Waktu baca: 3 menit
Krisis kelangkaan chip memori global masih jauh dari kata usai. Bahkan, Chairman SK Group Chey Tae-won memprediksi situasi ini bakal berlarut-larut hingga sekitar tahun 2030.Pernyataan tersebut disampaikan Chey dalam ajang Nvidia GTC di San Jose beberapa waktu lalu. Menurutnya, pasokan wafer silikon—bahan baku utama pembuatan chip memori seperti DRAM dan NAND—saat ini masih tertinggal lebih dari 20 persen dibandingkan lonjakan permintaan pasar. Meski para produsen besar tengah gencar menambah kapasitas produksi, Chey menilai ketimpangan suplai dan demand sulit teratasi dalam waktu dekat.“Proses pengamanan wafer tambahan membutuhkan waktu yang sangat panjang, sehingga ketidakseimbangan ini tidak bisa diatasi secara instan,” ujar Chey.
Penyebab utama krisis ini tak lepas dari booming kecerdasan buatan (AI). Produsen memori ternama seperti SK Hynix, Samsung Electronics, dan Micron Technology kini lebih mengutamakan produksi High Bandwidth Memory (HBM)—jenis memori berperforma super tinggi yang dibutuhkan server AI dan GPU canggih. Akibatnya, pasokan DRAM konvensional yang dipakai di smartphone, PC, dan perangkat konsumen lainnya semakin menipis, memicu lonjakan harga signifikan.SK Hynix sendiri menguasai sekitar 57 persen pangsa pasar HBM global dan 32 persen pasar DRAM secara keseluruhan. Perusahaan asal Korea Selatan itu sedang membangun fasilitas pengemasan dan pengujian HBM bernilai US$13 miliar (sekitar Rp221 triliun) di Cheongju, yang ditargetkan rampung akhir 2027. Samsung juga memperluas lini produksi DRAM di Pyeongtaek dengan operasional penuh direncanakan mulai 2028, sementara Micron menyiapkan pabrik HBM senilai US$9,6 miliar di Hiroshima, Jepang.
Dampaknya sudah terasa luas. Lembaga riset Gartner memproyeksikan harga gabungan DRAM dan SSD bisa melonjak hingga 130 persen pada akhir 2026. Harga PC diperkirakan naik sekitar 17 persen secara tahunan, sementara masa pakai perangkat justru memanjang—15 persen lebih lama untuk pengguna bisnis dan 20 persen untuk konsumen. Pengiriman PC global pun diprediksi turun 10,4 persen, dan smartphone menyusut 8,4 persen sepanjang 2026.Chey Tae-won mengingatkan, fokus berlebihan pada HBM berisiko menciptakan kelangkaan DRAM standar yang menjadi tulang punggung perangkat elektronik sehari-hari. Dengan investasi baru mayoritas dialokasikan ke segmen premium AI yang marginnya jauh lebih menggiurkan, krisis pasokan memori konvensional diprediksi masih akan menghantui industri hingga akhir dekade ini.Bagi konsumen, artinya satu hal: bersiaplah menghadapi harga gadget dan komponen komputer yang terus merangkak naik, setidaknya hingga kapasitas produksi wafer benar-benar menyusul permintaan—sesuatu yang menurut para pelaku industri masih butuh waktu bertahun-tahun lagi.



















