Waktu Baca : 5 menit
Dari gelap gulita menuju terang benderang, warga Kampung Tangsijaya membuktikan bahwa kemandirian energi bukan sekadar mimpi. Dengan memanfaatkan derasnya aliran Sungai Ciputri, mereka membangun pembangkit listrik mikrohidro yang menerangi 80 rumah—cuma dengan iuran Rp 25.000 per bulan.
Ketika Petromak Menjadi Kenangan
Bayangkan hidup di era 1980-an tanpa listrik. Saat malam tiba, satu-satunya teman warga Kampung Tangsijaya, Desa Gununghalu, Kecamatan Gununghalu, Kabupaten Bandung Barat, adalah cahaya redup dari petromak dan lampu teplok. Sebagian rumah bahkan gelap total.
Ironisnya, tidak jauh dari Tangsijaya berdiri Waduk PLT Saguling. Namun karena topografi perbukitan dan lokasi di tengah hutan, jaringan listrik PLN tak pernah menyapa kampung ini. Ketika warga mengajukan permohonan pemasangan listrik, jawabannya selalu sama: jaringan terlalu jauh, konsumen terlalu sedikit. “Margi beban jaringannya tebih teras konsumenna sakedik,” ujar Toto Sutanto (45), penggagas PLTMH Tangsijaya, menirukan respons PLN saat itu.

Dari Kincir Air Tradisional ke Pembangkit Modern
Tak tinggal diam, warga mulai berinovasi. Pada 1990-an, sekitar 20 kincir air tradisional dibangun di tepi sungai. “Kadang sakincir aya ku dua bumi, kadang aya sabumi,” kenang Toto. Dayanya sangat terbatas—hanya 100-150 watt per rumah. Untuk menyalakan televisi, warga harus mematikan sebagian lampu.
Harapan baru muncul pada 2001 ketika seorang peneliti dari Cihanjuang, Cimahi, datang ke Tangsijaya. Bersama warga, ia membangun pikohidro dengan daya 3.000 watt. Meski sudah lebih baik, kapasitas itu masih belum cukup.
Tahun 2007 menjadi titik balik. Melalui bantuan Dinas ESDM Provinsi Jawa Barat, PLTMH Rimba Lestari resmi berdiri dengan kapasitas 18.000 watt (18 kW). Pembangkit ini memanfaatkan aliran Sungai Ciputri dengan debit stabil 400 liter per detik. Air ditampung dalam bak penyaring sebelum dialirkan melalui pipa besar ke power house yang berjarak sekitar 50 meter dari pemukiman.


T-Shirt Cressida – The Next Level Of Comfort!
⭐ TESTIMONI:
🎯 PERFECT UNTUK:
- Hangout bareng temen
- OOTD casual sehari-hari
- Nongkrong di kafe
- Jalan-jalan santai
- Koleksi wardrobe basic yang stylish
⚡ STOK TERBATAS! JANGAN SAMPAI KEHABISAN! ⚡
Rp 25.000 Sebulan, Listrik 24 Jam
Hari ini, sekitar 80 rumah di Tangsijaya tercatat sebagai pelanggan PLTMH Rimba Lestari. Setiap rumah mendapat jatah daya 450 watt dengan tegangan 220 volt—lebih stabil dibanding listrik PLN yang masuk ke kampung ini dengan tegangan hanya 170 volt.
Biayanya? Hanya Rp 25.000 per bulan. Bagi warga lanjut usia, listrik gratis. Fasilitas umum seperti masjid dan sekolah juga tidak dikenakan biaya. “Caangna asa caang ieu,” ujar Emah (55), warga Tangsijaya, menggambarkan betapa terangnya lampu dari PLTMH. Bahkan, memasak nasi dengan rice cooker terasa lebih cepat dibanding menggunakan listrik PLN.
Listrik yang Menumbuhkan Ekonomi
Keberhasilan PLTMH tak berhenti di penerangan rumah. Dengan surplus daya sebesar 3 kW dari total 18 kW, warga memanfaatkannya untuk menggerakkan pabrik pengolahan kopi milik Koperasi Rimba Lestari. Dibangun pada 2010 melalui program pengabdian masyarakat dari sebuah universitas, pabrik ini mengolah biji kopi arabika dan robusta dari petani setempat.
Sebelum ada pabrik, buah ceri kopi dijual ke pengepul dengan harga di bawah Rp 10.000 per kilogram. Kini, melalui koperasi, harga naik menjadi Rp 18.000 per kg. Dalam setahun, potensi panen mencapai 40 ton. Hasilnya? Kopi Gunung Halu bahkan masuk 10 besar kopi terbaik di Pameran World of Coffee di Milan, Italia, pada 2022.
“Kopikan panennya setahun sekali. Biasanya itu dimulai dari Maret, April, Mei, sampai bulan Juli itu pasti beroperasi setiap hari,” ujar Toto. Meski pabrik membutuhkan daya hingga 12 kW saat beroperasi penuh, hingga kini belum pernah terjadi pemadaman listrik ke rumah-rumah warga.
Melestarikan Hutan, Menjaga Energi
Keberlanjutan PLTMH sangat bergantung pada kelestarian hutan. Tangsijaya berada di kaki Gunung Masigit, dikelilingi hutan lindung seluas 7.639 hektar milik Perhutani. Warga patuh pada aturan tumpang sari dan membatasi penebangan pohon hanya untuk kebutuhan kayu bakar dan rumah.
“Syarat pertama penerima PLTMH adalah sumber air harus memiliki energi potensial yang stabil,” jelas Toto. Untuk itu, sebagian petani diberdayakan menanam kopi guna menjaga kawasan resapan air. Generasi muda seperti Iden Permana (20) dan empat rekannya juga dilibatkan sebagai operator PLTMH dengan upah Rp 100.000 per bulan.
Mimpi yang Terus Mengalir
Toto Sutanto tak berhenti bermimpi. Rencana pembangunan PLTMH II berkapasitas 30 kW sudah mengendap di meja Kementerian ESDM. “Rencananya tahun depan mulai pembangunan,” ujarnya penuh harap.
Dari kincir air sederhana yang hanya mampu menyalakan satu atau dua lampu, kini Tangsijaya memiliki sistem listrik mandiri yang menjadi percontohan nasional. Tanpa penggusuran lahan, tanpa utang luar negeri, tanpa bergantung pada perusahaan negara—warga ini membuktikan bahwa solusi energi terbaik kadang justru mengalir di depan mata mereka sendiri.
Sumber : Berbagai media Online Internat
Team Media : Mang asuy , Mang Wowon , Mang Udung


















