Waktu Baca: 4 menit
Di sudut ruang tunggu klinik psikologi sebuah kampus di Malang, seorang anak berusia empat tahun menatap dinding dengan mata kosong. Ia tak menangis, tak meminta mainan, dan yang paling mengkhawatirkan—ia tak mampu menatap wajah ibunya ketika dipanggil. Bukan karena gangguan bawaan, melainkan hasil dari jam demi jam menatap layar gadget tanpa pengawasan.
Kasus ini bukanlah yang pertama. Dr. Putri Saraswati, dosen sekaligus psikolog dari Pusat Layanan Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang, telah menyaksikan gelombang demi gelombang anak-anak yang datang dengan “bekas luka digital”—jejak trauma dari kehidupan maya yang terlalu dini mereka jalani.
“Tiga kasus ini sudah berlangsung lama,” ujar Putri, merujuk pada anak-anak yang menunjukkan gejala mirip autisme akibat paparan gadget berlebihan, korban pelecehan seksual online yang dilakukan sesama anak SD, hingga perilaku agresif yang ditiru dari karakter game.
Namun Malang bukan satu-satunya episentrum. Data terbaru dari Kementerian Kesehatan menggambarkan peta yang lebih kelam, 2 persen remaja Indonesia mengalami depresi, dengan lonjakan signifikan terjadi di era digital yang makin menggila. Angka ini bukan sekadar statistik—mereka adalah anak-anak kita yang kehilangan malam demi scroll tanpa henti, yang cemas ketika notifikasi tak berbunyi, yang stres karena kehidupan sosialnya diukur dari jumlah like.
Dari Genggaman Tangan ke Gangguan Jiwa
Psikolog di berbagai penjuru negeri mulai melihat pola yang sama, kecemasan yang bukan lagi tentang masa depan, melainkan tentang FOMO—Fear of Missing Out—ketika teman-teman di layar tampak hidup lebih baik. Stres yang datang bukan dari beban tugas, melainkan dari tekanan untuk selalu online dan selalu tersedia.
“Yang paling membekas adalah anak yang meniru kata-kata kasar dari game ke orang tuanya,” kenang Putri. “Di konsultasi, terungkap bahwa ia menganggap perilaku itu normal karena tokoh favoritnya di game melakukannya tanpa konsekuensi.”
Dua dari tiga kasus yang ditanganinya tak pernah kembali untuk tindak lanjut. Alasannya klasik, orang tua sibuk. Terlalu sibuk bekerja untuk memenuhi kebutuhan materi, namun terlalu lelah untuk mengisi kebutuhan emosional anak—yang kemudian “dipenuhi” oleh algoritma YouTube dan TikTok.
Ketika Solusi Juga Menjadi Masalah
Ironisnya, di tengah badai krisis mental ini, teknologi juga ditawarkan sebagai pelampung. Wakil Menteri Kesehatan Dante Harbuwono mendorong penggunaan platform digital untuk mengakses layanan kesehatan mental. Sebuah upaya ambivalen: menggunakan penyebab untuk mengobati gejala.
Namun di lapangan, solusi paling sederhana justru yang paling sulit dilakukan. “Orang tua perlu lebih banyak berinteraksi,” kata Putri. Bukan interaksi yang termediasi layar—video call sambil sibuk dengan laptop—melainkan kontak mata, percakapan tanpa multitasking, dan hadir secara utuh.
Di ruang konsultasi yang semakin ramai, psikolog-psikolog seperti Putri menjadi saksi bisu transformasi generasi. Mereka melihat bagaimana anak-anak yang datang dengan mata lelah karena kurang tidur, dengan perhatian terpecah karena notifikasi, dengan harga diri yang terkikis oleh perbandingan di media sosial.
Dan di balik setiap layar yang terus menyala di sudut-sudut rumah, bom waktu itu terus berdetak—menunggu saatnya meledak dalam bentuk depresi, kecemasan, atau kehilangan kemampuan untuk berhubungan dengan dunia nyata.
Pertanyaannya kini, apakah kita akan terus membiarkannya?
Sumber: Siaga Indonesia, Radar Malang, RRI, Liputan6, InsertLive



















