Waktu baca: 3 menit
TASIKMALAYA — Suasana peresmian Twins Convention Hall di Kota Tasikmalaya beberapa waktu lalu berlangsung meriah. Namun, di tengah suka cita peluncuran gedung pertemuan representatif tersebut, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi melontarkan kritikan yang menggugah pemikiran banyak orang.Dedi Mulyadi, yang dikenal dengan gaya komunikasinya yang blak-blakan dan dekat dengan rakyat, tidak sungkan menyampaikan keberatannya terhadap pemberian nama gedung tersebut. Bagi pria yang akrab disapa Kang Dedi ini, nama “Twins Convention Hall” terasa kurang bermakna—terlalu asing dan kehilangan jejak identitas lokal.
Lebih dari Sekadar Label
Dalam sambutannya, Dedi Mulyadi menyarankan agar pemilik gedung mempertimbangkan untuk menggunakan nama tokoh atau bahkan nama orang tua pemilik gedung. Bagi gubernur yang baru menjabat sejak 20 Februari 2025 ini, sebuah nama bukan sekadar label arsitektural—namun merupakan doa yang terucap setiap kali tempat tersebut disebut, serta memiliki nilai branding yang jauh lebih personal.”Ketika kita memberi nama sesuatu dengan nama seseorang yang kita hormati, setiap kali nama itu disebut, doa pun terpanjatkan untuknya,” ujar Dedi dalam acara tersebut.
Pola Pemikiran yang Konsisten
Kritik Dedi Mulyadi terhadap penggunaan nama asing bukanlah hal yang baru. Dalam beberapa kesempatan berbeda, gubernur asal Subang ini telah menunjukkan konsistensi dalam memperjuangkan penggunaan nama-nama yang bermakna secara kultural.Baru-baru ini, Dedi Mulyadi juga menuai perhatian saat mengganti nama gedung bersejarah di Cirebon dari “Gedung Negara” menjadi “Bale Jaya Dewata”—sebuah langkah yang memicu perdebatan di kalangan budayawan. Beberapa pihak mengkritik keputusan tersebut karena dianggap tidak melalui proses musyawarah yang memadai, namun bagi Dedi, perubahan nama tersebut merupakan upaya mengembalikan identitas Sunda dan menghidupkan kembali nilai-nilai lokal.
Branding dan Identitas Lokal
Kembali ke Tasikmalaya, saran Dedi Mulyadi tentang penggunaan nama personal atau tokoh lokal bukan tanpa dasar. Kota yang dijuluki “Kota Tasik Resik” ini memiliki warisan budaya yang kaya—dari tradisi seni wayang golek hingga kerajinan tenun. Mengaitkan nama gedung dengan elemen-elemen tersebut, atau dengan tokoh-tokoh yang berjasa bagi masyarakat setempat, bisa menjadi cara untuk memperkuat branding kota sekaligus menghormati akar budaya.Dalam konteks yang lebih luas, sikap Dedi Mulyadi mencerminkan keprihatinan banyak pemimpin daerah di Indonesia akan semakin pudarnya identitas lokal di tengah arus globalisasi. Gedung-gedung megah dengan nama-nama berbau internasional memang terdengar mewah, namun seringkali kehilangan jiwa dan koneksi emosional dengan masyarakat sekitarnya.
Sebuah pemikiran sederhana, namun dalam, dari seorang gubernur yang terus mengingatkan kita “bahwa dalam setiap nama, ada jiwa yang harus dijaga”



















