Waktu baca: 5 menit

Ketika lempeng tektonik Arab dan Eurasia bertemu 35 juta tahun lalu, mereka menciptakan salah satu formasi geologis paling spektakuler di Bumi sekaligus titik lemah yang kini memegang kendali atas ekonomi global

DARI udara, Selat Hormuz tampak seperti garis tipis yang menggambar batas antara dua dunia. Di titik tersempitnya—hanya selebar 48 kilometer—Semenanjung Musandam di Oman menjorok ke utara seperti belati tajam, sementara garis pantai Iran di seberangnya bergerigi seperti gigi gergaji. Namun, di balik keindahan visual ini, tersembunyi sebuah cerita geologis yang menggetarkan: pertemuan dua benua yang membentuk salah satu “titik sempit” (chokepoint ) maritim paling vital di planet ini.”Selat Hormuz merupakan salah satu keajaiban geologi.

Ini adalah salah satu tempat di Bumi di mana Anda dapat melihat tabrakan dua benua,” ujar Mike Searle, profesor Ilmu Bumi di Worcester College, Universitas Oxford .Proses pembentukan selat ini dimulai sekitar 35 juta tahun yang lalu ketika lempeng Arab di selatan mulai bergerak ke utara, mendorong ke bawah lempeng Eurasia dalam proses yang disebut subduksi. Samudra kuno Tethysyang dinamai menurut Titan laut mitologi Yunaniperlahan-lahan tertelan hingga kedua lempeng benua dan daratan di atasnya menyatu .Bukti dari pertemuan monumental ini terpampang nyata di Semenanjung Musandam.

Tebing batu hitam yang curam dan garis pantai bergerigi dari lembah-lembah yang terendam menjadi saksi bisu dari pergerakan lempeng yang berlangsung selama jutaan tahun. Yang lebih menakjubkan, semenanjung ini menyimpan harta karun geologis langka: ophiolite —batuan yang biasanya terkubur jauh di bawah kerak samudra, kini terekspos spektakuler di permukaan.”Benar-benar terekspos dengan sangat spektakuler,” kata Searle. “Semenanjung itu adalah kompleks ophiolite terbesar dan terbaik di dunia” .

Antara Keindahan dan Kekacauan

Sayangnya, proses geologi yang sama yang menciptakan keajaiban ini juga menjadikannya rentan terhadap konflik manusia. Sebagai jalur yang menghubungkan Teluk Persia dan Teluk Oman, Selat Hormuz menjadi arteri vital bagi perdagangan energi global sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia melewati perairan sempit ini setiap harinya.

Namun sejak akhir Februari 2026, keajaiban geologis ini berubah menjadi medan pertempuran geopolitik. Konflik bersenjata antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel yang meletus pada 28 Februari 2026 telah mengubah dinamika selat secara fundamental. Serangan militer yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei memicu reaksi keras: Iran menutup akses selat secara selektif dan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengeluarkan peringatan melalui radio maritim agar kapal asing tidak melintas.

Dampaknya langsung mengguncang pasar global. Lalu lintas kapal dilaporkan turun hingga sekitar 90 persen, menyebabkan sekitar 2.000 kapal komersial tertahan di perairan sekitar Teluk Persia. Harga minyak mentah Brent melonjak hingga sekitar USD 126 per barel kenaikan tercepat dalam sejarah konflik modern.

Diplomasi di Perairan Berbahaya

Dalam situasi yang semakin kompleks, Iran mulai menerapkan kebijakan akses yang selektif. Negara-negara tertentu diizinkan melintas, sementara yang lain dilarang keras. India, Tiongkok, dan Rusia tercatat sebagai “negara sahabat” yang mendapat izin resmi. Kapal-kapal Indonesia, termasuk dua tanker milik Pertamina International Shipping (PIS), masih menunggu kepastian setelah berkoordinasi intensif melalui Kementerian Luar Negeri RI dan KBRI Tehran.

Iran bahkan membangun “koridor” pengiriman sendiri di utara Pulau Larak, dengan biaya transit yang dilaporkan mencapai USD 2 juta per kapal—pembayaran yang dinilai dalam Yuan Tiongkok.Sementara itu, India mengerahkan Operasi Urja Suraksha dengan lebih dari lima kapal perang untuk mengawal kapal-kapal komersialnya melalui Teluk Oman.Pada 26 Maret 2026, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengumumkan daftar lima negara yang diizinkan transit: Tiongkok, Rusia, India, Irak, dan Pakistan. Malaysia dan Thailand juga menyusul setelah negosiasi diplomatik.

Masa Depan di Ujung Belati Geologis

Sementara dunia berdebat tentang siapa yang berhak melintas, formasi geologis yang berusia 35 juta tahun itu tetap diam—seperti yang telah dilakukannya selama milenium. Namun, keheningan batuan ophiolite itu kontras dengan kegaduhan geopolitik yang mengelilinginya.Presiden AS Donald Trump telah mengumumkan niatnya untuk “mengambil alih” Selat Hormuz, sementara Iran mengancam akan menambang seluruh Teluk Persia jika ancaman tersebut diwujudkan. Di tengah ketegangan ini, G7 dan berbagai negara termasuk Jepang, Inggris, dan Uni Eropa berupaya mencari solusi diplomatik—meski Rusia dan Tiongkok memveto usulan Dewan Keamanan PBB pada 7 April 2026.

Bagi para geolog, Selat Hormuz akan tetap menjadi keajaiban tempat di mana dua benua bertemu dan menciptakan lanskap yang tak tertandingi. Bagi para pembuat kebijakan, selat ini adalah pengingat bahwa keindahan alam dan kepentingan strategis sering kali berjalan beriringan, dalam garis tipis yang sama rapatnya dengan jarak antara Oman dan Iran di titik tersempit selat.Seperti yang dikatakan Searle: proses geologi yang membuat Selat Hormuz begitu unik juga yang membuatnya begitu rentan . Dan kini, selat itu menunggu—di persimpangan antara keajaiban purba dan konflik modern—untuk melihat apakah manusia dapat belajar hidup berdampingan dengan formasi yang telah ada jauh sebelum peradaban kita lahir.