Waktu baca: 4 menit

MOSKOW, 3 April 2026 – Bayangkan sebuah negara yang tengah terlibat perang energi panjang, di tengah lonjakan harga minyak dunia yang melejit akibat konflik Timur Tengah. Itulah Rusia hari ini. Bukan hanya menahan pasokan bensin ke pasar internasional, Moskow kini secara tegas menutup keran minyak mentah bagi negara-negara yang masih setia pada skema pembatasan harga yang dianggapnya “provokatif”. Kebijakan ini bukan sekadar soal bisnis, melainkan pesan geopolitik yang tajam, Rusia tak lagi mau bermain di bawah aturan yang dibuat musuhnya.

Semuanya bermula dari maklumat terbaru Federasi Rusia yang dirilis akhir Maret 2026. Menurut Wakil Menteri Luar Negeri Andrei Rudenko, seperti dikutip Izvestia, Rusia tak akan memasok minyak ke negara mana pun yang mendukung mekanisme price cap yang diberlakukan Uni Eropa, G7, dan Australia sejak akhir 2025. Skema ini membatasi harga minyak Rusia di bawah US$60 per barel (sekitar Rp1.020.000 dengan kurs Rp16.900) agar perusahaan dari negara peserta bisa mengangkut atau mengasuransikannya. Bagi Moskow, ini bukan hanya intervensi pasar, melainkan upaya politik untuk melemahkan pendapatan Rusia yang diduga digunakan mendanai operasi di Ukraina. “Seperti yang telah berulang kali dinyatakan, Rusia tidak akan memasok minyak ke negara-negara yang mendukung usaha provokatif ini,” tegas Rudenko.

Jepang menjadi contoh paling konkret. Sebagai anggota G7, Tokyo masih terikat aturan pembatasan harga meski sangat berminat membeli minyak Rusia di tengah fluktuasi pasar energi yang liar. Situasi ini, kata Rudenko, justru mengganggu rantai pasokan global. Harga minyak dunia memang sedang panas; Brent sempat tembus US$105 per barel pekan lalu, dipicu kekhawatiran gangguan di Selat Hormuz dan ketegangan Iran-AS.

Bagaimana nasib Indonesia?

Duta Besar Rusia untuk Indonesia, Sergey Tolchenov, menyatakan Moskow siap memasok minyak mentah langsung ke Pertamina bila Jakarta mengajukan permintaan resmi. “Rusia fleksibel dalam persyaratan pasokan,” ujarnya seperti dikutip TASS pada 1 April 2026. Tak ada syarat price cap, tak ada birokrasi berbelit. Moskow hanya menunggu proposal dari Kementerian ESDM atau perusahaan negara. Cadangan minyak Indonesia saat ini disebut aman, tapi diversifikasi pasokan di tengah gejolak global tetap menjadi prioritas. Pertemuan Prabowo Subianto dengan Vladimir Putin di Moskow Desember 2025 lalu semakin memperkuat fondasi kerja sama strategis ini.

Rusia memperketat ekspor bensin

Mulai 1 April hingga akhir Juli 2026, pemerintah Rusia memberlakukan larangan total ekspor gasoline bagi produsen dalam negeri. Tujuannya sederhana,menjaga stabilitas pasokan domestik di tengah musim tanam pertanian dan lonjakan permintaan akibat harga energi global yang terus naik. Larangan ini tidak berlaku bagi negara mitra dengan perjanjian antar pemerintah, seperti Mongolia. Sementara ekspor minyak mentah dan diesel tetap berjalan, kebijakan ini menunjukkan Moskow sedang mengutamakan pasar dalam negeri sekaligus memanfaatkan permintaan tinggi dari Asia.

Bagi Indonesia, ini sinyal positif. Di saat Uni Eropa terus mematikan keran impor energi Rusia secara bertahap hingga 2027, negara-negara Asia seperti China, India, dan bahkan beberapa tetangga kita justru berebut pasokan dari Moskow. Harga yang kompetitif tanpa price cap bisa menjadi angin segar bagi Pertamina terutama saat harga BBM domestik masih ditahan pemerintah untuk menjaga daya beli masyarakat.

Satu permintaan resmi saja bisa membuka keran minyak dari “Beruang Merah”, di saat banyak negara Barat justru semakin menjauh. Di tengah badai energi global yang tak kunjung reda, Indonesia punya kesempatan langka untuk memperkuat ketahanan energinya—sambil menjaga keseimbangan diplomasi yang cerdas.

Sumber : Money.kompas.com,TASS, CNBC Indonesia, Sindo, Kontan, dan Anadolu Agency ,Reuters