BANDUNG – Satu tahun berlalu sejak Farhan resmi memimpin Kota Bandung. Dalam berbagai dashboard kinerja, angka-angka kerap tampak hijau dan optimistis. Namun, di balik statistik yang dipromosikan, realitas fundamental kota masih menyodorkan ujian berat yang tak bisa diabaikan.
Kemacetan dan Transportasi
Pemerintahan Farhan kerap menggaungkan keberhasilan program seperti One Way dan penertiban trotoar untuk mengurai kemacetan. Namun, data dari TomTom Traffic Index 2023 masih mencatat Bandung sebagai kota termacet ke-4 di Indonesia. Warga mengeluhkan bahwa perbaikan di titik tertentu hanya memindahkan kemacetan ke titik lain. “Kebijakan quick wins terasa, tapi solusi sistemik seperti transportasi massal yang terintegrasi belum juga terlihat,” ucap Asep, seorang pengusaha yang rutin melintas kota.
Sampah dan Banjir
Di sektor lingkungan, inisiatif seperti bank sampah dan TPS 3R mendapat sorotan. Namun, volume sampah yang mencapai sekitar 1.500 ton per hari menurut DLHK Kota Bandung, masih menjadi beban besar. Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sarimukti yang terus menua pun tetap menjadi bom waktu. Hal ini beririsan langsung dengan persoalan banjir di sejumlah titik ketika hujan datang, menunjukkan bahwa normalisasi sungai dan perbaikan drainase butuh aksi yang lebih masif dan konsisten.
Daya Beli di Bawah Bayang-Bayang Inflasi
Meski pertumbuhan ekonomi Kota Bandung secara makro tercatat positif, gelombang inflasi nasional tahun lalu turut menyentuh lapisan terdasar. Pedagang di pasar tradisional seperti di Kosambi mengaku daya beli masyarakat belum pulih sepenuhnya. “Banyak yang masih hitung-hitungan ketat. Program bantuan untuk UMKM ada, tapi persaingan dengan marketplace dan beban operasional tetap tinggi,” tutur Sari, pedagang pakaian.
Mengakui Tantangan, Menjanjikan Percepatan
Merujuk pada refleksi satu tahun yang dilansir Porosmedia.com, Farhan menyadari kompleksitas masalah yang diwarisi. Ia menyebut capaiannya baru pada tahap “menyiapkan fondasi”. Di sisi lain, oposisi dan sejumlah pengamat mendorong agar kebijakan tidak hanya reaktif dan seremonial, tetapi benar-benar menyentuh akar masalah dengan percepatan yang terukur.
Tahun pertama kepemimpinan Farhan di Bandung memang diwarnai langkah-langkah awal dan pencitraan data. Namun, tahun kedua akan menjadi penentu apakah fondasi yang diteguhkan cukup kuat untuk menjawab tantangan mendasar—kemacetan struktural, pengelolaan sampah berkelanjutan, dan ketahanan ekonomi warga—yang semua warganya rasakan setiap hari. Masyarakat kini menanti transformasi data di layar menjadi kenyataan di jalan.
Oleh: R. Wempy Syamkarya, S.H., M.H.(Pengamat Kebijakan Publik dan Politik)
Editor : Fajar R Mantik
Sumber:
- Porosmedia.com: “Satu Tahun Kepemimpinan Farhan di Bandung: Antara Optimisme Data dan Realitas Fundamental”



















