Waktu baca: 3 menit
Meta kembali memangkas ratusan karyawan di tengah ambisi besar menuju era kecerdasan buatan (AI). Namun, di saat yang hampir bersamaan, perusahaan induk Facebook, Instagram, dan WhatsApp itu justru menyiapkan insentif saham bernilai jumbo bagi para eksekutifnya.
Pada Rabu (25 Maret 2026), Meta Platforms mengumumkan pemangkasan sekitar 700 karyawan. Langkah ini menyentuh berbagai tim, mulai dari Reality Labs yang fokus pada metaverse dan perangkat keras, hingga divisi Facebook, operasional global, rekrutmen, dan penjualan. Pemangkasan ini merupakan kelanjutan dari gelombang efisiensi yang telah berlangsung, termasuk pemotongan sekitar 10 persen di Reality Labs pada Januari lalu seiring pergeseran prioritas perusahaan ke AI.
Juru bicara Meta menyatakan bahwa tim secara rutin melakukan restrukturisasi untuk memastikan perusahaan berada dalam posisi terbaik mencapai tujuannya. “Jika memungkinkan, kami juga mencari peluang lain bagi karyawan terdampak,” ujarnya.
Dengan total tenaga kerja sekitar 79.000 orang per akhir 2025, PHK kali ini terjadi di beberapa lokasi kantor di California, termasuk Menlo Park, Sunnyvale, dan Burlingame. Belum diketahui secara pasti berapa banyak yang terdampak di wilayah Bay Area.
Di balik pemangkasan itu, Meta justru meluncurkan program insentif saham baru yang bernilai hingga 921 juta dollar AS, atau setara sekitar Rp 15 triliun. Skema ini diberikan kepada jajaran eksekutif seperti Chief Technology Officer, Chief Product Officer, Chief Financial Officer, Chief Operating Officer, Vice President, Vice Chairman, serta Chief Legal Officer—dengan syarat perusahaan mencapai target pertumbuhan ambisius, termasuk valuasi hingga 9 triliun dollar AS pada 2031.
Menariknya, CEO Meta Mark Zuckerberg sendiri tidak termasuk dalam penerima opsi saham tambahan tersebut. Program ini menjadi yang pertama kali diberikan kepada eksekutif sejak perusahaan melantai di bursa pada 2012, saat masih bernama Facebook.Keputusan ini muncul di tengah tekanan pada harga saham Meta yang sempat anjlok sekitar 23 persen sejak puncaknya tahun lalu, sekaligus mencerminkan taruhan besar perusahaan pada AI di satu sisi, dan upaya efisiensi biaya di sisi lain.Sementara ratusan karyawan menghadapi ketidakpastian pekerjaan, para pimpinan tertinggi disiapkan “bonus” besar jika target jangka panjang tercapai. Kisah ini kembali menyoroti dinamika industri teknologi: di balik inovasi dan pertumbuhan, sering kali ada ketegangan antara efisiensi operasional dan imbalan bagi para pemimpin.



















