Waktu baca: 4 menit

HANOI — Sebuah pernyataan yang tampaknya biasa tentang makanan pagi telah berubah menjadi badai kontroversi nasional. Hiền Lương, seorang kreator konten TikTok dengan lebih dari 3,1 juta pengikut, kini berada di pusat pusaran kritik setelah komentarnya tentang bánh mì —ikon kuliner Vietnam yang telah mendunia—menuai amarah netizen dan memaksanya untuk meminta maaf secara terbuka.

@tvtitan78 Hiền Lương review bánh mì 😁 #xunghuong #viral #drama ♬ âm thanh gốc – 5 chục lộn xộn

“Makanan Orang Miskin”Dalam klip viral yang diunggah di akun @hienluongxink, Hiền Lương mengungkapkan pandangannya yang kontroversial tentang hidangan yang telah menjadi identitas kuliner bangsa. “Mengapa orang-orang belum pernah melihat saya makan roti sebelumnya? Karena dalam pikiran saya, roti adalah sesuatu yang hanya saya makan ketika saya lapar, haus, atau dalam situasi putus asa,” ujarnya dalam video tersebut. “Makan roti terasa sangat menyakitkan. Hari ini, pada peringatan hari ketika saya kehabisan uang, saya memakannya.”Pernyataan tersebut seketika menyulut api kemarahan di media sosial. Bagi jutaan orang Vietnam, bánh mì bukan sekadar roti isi—melainkan simbol ketahanan, kreativitas kuliner, dan kebanggaan nasional yang bahkan telah masuk dalam daftar 100 hidangan terbaik dunia versi Taste Atlas .

Dua Kali Menyakiti

Seolah pernyataan pertama belum cukup memicu kontroversi, Hiền Lương kembali menuai kritik pedas melalui video kedua. Dalam klip “review” yang diunggahnya, ia terlihat menggigit ujung roti bánh mì , lalu mengunyahnya sejenak sebelum meludahkannya kembali—semua dengan alasan sederhana: “Tidak suka makan roti yang renyah.”Aksi tersebut dianggap sebagai penghinaan ganda. Bukan hanya meremehkan nilai ekonomis hidangan yang menjadi andalan kelas pekerja, tetapi juga menunjukkan perilaku membuang-buang makanan yang bertentangan dengan nilai-nilai tradisional Vietnam.

Amarah Netizen Mulai Dari Pelajar hingga Diaspora

Kolom komentar langsung dipenuhi luapan emosi dari berbagai lapisan masyarakat. Seorang pengguna yang mengidentifikasi diri sebagai mahasiswa internasional menulis dengan getir: “Bagi mahasiswa internasional, roti adalah makanan ‘mewah’, terkadang kami memakannya dan menangis karena rindu rumah. Phở dan roti adalah makanan khas Vietnam, jika ada yang tidak menyukainya, kirimkan saja ke kami.”Komentar lain menegaskan status bánh mì sebagai warisan budaya: “‘Bánh mì’ telah dimasukkan dalam kamus Oxford dan mempertahankan nama aslinya. Ini bukan sekadar makanan, ini identitas kita.”Banyak yang mempertanyakan logika di balik pernyataan Hiền Lương. “Jika Anda tidak suka isian ini, Anda bisa memilih yang lain. Mengatakan bahwa bánh mì adalah makanan yang hanya dimakan saat Anda dalam keadaan terdesak perlu dipertimbangkan kembali,” tulis seorang netizen. Yang lain berbagi pengalaman pribadi: “Dulu saya pernah merasa sangat mual sehingga tidak bisa makan apa pun kecuali bánh mì , dan saya masih menganggapnya enak sekarang.”

Permintaan Maaf yang Terlambat?

Menghadapi gelombang kritik yang tak kunjung reda, Hiền Lương akhirnya menghapus video-video kontroversial dan mengunggah permintaan maaf melalui fitur story Instagram. Dalam unggahan tersebut, ia mengakui kesalahannya dengan nada penyesalan: “Pernyataan-pernyataan itu tidak pantas, menciptakan konten yang buruk, dan menyinggung banyak orang. Bukan karena orang-orang salah paham, tetapi karena cara bicara saya terlalu kurang bijaksana dan tidak peka.”Ia menyebut insiden ini sebagai “pelajaran yang mahal” dan berjanji akan lebih berhati-hati dalam menyampaikan konten di masa depan .Namun, permintaan maaf tersebut tampaknya belum sepenuhnya meredakan amarah publik. Sebagian pihak mengkritik format permintaan maaf yang hanya diunggah sebagai story—yang akan hilang dalam 24 jam—sementara video kontroversial telah dipublikasikan secara permanen sebelumnya dan telah tersebar luas di berbagai platform.

Cerminan Konflik Generasi dan Identitas

Kontroversi ini menyoroti ketegangan yang lebih dalam dalam masyarakat Vietnam modern: benturan antara kreator konten yang mengejar viralitas dan rasa hormat terhadap warisan budaya. Bagi generasi yang tumbuh dengan bánh mì sebagai simbol kelangsungan hidup pasca-perang dan kemakmuran ekonomi yang diraih dengan susah payah, pernyataan Hiền Lương bukan sekadar opini pribadi—melainkan penghinaan terhadap perjuangan kolektif.Dalam era di mana sebuah video 60 detik dapat mengubah hidup seseorang—baik menjadi terkenal maupun terkenal karena hal yang salah—kasus Hiền Lương menjadi peringatan bahwa di balik setiap hidangan sederhana, ada sejarah, identitas, dan harga diri sebuah bangsa yang tidak bisa diremehkan begitu saja.