Gelombang krisis global tak hanya menerjang pasar saham dan harga pangan, tetapi juga fondasi rumah tangga. Di tengah tingginya inflasi, ketidakpastian lapangan kerja, dan ekonomi yang terhuyung-huyung, gugatan cerai justru mengular di pengadilan agama. Yang menarik – dan mengkhawatirkan – adalah pola yang muncul: perpecahan itu seringkali tidak lagi didorong oleh kekerasan atau perselingkuhan, tetapi oleh satu kata yang kian hari kian menekan  ekonomi.

Seorang suami pulang dengan sisa-sisa tenaga dan harapan yang tertahan macet. Seorang istri menunggu di rumah dengan kecemasan yang menggumpal, mengkalkulasi ulang belanja bulanan yang tak pernah cukup. Dalam tekanan yang sama, rumah yang seharusnya menjadi bunker perlindungan justru kerap berubah menjadi arena saling menyalahkan. Akhirnya, perceraian pun dianggap sebagai solusi instan – sebuah ilusi bahwa status “sendiri” akan otomatis membawa napas lega dan jalan keluar finansial.

Namun, realita pascacerai kerap lebih kelam dari bayangan. Mantan istri yang berharap menemukan sosok “lebih mapan” harus berhadapan bukan hanya dengan sesama janda, tetapi juga dengan para lajang muda tanpa beban masa lalu yang dianggap lebih “menarik” di pasar perjodohan ulang. Sementara sang duda, yang merasa “ditinggalkan di tengah badai”, membawa trauma mendalam: ketakutan akan pengulangan sejarah. Tak heran jika dalam banyak kasus, mereka cenderung memilih pasangan yang lebih muda – bukan semata soal nafsu, tetapi lebih sebagai pelarian dari luka dan bentuk pertahanan diri psikologis.

Fenomena ini bukan sekadar opini. Data Badan Pusat Statistik (BPS) dan Mahkamah Agung RI menunjukkan tren yang konsisten, masalah ekonomi kerap masuk dalam tiga besar penyebab perceraian di Indonesia, bersanding dengan alasan klasik seperti perselisihan terus-menerus dan ketidakharmonisan. Laporan BPS (2022) menyebutkan, dari ratusan ribu kasus cerai, faktor ekonomi mendominasi gugatan cerai yang diajukan oleh istri. Sementara, penelitian dari Jurnal Psikologi Sosial (2021) mengungkap bahwa tekanan finansial yang kronis dapat memicu konflik komunikasi, mengurangi kepuasan pernikahan, dan meningkatkan keinginan untuk berpisah – sebuah pola yang kian menguat di masa resesi.

Lantas, apakah ini berarti perempuan harus diam saja menderita dalam kesempitan? Tidak. Para pakar membedakan antara “kesulitan ekonomi” sebagai ujian temporer, dengan “kezaliman finansial” seperti pengelolaan uang yang destruktif atau kemalasan kronis. Maya Safira, M.Psi., Psikolog Klinis, dalam sebuah webinar tentang ketahanan keluarga (2023), menegaskan, “Yang perlu dikulik adalah apakah kedua pihak masih memiliki goodwill – niat baik untuk berjuang bersama – atau sudah kehilangan respek dan kepercayaan dasar.”

Pertanyaan besarnya adalah,di saat dunia dilanda badai, mengapa justru banyak rumah tangga yang memilih merobohkan tempat berlindungnya sendiri, alih-alih memperkuat fondasinya? Krisis seharusnya menjadi momentum untuk menguji dan memperdalam makna kemitraan, bukan sekadar transaksi materi.

“Pernikahan tidak pernah dijanjikan selalu lapang. Yang dijanjikan adalah ujian,” tulis sebuah renungan di media sosial yang viral beberapa waktu lalu. Kalimat itu menyentuh inti persoalan. Jika setiap kesempitan dijawab dengan gugatan, maka kita bukan hanya memproduksi generasi yang trauma terhadap komitmen, tetapi juga melanggengkan siklus hubungan berbasis transaksi yang rapuh.

Pada akhirnya, yang perlu diperbaiki mungkin bukan siapa pasangan kita, tetapi cara kita memaknai setia, sabar, dan bertumbuh bersama dalam ketidakpastian. Sebab, rumah tangga yang dibangun hanya dengan standar materi, akan runtuh oleh badai ekonomi pertama yang menghantam. Sebaliknya, rumah tangga yang dibangun dari fondasi ketahanan mental, komunikasi empatik, dan visi bersama, justru sering kali menemukan kekuatannya di tengah kesulitan.

Di ujung jalan, pilihan ada di tangan masing-masing pasangan: menjadikan krisis sebagai alasan untuk berpisah, atau justru sebagai batu ujian untuk membangun ketangguhan yang lebih hakiki. Sejarah membuktikan, banyak rumah tangga yang justru menemukan kembali makna kebersamaan mereka setelah berhasil melewati masa-masa sulit bersama – sebuah pelajaran yang mungkin lebih berharga daripada sekadar kenyamanan finansial yang temporer.