Waktu baca: 2 menit
Di tengah eskalasi tekanan sanksi dan tindakan Barat terhadap perdagangan maritim Rusia, Moskow mengambil langkah tegas, mengerahkan konvoi angkatan laut untuk mengawal kapal-kapal dagangnya, termasuk armada bayangan (shadow fleet) yang menjadi tulang punggung ekspor minyak dan gas.
Menurut pernyataan Nikolai Patrushev, asisten senior Presiden Vladimir Putin yang juga mengepalai Dewan Maritim Rusia, keamanan jalur perdagangan laut kini menjadi prioritas krusial. “Menjamin keamanan perdagangan maritim adalah hal yang krusial setiap saat,” tegas Patrushev dalam wawancara dengan harian Kommersant, sebagaimana dikutip Bloomberg pada 19 Maret 2026.
Rencana ini muncul setelah serangkaian insiden yang menimpa kapal Rusia, mulai dari penggeledahan oleh Swedia terhadap tanker shadow fleet dan kapal pengangkut biji-bijian, hingga serangan drone yang diduga dilakukan Ukraina terhadap tanker LNG Rusia di Laut Mediterania. Rusia sendiri terus menjaga volume ekspor minyak mentah di angka tinggi—rata-rata 3,44 juta barel per hari dalam empat minggu hingga 15 Maret 2026—meski dihantam sanksi Barat.

Untuk memperkuat perlindungan, Rusia tidak hanya mengandalkan pengawalan militer. Armada juga akan memasang peralatan pelindung tambahan di atas kapal dagang, serta mempertimbangkan penempatan tim pengawal bersenjata pada kapal-kapal berbendera Rusia. Langkah ini dipandang sebagai respons langsung terhadap apa yang disebut beberapa pejabat Rusia sebagai “pembajakan Barat” terhadap kapal-kapal mereka.
Dengan penguatan armada laut ini, Rusia tampak berupaya mengirim sinyal kuat, jalur perdagangan maritimnya tidak akan mudah diblokade atau diganggu. Di tengah ketegangan geopolitik yang terus memanas, konvoi angkatan laut ini berpotensi menjadi elemen baru dalam dinamika konfrontasi maritim antara Rusia dan Barat.



















