Waktu baca: 4 menit

Kamis pagi, 2 April 2026, pukul 07:48 WIT, Pelabuhan Weda di Halmahera Tengah, Maluku Utara, seolah ikut bernapas bersama bumi yang marah. Air laut di pelabuhan tiba-tiba bergoyang liar, seperti sedang diremas tangan raksasa tak kasat mata. Tiang-tiang lampu besi bergoyang hebat, sepeda motor yang terparkir rapi jatuh berantakan, dan para pekerja pelabuhan berlarian mencari tanah lapang sambil berteriak. Itulah detik-detik mencekam yang terekam kamera warga dan langsung viral di media sosial—bukti nyata betapa guncangan gempa magnitudo 7,6 (revisi dari awal 7,4) mampu menggetarkan segalanya, bahkan ombak kecil di dermaga.

Di Pelabuhan Weda sendiri, intensitas gempa mencapai skala Modified Mercalli Intensity (MMI) V—cukup kuat untuk membuat orang panik, tapi belum meruntuhkan bangunan besar. Namun, di Kecamatan Pulau Muda, Kota Ternate, getarannya jauh lebih dahsyat, mencapai MMI VII. Warga di sana merasakan seperti sedang naik roller coaster yang tak terkendali. Gempa tektonik ini berpusat di laut sekitar 127-129 km tenggara Bitung, Sulawesi Utara, dengan kedalaman dangkal hanya 18 kilometer—sehingga getarannya menyebar luas ke Maluku Utara dan Sulawesi Utara.

Pelabuhan Weda bukan sekadar dermaga biasa. Ia adalah pintu gerbang vital bagi Kabupaten Halmahera Tengah, penghubung feri antar pulau, dan pusat logistik bagi Weda Bay Industrial Park—salah satu proyek nikel terbesar di dunia yang digarap oleh konsorsium internasional. Setiap hari, kapal-kapal barang mengangkut nikel laterit, pekerja datang dan pergi, serta barang kebutuhan warga mengalir lewat sini. Pagi itu, pelabuhan yang biasanya ramai dengan suara mesin kapal dan teriakan pedagang kecil itu tiba-tiba sunyi sejenak. Para pekerja yang sedang memuat barang berhamburan keluar, mencari tempat aman di tanah terbuka. Tak ada laporan kerusakan struktural besar di dermaga hingga siang hari ini, tapi video amatir yang beredar menunjukkan betapa rapuhnya segalanya saat bumi bergerak. Air laut ikut bergoyang, seolah ikut merespons kekuatan alam yang tak terduga.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) langsung mengeluarkan peringatan dini tsunami. Status “Siaga” menyala untuk wilayah pesisir Ternate, Halmahera, dan Bitung. Warga di pantai Halmahera Barat sempat melihat air laut surut dan kemudian naik kecil—tsunami minor dengan tinggi gelombang hanya 0,3 meter di beberapa titik seperti Sidangoli Gam. Panik sempat melanda, tapi tak ada korban jiwa di sana. Pukul 09:56 WIB, BMKG akhirnya mencabut peringatan itu setelah memantau tidak ada kenaikan air laut signifikan. “Situasi sudah kondusif,” kata Kepala BMKG Stasiun Geofisika Ternate, Gede Eriksana Yasa. Hingga siang ini, sudah tercatat puluhan gempa susulan—antara 29 hingga 68 kali—dengan magnitudo terbesar 5,5. Masyarakat diminta tetap waspada.

Dampak paling menyedihkan terjadi ratusan kilometer jauhnya, di Manado, Sulawesi Utara. Satu orang tewas tertimpa reruntuhan Gedung KONI (atau GOR) yang ambruk akibat guncangan. Korban adalah seorang perempuan berusia 69 tahun yang sedang berjualan di sekitar lokasi. Dua warga lainnya mengalami luka, termasuk seorang anak yang patah kaki setelah melompat dari toko untuk menyelamatkan diri. Di Ternate, setidaknya lima gereja dan beberapa rumah rusak ringan, tapi tidak ada korban jiwa dilaporkan di Maluku Utara hingga berita ini ditulis. Warga di pesisir sempat mengungsi ke dataran tinggi secara mandiri, tapi kini mulai kembali ke rumah dengan hati-hati.

Bagi warga Halmahera Tengah, gempa ini bukan sekadar bencana alam. Pelabuhan Weda adalah nadi ekonomi daerah yang bergantung pada industri nikel. Meski belum ada laporan kerusakan infrastruktur pelabuhan yang menghentikan operasional, getaran itu mengingatkan betapa rentannya wilayah ini—terletak di zona pertemuan lempeng tektonik yang aktif. “Kami tetap tenang, tapi waspada,” ujar seorang warga yang terekam dalam video viral, sambil membersihkan barang-barangnya yang berantakan di dermaga.Hingga sore hari ini, aktivitas pelabuhan mulai pulih. Kapal feri masih beroperasi, tapi BMKG terus memantau. Gempa susulan bisa datang kapan saja. Di tengah hiruk-pikuk pemulihan, Pelabuhan Weda berdiri tegar—sebuah saksi bisu betapa kuatnya alam Indonesia Timur, dan betapa tangguhnya manusia yang tinggal di sana.