Waktu baca: 6 menit

Langit Mediterania Timur yang tadinya tenang tiba-tiba bergemuruh. Sebuah wahana maut bertipe Shahed menyelinap melewati radar canggih milik Royal Air Force, menghantam landasan pacu Pangkalan Udara Akrotiri di Siprus—markas strategis Inggris yang menjadi saksi bisu konflik Timur Tengah sejak era kolonial.

SENJA DI SEMENANJUNG AKROTIRI

Tepat pada tengah malam 2 Maret 2026, ketika sebagian besar personel militer di pangkalan bersejarah itu sedang beristirahat, sebuah drone jenis Shahed—jenis yang identik dengan arsenal Iran—berhasil menerobos pertahanan udara RAF. Wahana itu kemudian menghantam sebuah hanggar pesawat di dekat landasan pacu, menciptakan dentuman yang mengguncang pulau kecil di ujung selatan Siprus itu.

Meski tidak menimbulkan korban jiwa, serangan tersebut menandai babak baru dalam eskalasi konflik regional. Bagi Siprus, ini adalah pertama kalinya sejak invasi Turki 1974—yang membelah pulau itu menjadi dua—bahwa wilayah mereka menjadi sasaran serangan militer aktif dari negara ketiga.

Namun yang lebih menarik perhatian adalah pernyataan mengejutkan yang keluar dari Kementerian Pertahanan Inggris dua hari kemudian. Melalui akun resmi X, London dengan tegas menyangkal bahwa drone tersebut diluncurkan dari Iran—meski secara visual dan teknis identik dengan drone Shahed buatan Teheran.



PARADOKS IDENTITAS

“Kementerian Pertahanan dapat memastikan bahwa drone yang menyerupai jenis Shahed yang menargetkan AU Inggris di Akrotiri, Siprus, pada tengah malam 2 Maret tidak diluncurkan dari Iran,” demikian bunyi pernyataan resmi Kemhan Inggris yang sekaligus menampik laporan media sebelumnya .

Pernyataan ini membuka spekulasi liar di kalangan pengamat militer. Jika bukan dari Iran, dari mana? Lebanon—di mana proxy Iran, Hezbollah, masih memiliki infrastruktur peluncuran meski telah terukur intensitas konfliknya dengan Israel—menjadi dugaan terkuat [^6^]. Beberapa sumber pertahanan bahkan menyebut kemungkinan drone diluncurkan dari dalam wilayah Lebanon yang masih menjadi zona konflik aktif.

Ironisnya, penyangkalan ini datang di tengah operasi militer besar-besaran yang dilancarkan Inggris untuk memperkuat pertahanan pangkalan. Jet tempur siluman F-35B—yang digadang-gadang sebagai salah satu pesawat tempur paling canggih di dunia—diterjunkan untuk patroli udara tempur (Combat Air Patrol) di atas Laut Mediterania Timur. Mereka menggunakan radar array elektronik untuk melacak drone berlevel rendah yang menuju ke arah pangkalan.

Operasi ini bukan tanpa hambatan. F-35B yang terkenal haus bahan bakar itu harus didukung oleh tanker udara Airbus A330 Voyager, yang terlihat berputar-putar di selatan Akrotiri sepanjang 2 Maret—jejak digital yang terekam di situs pelacakan Flightradar24.com

RESPONS REGIONAL

Serangan drone itu seperti batu yang dilempar ke kolam tenang, menciptakan riak-riak respons militer dari berbagai penjuru Eropa. Yunani, yang memiliki ikatan historis dan budaya kuat dengan Siprus, dengan cepat mengirimkan empat jet tempur F-16 Viper dan dua fregat kelas cutting-edge ke perairan Siprus pada 2 Maret.

Prancis memesan peralatan pertahanan udara dan anti-drone, serta mengirimkan dua kapal perang ke Siprus. Jerman juga diharapkan segera mengirimkan kapal perangnya [^13^]. Sementara itu, Perdana Menteri Inggris Keir Starmer memerintahkan pengiriman kapal perusak pertahanan udara Type 45, HMS Dragon, bersama helikopter Angkatan Laut Wildcat yang dipersenjatai rudal Martlet—senjata yang mampu menangkal ancaman dari udara.

Di pertunjukan kekuatan ini, terdapat kegelisahan mendalam. NATO, yang seharusnya menjadi payung pertahanan kolektif, justru menepikan diri. Sekjen NATO Mark Rutte menegaskan bahwa aliansi “tidak terlibat” dalam apa yang terjadi di Timur Tengah, meski berjanji akan “mempertahankan setiap inci wilayah NATO” jika diperlukan

Siprus sendiri, sebagai salah satu dari empat negara anggota Uni Eropa yang tidak tergabung dalam NATO, mendapati dirinya dalam posisi yang sangat genting. Presiden Nikos Christodoulides terpaksa menenangkan warga dengan pernyataan tegas bahwa negaranya “tidak pernah, sedang, dan tidak akan ambil bagian dalam tindakan militer apa pun”

Akrotiri bukan sekadar pangkalan militer biasa. Berdiri di semenanjung berbentuk persegi seluas 255 kilometer persegi di ujung selatan Siprus, pangkalan ini adalah salah satu dari dua basis yang tetap dipertahankan Inggris sejak kemerdekaan Siprus pada 1960—warisan kolonial yang tak pernah benar-benar padam .Fasilitas ini pernah menjadi hub logistik utama untuk invasi AS ke Irak pada 2003, dan hingga kini masih menjadi rumah bagi pesawat mata-mata U2 yang melakukan penerbangan pengintasan di ketinggian ekstrem atas Timur Tengah . Selain infrastruktur militer, kawasan itu juga menampung keluarga personel yang bertugas—membuat serangan drone bukan hanya soal keamanan militer, tapi juga kemanusiaan .Setelah insiden drone, otoritas pangkalan mengimbau warga sipil di sekitar Akrotiri untuk tetap berlindung di tempat hingga pemberitahuan lebih lanjut. Personel non-esensial dievakuasi, sementara fasilitas Inggris lainnya tetap beroperasi normal—langkah-langkah yang mencerminkan ketegangan antara rutinitas dan kewaspadaan maksimal .

PERTANYAAN YANG MENGGANTUNG

Serangan ini meninggalkan beberapa pertanyaan krusial yang belum terjawab. Pertama, mengapa drone Shahed—jika memang bukan dari Iran—mampu menembus pertahanan udara yang seharusnya canggih? Pengamat pertahanan mencatat bahwa RAF sangat kekurangan kemampuan Ground-Based Air Defence (GBAD), mengandalkan terlalu banyak pada jet Typhoon untuk pertahanan udara—pendekatan yang jelas memiliki keterbatasan .

Kedua, bagaimana koordinasi antara lima negara yang kini memiliki aset militer di Siprus—Inggris, Yunani, Prancis, Turki, dan Siprus itu sendiri? Sumber militer mengakui bahwa yang ada hanyanya tautan informal, bukan struktur komando formal yang mampu merespons serangan swarm drone yang terkoordinasi .

Ketiga, dan yang paling penting: apa motivasi di balik serangan ini jika bukan untuk “membalas” penggunaan pangkalan Inggris oleh AS dalam kampanye terhadap Iran? Pemerintah Inggris bersikeras bahwa drone diluncurkan sebelum Keir Starmer mengumumkan keputusan mengizinkan AS menggunakan pangkalan Inggris—tapi argumen ini terdengar seperti poin yang sudah tidak relevan dalam dinamika konflik yang terus menggila .

Seperti dikatakan Anna Koukkides-Procopiou, Presiden think tank Politeia, dalam analogi yang menggigit: “Siprus seperti bola biliar yang duduk tak terganggu di sudut meja, hampir terlupakan, hingga tiba-tiba terdorong ke dalam saku setelah bola lain bertabrakan dengannya. Kami telah memilih sisi dan sekarang harus menghadapi konsekuensinya” .Di langit Siprus yang cerah, bayangan konflik Timur Tengah kini terpantul nyata di tanah Eropa. Dan sementara London terus menyangkal keterlibatan Tehran, wahana-wahana tanpa awak terus mengudara—mengingatkan kita bahwa dalam perang modern, batas-batas geografis sudah lama kehilangan artinya.