Waktu baca: 5 menit
28 Maret 2026, langit di atas National Mall Washington D.C. masih biru cerah ketika lautan manusia mulai memadati tangga Monumen Lincoln. Ribuan spanduk putih bertuliskan “NO KINGS” dan “Democracy Since 1776” berkibar di angin musim semi. Di Minneapolis, ratusan ribu orang mengepung Gedung Capitol Minnesota, sementara di Los Angeles, demonstran memblokir jalan-jalan pusat kota hingga polisi harus mengeluarkan gas air mata. Bukan sekadar protes biasa. Ini adalah gelombang ketiga aksi nasional “No Kings” — dan menurut penyelenggara, yang terbesar sepanjang sejarah modern Amerika: setidaknya 8 juta orang turun ke jalan di lebih dari 3.300 lokasi, di semua 50 negara bagian, bahkan merembet ke beberapa kota di luar negeri.
Ini bukan sekadar jumlah. Ini adalah suara frustrasi yang sudah lama mendidih. Gerakan “No Kings” lahir sebagai respons langsung terhadap gaya kepemimpinan Donald Trump di masa jabatan keduanya. Nama “No Kings” sendiri diambil dari prinsip dasar republik Amerika: tak ada seorang pun — bahkan presiden — yang berada di atas hukum. “Trump ingin memerintah kita sebagai seorang tiran,” kata salah seorang koordinator Koalisi No Kings seperti dikutip BBC. “Tapi ini Amerika, dan kekuasaan adalah milik rakyat — bukan milik calon raja atau kroni-kroni miliarder mereka.”
Aksi kali ini dipicu oleh dua isu utama yang menyatukan kelompok yang biasanya terpecah: perang di Iran dan kebijakan imigrasi yang semakin keras. Sejak Trump memerintahkan operasi militer ke Iran Februari lalu, harga bensin dan energi melonjak, membebani keluarga kelas menengah yang sudah kesulitan akibat inflasi. Di sisi lain, operasi ICE (Immigration and Customs Enforcement) yang melibatkan agen bertopeng di bandara dan kota-kota besar menuai kritik keras. Insiden fatal di Minnesota — di mana seorang imigran tak berdosa tewas dalam penangkapan — menjadi katalisator emosional yang memicu gelombang protes ini.
Ini adalah kali ketiga gerakan ini menggelar aksi nasional. Gelombang pertama Juni 2025 menarik sekitar 5 juta orang. Oktober 2025 naik menjadi 7 juta. Kini, Maret 2026, angka 8 juta membuatnya menjadi salah satu mobilisasi massa satu hari terbesar dalam sejarah Amerika. Yang menarik, protes tak hanya terjadi di kota-kota besar seperti New York, Chicago, dan Los Angeles, tapi juga di kota kecil di Alaska hingga komunitas pedesaan di Midwest. “Kami mencatat 8 juta peserta, dan kami menargetkan lebih dari 9 juta jika gelombang ini terus berlanjut,” kata perwakilan penyelenggara.

Di lapangan, suasana campuran antara amarah dan harapan. Seorang ibu rumah tangga di Denver, yang tak ingin disebut namanya, mengatakan kepada reporter NPR, “Saya datang bukan karena saya suka politik. Saya datang karena anak-anak saya takut setiap kali ada sirene polisi. Ini soal masa depan mereka.” Veteran perang Irak membawa plakat “No More Wars for Oil”, sementara kelompok imigran Latin menampilkan drama teatrikal yang menggambarkan “raja” Trump di atas singgasana emas. Musik Bruce Springsteen mengalun di Minnesota, menyatukan generasi baby boomer hingga Gen Z yang lahir setelah 11 September.
“We No Longer Have a Difference in Opinion — We Have a Difference in Morality” mencerminkan polarisasi yang semakin tajam
Reaksi dari Gedung Putih tak mengejutkan. Juru bicara Trump menyebut aksi ini sebagai “kebencian terhadap negara” dan “unjuk rasa benci Amerika”. Trump sendiri, seperti responsnya di aksi sebelumnya, berkata, “Saya bukan raja. Saya kerja keras setiap hari untuk membuat negara ini hebat.” Pernyataan itu justru menjadi bahan lelucon di media sosial, dengan netizen membalas, “Kalau begitu, kenapa kami harus merasa seperti rakyat jelata di kerajaan?”
Namun di balik sorotan kamera dan headline, ada pertanyaan yang lebih dalam: apakah aksi damai sebesar ini akan mengubah kebijakan? Sejarah menunjukkan gerakan massa seperti Women’s March 2017 atau Black Lives Matter 2020 pernah mengguncang opini publik, meski tak selalu langsung menggulingkan presiden. Kali ini, dengan pemilu midterm yang mendekat, “No Kings” berpotensi menjadi alat tekan bagi Partai Demokrat — sekaligus pengingat bagi Trump bahwa meski ia menang pemilu, ia tak pernah punya “mandat raja”.Saat matahari terbenam di National Mall, ribuan demonstran tak langsung pulang. Mereka duduk melingkar, bernyanyi, dan berjanji akan kembali. “Ini bukan akhir,” kata seorang aktivis muda di Los Angeles. “Ini baru permulaan.” Di tengah angin malam yang dingin, spanduk “NO KINGS” masih berkibar — pengingat bahwa di republik ini, rakyatlah yang memegang mahkota.




















