Waktu baca: 5 menit

Lembah Para Raja, Mesir — Di bawah terik matahari Thebes yang membakar, sebuah tangga batu yang tersembunyi selama tiga milenium akhirnya menyingkapkan dirinya dari balik timbunan puing dan debu sejarah. Tanggal 4 November 1922, menjadi hari ketika waktu seakan berhenti. Howard Carter, seorang arkeolog Inggris dengan keyakinan yang tak pernah padam, berdiri di depan pintu yang segelnya masih utuh. Di balik batu dan plester itu, tidur seorang raja muda yang telah lama dilupakan dunia, Tutankhamun.

Tepat 103 tahun lalu, pada 16 Februari 1923, Carter dan rombongannya, disaksikan oleh para pejabat penting dan undangan, melangkahkan kaki ke ruang paling suci. Namun, di balik kemegahan ruang pemakaman yang penuh emas itu, sebuah kisah lain mulai berbisik—kisah tentang ambisi, kematian misterius, dan apa yang kemudian dikenal sebagai “Kutukan Para Firaun”.

Gema dari Masa Lalu yang Tersembunyi

Pada akhir November 1922, sebuah tangga muncul dari bawah gundukan puing-puing makam lain. Di dasar tangga itu, sebuah pintu dengan cartouche bertuliskan nama “Tutankhamun” menanti. Saat Carter membuat lubang kecil di pintu itu dan memasukkan lilin, Arthur Callender yang berada di belakangnya bertanya, “Dapatkah Tuan melihat sesuatu?” Jawaban Carter abadi hingga kini,”Ya, hal-hal yang menakjubkan.”



Di dalamnya, dunia disuguhkan pada pemandangan yang belum pernah terlihat sebelumnya. Bukan hanya emas, tetapi juga kereta perang, singgasana berlapis emas, tempat tidur berbentuk hewan mitos, dan ribuan benda yang seolah baru kemarin ditinggalkan penghuninya. Namun, kemegahan ini hanyalah prolog. Klimaksnya terjadi pada 16 Februari 1923, ketika Carter membuka pintu terakhir menuju kamar pemakaman.

Ketika Emas Bertemu dengan Maut

Di ruang tengah itu, berdiri sebuah kuil besar berlapis emas yang melindungi serangkaian peti mati. Setelah berbulan-bulan kerja teliti, akhirnya mereka sampai pada peti mati terdalam. Ketika tutupnya diangkat, dunia menarik napas. Di dalamnya, topeng emas murni menutupi wajah firaun muda yang telah beristirahat selama lebih dari 3.000 tahun. Muminya, terawetkan dengan sempurna, seolah hanya tertidur.Namun, tak lama setelah kemegahan ini tersiar ke seluruh dunia, kabar buruk mulai berhembus dari Lembah Para Raja. Lord Carnarvon, sang patron, digigit nyamuk di pipinya. Gigitan itu terinfeksi setelah ia secara tidak sengaja menyayatnya saat bercukur.