Waktu Baca : 3 menit

Tasikmalaya – Pagi belum benar-benar pagi jika belum ada rasa cemas yang mengiringi langkah kecil menuju sekolah. Di sebuah kawasan di Kota Tasikmalaya, pelajar memulai hari bukan dengan buku, melainkan dengan sebuah “ujian nyali”. Mereka adalah para pejalan kaki cilik yang harus berbagi ruang dengan truk-truk tambang raksasa di jalur sempit penuh debu, hanya untuk mengenyam pendidikan.

Bagi mereka, jalan menuju sekolah bukanlah tentang trotoar yang nyaman atau penyeberangan yang aman. Setiap pagi adalah sebuah pertaruhan. Di satu sisi ada tekad untuk belajar, di sisi lain ada deru mesin kendaraan berat yang lalu lalang, seolah tak peduli dengan seragam putih biru yang melintas. Sebuah pemandangan yang kontras: semangat menimba ilmu harus beradu dengan risiko yang mengancam keselamatan jiwa.

Seorang orangtua murid, yang namanya enggan disebut, menggambarkan keprihatinannya. Suaranya lirih namun sarat akan pertanyaan yang menggantung. “Kalau memang mau dibangun, kapan? Kalau belum, sampai kapan anak-anak harus lewat jalan seperti ini?” ujarnya, seperti dikutip dari radartasik.id, Kamis (12/2/2026).



Pertanyaan polos itu menjadi gema dari keresahan puluhan keluarga lainnya. Anak-anak mereka setiap pagi berpamitan, bukan hanya untuk mencari ilmu, tetapi juga untuk menaklukkan medan yang bisa saja merenggut mimpi mereka dalam sekejap. Kegelisahan ini bukan sekadar suara satu orang, melainkan suara hati para orangtua yang setiap detik dibayangi rasa khawatir selama buah hati mereka belum tiba di gerbang sekolah.

Sekolah-sekolah di kawasan itu mungkin telah berdiri kokoh, menyediakan ruang kelas untuk mencerdaskan bangsa. Namun, apa artinya gedung megah jika jalan untuk mencapainya adalah sebuah lorong maut? Infrastruktur pendukung, seperti akses jalan yang aman bagi pejalan kaki, bukanlah sebuah kemewahan. Ia adalah kebutuhan dasar yang seharusnya hadir sebelum seorang anak melangkahkan kaki.

“Anak-anak itu setiap hari berangkat untuk belajar, bukan untuk menghadapi risiko di jalan,” tegas orangtua tersebut. Sebuah kalimat sederhana yang menusuk, mengingatkan bahwa hak anak atas pendidikan juga mencakup hak atas keselamatan dalam perjalanan meraihnya.

Kota Tasikmalaya, yang terus berbenak, seharusnya tidak membiarkan akses pendidikan berubah menjadi “ujian nyali” setiap pagi. Ujian yang sesungguhnya untuk anak-anak adalah soal-soal di papan tulis, bukan keberanian melawan laju truk tambang yang tak kenal ampun. Sampai kapan tali tambang antara harapan dan risiko ini akan terus direntangkan di jalanan mereka?