Waktu Baca : 4 menit
CAPE CANAVERAL, Florida — Hanya butuh semalam bagi euforia berubah menjadi kekecewaan. Satu hari setelah NASA mengumumkan target peluncuran 6 Maret untuk misi Artemis II—penerbangan berawak pertama ke Bulan dalam setengah abad—badai teknis kembali menghantam program ambisius ini.
Aliran helium yang terganggu pada tahap atas roket Space Launch System (SLS) memaksa administrator NASA Jared Isaacman mengumumkan penundaan baru. “Ini akan mengeluarkan jendela peluncuran Maret dari pertimbangan,” ujarnya di media sosial X, suara yang terdengar letih namun tegas.
Kisah yang Berulang
Bagi para pengamat luar angkasa, skenario ini terasa seperti déjà vu. Artemis II sebelumnya sudah ditunda dari Februari ke Maret akibat kebocoran hidrogen pada pengujian bahan bakar. Kini, masalah baru muncul: sistem helium yang seharusnya membersihkan mesin dan menekan tangki bahan bakar mengalami gangguan aliran.
Yang ironis, sistem ini berfungsi dengan baik selama dua kali latihan “wet dress rehearsal”—simulasi hari peluncuran dengan pengisian 700.000 gallon oksigen cair dan hidrogen cair. Masalah baru muncul kemudian, dalam pengujian rutin yang membuat para insinyur begadang semalaman menganalisis data.
Isaacman menyebut kemungkinan penyebabnya: filter rusak, katup bermasalah, atau pelat koneksi yang gagal. Namun yang pasti, perbaikan hanya bisa dilakukan dengan mengembalikan roket setinggi 322 kaki (98 meter) itu ke hanggar Vehicle Assembly Building—perjalanan 6,4 kilometer yang memakan waktu seharian penuh.

Empat Astronaut, Dua Kali Karantina
Di Houston, empat awak misi—Reid Wiseman, Victor Glover, Christina Koch dari NASA, dan Jeremy Hansen dari Badan Antariksa Kanada—baru saja memasuki karantina wajib dua minggu pada Jumat malam. Tujuannya sederhana: menghindari kuman dan penyakit menjelang penerbangan bersejarah.
Namun Sabtu pagi, mereka harus keluar lagi. Karantina dibatalkan. Mereka akan tetap di Houston hingga tanggal peluncuran baru dipastikan—kemungkinan awal atau akhir April.
“Kekecewaan ini dirasakan paling dalam oleh tim NASA yang telah bekerja tanpa lelah,” kata Isaacman, mengakui frustrasi yang melanda ribuan orang di balik layar.
Bayang-bayang Artemis I
Masalah helium ini bukan yang pertama. Misi uji tanpa awak Artemis I pada 2022 juga didera kebocoran hidrogen dan masalah serupa pada sistem helium. Namun yang lebih menggantung adalah masalah heat shield—perisai panas Orion.
Setelah Artemis I kembali, inspeksi menemukan lebih dari 100 titik di mana material Avcoat mengelupas tak terduga saat kapsul menembus atmosfer dengan kecepatan Mach 38. Investigasi menunjukkan perisai tidak cukup permeabel; gas yang terperangkap membuat tekanan meningkat dan retakan menyebar.
NASA memutuskan tetap menggunakan perisai yang sama untuk Artemis II—dengan modifikasi trajektori masuk atmosfer yang lebih curam dan tanpa manuver “skip” melenting. Namun skeptis bertanya: apakah ini cukup?
Dr. Danny Olivas, mantan astronaut yang ikut meninjau masalah perisai, mengakami ini adalah “perisai panas menyimpang”—bukan yang ideal NASA, tapi “NASA memahami masalahnya.”
Misi di Persimpangan
Artemis II bukan sekadar penerbangan ke Bulan. Ini adalah ujian bagi visi “Moon to Mars” NASA—langkah pertama menuju kehadiran manusia berkelanjutan di Bulan, kemudian Mars.
Namun setiap penundaan mengingatkan kita: ambisi luar angkasa selalu beradu dengan kenyataan teknik. Dari Apollo yang terhambat tragedi Apollo 1, hingga Space Shuttle yang kehilangan dua kapsul, sejarah menunjukkan bahwa keselamatan tidak bisa dikompromikan.
Saat roket SLS bersiap digulingkan dari landasan peluncuran 39B, pertanyaan besar menggantung: Kapan manusia benar-benar akan kembali ke Bulan?
Jawabannya, sekali lagi, tertunda.



















