Pada 5 April 1923, beberapa bulan setelah menyaksikan langsung pembukaan makam, Carnarvon meninggal dunia di Kairo.Kabar kematiannya menyebar cepat. Konon, pada saat yang sama, seluruh lampu di Kairo padam seketika. Dan lebih jauh lagi, di tanah kelahirannya, Inggris, anjing kesayangan Carnarvon, Susie, melolong dan mati pada malam yang sama. Media massa, yang haus akan sensasi, segera mengaitkan peristiwa ini dengan sebuah prasasti misterius yang konon ditemukan di makam,”Kematian akan segera menjemput mereka yang mengganggu tidur sang Firaun.”



Legenda yang Terukir oleh Waktu dan Kata-kata

Meskipun para ilmuwan dan Egyptolog sepakat bahwa tidak ada prasasti kutukan semacam itu di makam Tutankhamun, narasi mistis telah lahir. Beberapa tahun kemudian, jurnalis dan bahkan pengamat lain mencatat serangkaian kematian “tak wajar” yang menimpa mereka yang terkait dengan ekspedisi ini. Arkeolog, asisten pribadi Carnarvon, bahkan pengunjung makam, dikabarkan mati satu per satu.Para skeptis memiliki penjelasan yang lebih masuk akal. Makam yang tertutup rapat selama ribuan tahun bisa menjadi sarang bakteri, jamur, atau spora berbahaya.

Lingkungan yang lembap dan gelap adalah tempat ideal bagi mikroorganisme yang mungkin memicu penyakit pada manusia modern yang tidak memiliki kekebalan terhadapnya. Selain itu, faktor psikologis dan sugesti juga berperan besar.Namun, terlepas dari penjelasan ilmiah, kisah “Kutukan Firaun” telah menjadi legenda yang tak terpisahkan dari penemuan Tutankhamun. Mitos ini tidak hanya menambah lapisan misteri pada peradaban Mesir kuno, tetapi juga mencerminkan rasa kagum sekaligus gentar manusia modern terhadap kekuatan masa lalu.