Waktu baca: 4 menit

TEHERAN — Tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei dalam insiden pembunuhan tak sekadar mengguncang politik dalam negeri, tapi memicu alarm di seluruh dunia. Washington hingga Tel Aviv menyaksikan dengan napas tertahan, sebab keputusan empat kandidat yang telah disiapkan Khamenei sebelumnya bakal menentukan arah konflik regional: mulai dari program nuklir Tehran, dukungan kepada militan Lebanon dan Yaman, hingga dinamika minyak global yang mengguncang pasar energi dunia.

Kekosongan kursi pemimpin tertinggi Iran untuk pertama kalinya dalam 35 tahun terakhir membuka babak baru ketidakpastian geopolitik. Berbeda dengan transisi kekuasaan sebelumnya, kematian Khamenei datang secara tiba-tiba dan tragis—dibunuh dalam situasi yang detailnya masih diselidiki—meninggalkan negara dalam kevakuman kepemimpinan saat ketegangan regional sedang memuncak.

Empat Nama, Satu Kursi, dan Miliaran Nyawa di Ujung Keputusan

Sumber-sumber di dalam Dewan Penjaga Konstitusi Iran mengonfirmasi bahwa Khamenei telah menyusun daftar pendek empat tokoh sebelum kematiannya. Keempatnya berasal dari lingkaran dalam rezim, dengan track record berbeda-beda dalam soal hubungan dengan Barat dan postur militer.

Pertama, Ebrahim Raisi—sebelumnya menjabat Presiden Iran yang tewas dalam kecelakaan helikopter Mei 2024—sempat masuk dalam pertimbangan, namun kematiannya membuka ruang bagi kandidat lain.

Kedua, Mojtaba Khamenei, putra sulung Khamenei yang dikenal sebagai kingmaker di balik layar, dianggap berpeluang besar meski kurang pengalaman publik.

Ketiga, Sadeq Larijani, Ketua Dewan Expediency yang berpengalaman dalam diplomasi internasional.

Keempat, Hossein Salami, komandan Pasukan Garda Revolusi yang mewakili garis keras militer.

“Pilihan di antara empat ini bukan sekadar pergantian pemimpin,” ujar Profesor Ali Vaez, direktur proyek Iran di Crisis Group. “Ini adalah keputusan yang akan menentukan apakah Iran akan melanjutkan konfrontasi dengan Barat atau membuka pintu negosiasi yang selama ini tertutup rapat.”



AS dan Israel Bersiaga, Eropa Kirim Utusan Rahasia ke Tehran

Reaksi internasional datang cepat dan tegang. Gedung Putih menggelar rapat darurat Dewan Keamanan Nasional dalam 24 jam pasca pengumuman kematian Khamenei. Presiden AS dalam pernyataan singkat menegaskan: “Amerika Serikat mengawasi perkembangan dengan serius. Kami siap untuk segala kemungkinan.”

Israel, yang selama ini menjadi musuh bebuyutan Iran, memasang status siaga tinggi di seluruh perbatasan dan instalasi diplomatik di luar negeri. “Kami tidak tahu siapa yang akan mengendalikan senjata nuklir Iran besok,” kata seorang pejabat intelijen Israel yang tak mau disebutkan namanya. “Itu membuat situasi ini sangat berbahaya.”

Sementara itu, Uni Eropa mengirimkan utusan-utusan rahasia ke Tehran untuk meraba kemungkinan dialog, terutama jika kandidat moderat seperti Larijani yang terpilih. “Eropa tidak ingin melihat Timur Tengah terbakar lebih jauh,” ujar seorang diplomat senior UE di Brussels.

Harga Minyak Meroket 12 Persen, Pasar Energi Ketar-ketir

Dampak langsung terasa di pasar global. Harga minyak mentah Brent melonjak 12 persen dalam dua hari perdagangan, menembus angka 92 dolar AS per barel untuk pertama kalinya dalam enam bulan. Investor khawatir bahwa transisi yang tidak mulus atau terpilihnya kandidat garis keras bisa memicu konflik di Selat Hormuz—jalur vital pengiriman 20 persen minyak dunia.

“Ketidakpastian politik Iran adalah bahan bakar terbaik untuk volatilitas harga energi,” kata Fatih Birol, kepala Badan Energi Internasional (IEA). “Jika konflik merembet ke infrastruktur minyak regional, kita bisa melihat krisis energi yang lebih parah dari 2022.”

Bursa saham global merosot, dengan indeks-indeks utama di Wall Street, London, dan Tokyo mencatat kerugian signifikan. Safe haven seperti emas dan dolar AS melonjak permintaan.

Dari Moderat hingga Garis Keras Siapa Paling Berpeluang?

“Mojtaba adalah pilihan paling aman bagi status quo, tapi paling berbahaya bagi stabilitas regional,” analisis Dr. Sanam Vakil dari Chatham House. “Larijani menawarkan jalan tengah, tapi mungkin terlalu lemah untuk mengendalikan militer.”

Dewan Penjaga Konstitusi Iran dijadwalkan mengadakan sesi darurat dalam beberapa hari mendatang untuk menentukan proses seleksi. Berbeda dengan sistem demokrasi, keputusan akhir bergantung pada negosiasi di balik pintu tertutup antara para ajatollah senior, komandan militer, dan elite politik.Dunia, sementara itu, hanya bisa menunggu. Setiap hari kekosongan berlanjut adalah hari ketidakpastian bertambah—dan risiko kesalahan kalkulasi yang bisa memicu konflik lebih luas.Di Tehran, bendera hitam berkibar setengah tiang. Tapi di markas-markas militer, kedutaan besar, dan bursa saham di seluruh dunia, semua mata tertuju pada satu pertanyaan siapa yang akan mengambil alih?

Editor : Mang Asuy