Waktu baca: 3 menit

TASIKMALAYA — Di Jalan Ciwasmandi, Kota Tasikmalaya, berdiri sebuah bangunan pasar yang gagah. Namun, sunyi senyap lebih banyak menyelimuti tempat ini daripada riuh tawar-menawar. Pasar Rakyat Purbaratu, yang diresmikan dengan harapan pada 2024, kini lebih mirip monumen beton yang membisu—simbol dari sebuah pembangunan fisik yang tak diiringi dengan strategi untuk menghidupkannya.Hingga awal Januari 2026, keadaan sepi itu masih menjadi pemandangan sehari-hari.

Fakta ini telah diketahui oleh Dinas Koperasi, UMKM, Perindustrian, dan Perdagangan (KUMKM Perindag) Kota Tasikmalaya, namun langkah strategis untuk mengubah nasib pasar ini masih belum tampak.Ketergantungan pada Satu Penggerak, dan Sepi yang KembaliDenyut nadi ekonomi di Pasar Purbaratu bergantung sepenuhnya pada satu aktor: program Warung Stabilisasi Inflasi Kota Tasikmalaya (Wangsit). Menurut Apeng, pelaku UMKM dari Wangsit, pasar ini kembali sepi dalam sepekan terakhir karena aktivitas mereka belum kembali.“Kami belum jualan lagi. Jadi kemarin sepi seperti biasa, Sabtu-Minggu juga. Padahal kondisi ini sudah muncul lagi minggu kemarin, tapi belum ada perhatian,” ujarnya.

Keterangan dari petugas kebersihan di lokasi memperkuat gambaran rapuhnya ekosistem pasar ini. Kehidupan hanya berdenyut saat Wangsit beroperasi. Tanpa mereka, tidak ada magnet ekonomi lain yang mampu menarik pedagang tetap atau memobilisasi pembeli dari masyarakat sekitar. Pasar pun kembali menjadi ruang kosong.Investasi Besar yang Belum BerbuahDi balik kesunyiannya, Pasar Purbaratu menyimpan nilai investasi yang tidak kecil. Berdasarkan data aset Pemerintah Kota Tasikmalaya, berikut adalah rinciannya:·

Luas Bangunan: 938 meter persegi·

Luas Lahan: 2.029 meter persegi·

Nilai Aset: Rp 1.577.487.000·

Jumlah Los & Kios: 18 los dan 8 kios·

Periode Pembangunan: Dimulai 2019,

diresmikan 2024

Fasilitas seluas hampir 1.000 meter persegi itu dibangun selama lima tahun, namun hingga dua tahun pasca-peresmian, pasar belum mampu menjadi “simpul interaksi ekonomi harian” seperti yang diharapkan.

Dari Perencanaan ke Pasca-PerayaanSituasi di Purbaratu menguak masalah klasik dalam pembangunan fasilitas publik,fokus yang berlebih pada pembangunan fisik dan seremoni peresmian, tanpa diikuti dengan perencanaan matang untuk pasca-operasional.Pasar dibangun, tetapi strategi untuk mengisinya dengan pedagang, mempromosikannya kepada calon pembeli, dan mengintegrasikannya dengan kebutuhan riil komunitas di sekitarnya tampak nihil. Ketergantungan pada satu program darurat seperti Wangsit justru menunjukkan tidak adanya strategi jangka panjang untuk menciptakan ekosistem pasar yang mandiri dan berkelanjutan.

Pertanyaan besar kini menggantung, Kapan Pasar Purbaratu akan benar-benar hidup? Dan langkah konkret apa yang akan diambil oleh pengelolanya untuk mengubah bangunan megah ini dari sekadar aset tercatat di atas kertas menjadi ruang hidup yang menghidupi perekonomian warga Purbaratu?

Sumber :

Radar tasik