Waktu baca: 3 menit

Tiga mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) berhasil mencuri perhatian di kancah nasional setelah meraih gelar Champion pada Hackathon Competition IPFEST 2026. Mereka, yang tergabung dalam tim Hengker Berkelas, mengembangkan sistem berbasis kecerdasan buatan (AI) dan machine learning yang mampu menyaring kandidat sumur intervensi di industri minyak dan gas (migas) secara jauh lebih cepat, akurat, dan berbasis data.

Tim ini terdiri dari Afdinal Ghibran Batubara dan Rivo Parhorasan Manalu (keduanya dari Program Studi Teknik Perminyakan angkatan 2022) serta Ghazy Achmed Movlech Urbayani (Program Studi Sistem Teknologi dan Informasi angkatan 2023). Kolaborasi lintas disiplin ilmu ini menjadi kunci utama keberhasilan mereka.

Di tengah makin matangnya lapangan migas dan melonjaknya volume data produksi, proses seleksi sumur yang memerlukan intervensi secara manual semakin rumit, memakan waktu lama, serta rentan terhadap bias manusia dan kesalahan. Sistem yang dikembangkan tim ini mampu mengenali pola-pola masalah produksi lebih dini, sehingga perusahaan dapat mengidentifikasi kandidat sumur intervensi secara lebih sistematis dan efisien.

Potensi dan dampaknya tidak main-main, memangkas waktu evaluasi teknis, mempercepat siklus pengembangan lapangan, mengurangi risiko kesalahan akibat bias kognitif atau human error, serta—yang paling menarik—membantu perusahaan menghemat hingga jutaan dolar dengan meminimalkan intervensi sumur yang kurang tepat sasaran.

Tim juga melakukan evaluasi keekonomian menggunakan pendekatan stokastik untuk mengukur pengaruh sistem terhadap nilai ekonomi proyek secara keseluruhan. Aspek inilah yang turut mengantarkan mereka menjadi juara.

Meski masih berada pada tahap simulasi, inovasi ini membuka peluang pengembangan lanjutan—mulai dari integrasi data lapangan aktual, penambahan variasi data, hingga kalibrasi agar sistem bisa menyesuaikan karakteristik unik setiap lapangan migas di Indonesia.

Keberhasilan ini tak lepas dari kerja keras dan strategi modular yang mereka terapkan di tengah kesibukan kuliah. Setiap anggota memegang tanggung jawab spesifik yang dikerjakan paralel, sementara komunikasi lintas disiplin menjadi pelajaran paling berharga: perbedaan latar belakang justru menjadi kekuatan ketika saling memahami dan belajar satu sama lain.

Capaian di IPFEST 2026 ini menjadi batu loncatan bagi Tim Hengker Berkelas untuk terus berinovasi dan berkontribusi bagi kemajuan industri energi nasional.

Semangat inovasi mahasiswa ITB seperti ini menjadi bukti bahwa generasi muda Indonesia siap menghadirkan solusi cerdas untuk tantangan industri strategis tanah air.