban tinggi yang mempercepat pelapukan. Upaya pelestarian berkelanjutan mutlak diperlukan agar Candi Arjuna tidak kembali “tenggelam,” bukan oleh air telaga, melainkan oleh kerusakan waktu dan kelalaian.