Waktu baca: 5 menit
Banjarnegara – Sebuah video amatir berdurasi pendek menjadi viral dan menyita perhatian publik. Dalam rekaman itu, seorang pria berseragam dinas warna khaki keluar dari sebuah gedung. Bajunya compang-camping, kacamatanya hancur, dan raut wajahnya menunjukkan kesakitan. Ia adalah Welas Yuni Nugroho, atau yang lebih dikenal dengan sapaan akrabnya, Hoho Alkaf, Kepala Desa Purwasaba, Kecamatan Mandiraja, Kabupaten Banjarnegara.
Peristiwa nahas itu terjadi pada Selasa (11/3/2026) siang. Hoho Alkaf baru saja keluar dari ruang audi嫕si di Balai Desa Purwasaba. Ratusan anggota Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang menamakan diri LSM Harimau telah menunggunya dengan emosi yang memuncak. Sebelum aparat kepolisian sempat mengawalnya dengan sempurna, sekelompok orang dari kerumunan langsung meluapkan amarahnya. “Waktu saya baru keluar dari pintu aula, sebelum dikawal, langsung pukulan menghujani dari belakang, samping, dan depan. Kacamata saya sampai remuk karena dipukul dari depan,” ujar Hoho lirih saat menceritakan ulang kejadian tersebut dari akun Instagram pribadinya, @hoho_alkaff, seperti dikutip dari Tribunnews.com .
Bukan Kades Biasa
Kekerasan yang menimpa Hoho sontak mengagetkan banyak pihak. Pasalnya, ia bukanlah kepala desa biasa. Pria kelahiran Banjarnegara, 11 Juni 1983 ini, dikenal sebagai sosok yang “nyentrik” dan ikonik. Penampilannya jauh dari stereotip seorang pamong desa pada umumnya. Hampir di sekujur tubuhnya—tangan, punggung, hingga kaki—terpampang tato dengan berbagai motif . Penampilannya yang seperti “Yakuza” atau gangster Jepang ini sering kali menjadi perbincangan hangat di media sosial, jauh sebelum insiden pengeroyokan terjadi .
Di balik tampang “sangar”-nya, tersimpan hati yang lembut dan kepedulian tinggi pada warganya. Sebagai mantan kontraktor dan pemilik usaha penyewaan alat berat, Hoho tak segan merogoh kocek pribadi untuk kemajuan desa. Ia pernah menghibahkan mobil pribadinya untuk operasional desa . Ia juga mengaspal jalan desa sepanjang 800 meter dengan uangnya sendiri . Tak hanya itu, ia bahkan berencana membeli mobil ambulans untuk warganya dari kantong pribadi. “Enggak pakai APBDes, karena terbatas,” ujarnya suatu ketika, seperti dilansir dari Swanara.com .Dia dikenal sebagai pribadi yang religius. Kontras dengan tato yang memenuhi tubuhnya, Hoho ternyata rajin menjalankan ibadah puasa sunah, seperti Puasa Daud dan Senin-Kamis . Jiwanya yang sosial dan transparan dalam mengelola dana desa—bahkan rela membuat video penjelasan penggunaan anggaran dengan gaya gaul “Assalamualaikum besti-bestiku”—membuatnya dicintai warganya dan menjadi simbol keterbukaan informasi publik di tingkat desa .
Antara Regulasi dan Kepentingan
Lantas, apa yang memicu amarah massa hingga tega menghajar seorang kepala desa yang tengah menjalankan tugasnya? Insiden ini berawal dari proses penjaringan seleksi perangkat desa yang digelar Pemerintah Desa Purwasaba. Sejumlah oknum yang tergabung dalam LSM Harimau ikut serta dalam seleksi tersebut, namun gagal karena nilai mereka berada di bawah standar yang ditetapkan .Alih-alih menerima kekalahan, mereka justru menuntut agar seleksi diulang dan pelantikan perangkat desa terpilih ditunda. Puluhan hingga ratusan anggota LSM pun berdemo, berusaha menekan Hoho Alkaf. Namun, Hoho bergeming. Dengan tegas ia menolak tuntutan tersebut karena seluruh proses seleksi telah berjalan sesuai dengan regulasi yang berlaku. “Mereka nilainya di bawah, tapi maunya diulang.
Kita kiblatnya regulasi, tapi mereka tetap tidak mau tahu. Tidak mungkin hasil seleksi dibatalkan hanya karena tekanan pihak tertentu,” tegasnya kepada Tribunbanyumas.com .Penolakan keras inilah yang diduga menjadi pemicu kemarahan massa. Bukan hanya aspirasi yang ditolak, beberapa sumber menyebut ada “dendam pribadi” di balik topeng aksi tersebut . Seleksi perangkat desa yang seharusnya menjadi ajang mencari pamong terbaik, berubah menjadi ajang adu fisik yang menimpa kepala desa.
Keadilan yang Dicari
Akibat pengeroyokan itu, Hoho mengalami luka fisik dan kerugian materiel. Pakaian dinasnya robek, papan nama dan atribut jabatannya rontok ditarik massa, dan kacamata yang ia kenakan remuk . Namun, luka yang paling dalam mungkin adalah rasa kecewa terhadap kinerja aparat keamanan yang dianggapnya kurang sigap.Usai mediasi yang memanas di Polsek Mandiraja, kejadian pengeroyokan justru terjadi. Hoho bahkan menuding Kapolsek Mandiraja mengusir pendukungnya yang hanya berjumlah sekitar 10 orang, sementara massa LSM yang jumlahnya ratusan justru dibiarkan berkumpul . “Kapolsek Mandiraja mengusir teman-teman saya yang sekitar 10 orang dengan tegas, bilang ‘sikat-sikat-sikat’.
Sementara dari LSM Harimau ratusan orang tidak disuruh keluar,” klaimnya, seperti dikutip dari Swarajombang.com .Pernyataan ini langsung dibantah oleh Kapolsek Mandiraja, AKP Akbarul Hamzah. Ia menyebut pengusiran pendukung Hoho dilakukan semata-mata untuk mencegah terjadinya bentrokan antar massa yang lebih besar . Terlepas dari perbedaan versi ini, Hoho merasa harus mencari keadilan. Dengan berbalut perban di kepalanya, ia bersuara lantang. “Saya pejabat pemerintah sudah melaksanakan pekerjaan sebaik-baiknya. Saya minta keadilan kepada Camat, Bupati, hingga Propam Mabes Polri,” pungkasnya .Hingga berita ini diturunkan, tiga orang anggota LSM telah ditetapkan sebagai tersangka atas kasus penganiayaan tersebut .
Bagi Hoho Alkaf, perjalanan untuk membuktikan bahwa kebenaran dan regulasi tidak boleh kalah oleh tekanan massa mungkin masih panjang. Pria dengan tato di sekujur tubuhnya itu kini menjadi simbol perlawanan seorang pamong desa terhadap intimidasi, membuktikan bahwa kepemimpinan sejati tidak dinilai dari kulit, melainkan dari keteguhan hati membela aturan dan warganya.



















