Di kawasan perbukitan yang dulu asri di Sukabumi, Jawa Barat, kini berdiri kavling-kavling rapi dan model rumah contoh dari proyek Perumahan Harmoni Hill. Namun, di balik apa yang terlihat di permukaan, tersembunyi narasi pilu warga di bawahnya. Bukit yang diubah menjadi permukiman ini diduga keras menjadi biang kerok bencana beruntun, tanah longsor dan banjir bandang yang menerjang permukiman padat penduduk di kaki bukit, tepatnya di Kampung Cikaret, Kelurahan Karangtengah, Kecamatan Gunungpuyuh.
“Sejak proyek dimulai, warga selalu merasa cemas saat hujan turun. Hal ini dikarenakan aliran air hujan kini membawa material berbahaya dan lumpur dari area proyek ke rumah-rumah mereka” tutur Asep Saepulloh (45), salah satu warga yang rumahnya nyaris tenggelam dalam banjir lumpur, suaranya parau oleh letih dan kekhawatiran yang tak kunjung reda.
Warga, seperti dilaporkan POROSmedia.com, menuding pembukaan lahan secara masif di proyek yang dikembangkan PT Harmoni Cipta Pratama (HCP) ini telah mengganggu kestabilan lereng. Mereka melaporkan setidaknya tiga kali kejadian longsor dan banjir bandang pada akhir 2023 dan awal 2024, menyebabkan kerusakan puluhan rumah, jalan yang ambles, dan fasilitas umum terendam.

Konflik Lahan dan Kerentanan Geologi
Konflik di Harmoni Hill bukanlah cerita tunggal. Ia adalah fragmen dari drama besar yang kerap terjadi di wilayah Sukabumi dan sekitarnya. Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sukabumi mencatat, pada 2023 saja, terdapat puluhan kejadian tanah longsor di wilayah ini, dengan faktor pemicu utama yaitu curah hujan tinggi dan kerusakan lingkungan akibat alih fungsi lahan (Sumber: BPBD Kabupaten Sukabumi, 2023).
Dr. Adrin Tohari, pakar geoteknologi dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), dalam berbagai publikasinya sering mengingatkan bahwa pembangunan di wilayah perbukitan seperti Sukabumi harus sangat memperhatikan aspek geologi teknis. “Pembangunan yang mengabaikan karakteristik lereng, seperti memotong kaki bukit secara curam atau membebani puncaknya, akan mengundang risiko besar. Air yang tak lagi bisa diserap tanah akan berubah menjadi ancaman di bawah,” katanya dalam sebuah webinar yang diadakan Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) ( Webinar IAGI “Mitigasi Bencana Geologi”, 2023).
Sementara itu, Koalisi Masyarakat Sipil untuk Hutan dan Lahan (KSKHA) dalam rilisnya menyoroti maraknya izin pembangunan perumahan di kawasan hutan lindung yang diubah peruntukannya (HPK). Mereka mendesak adanya audit lingkungan menyeluruh terhadap proyek-proyek yang berpotensi mengganggu daerah resapan air dan kawasan bergelombang (Sumber: Siaran Pers KSKHA, Januari 2024).

Dari Pembersihan Lumpur hingga Audit Lingkungan
Di tengah hujan data dan analisis pakar, warga Kampung Cikaret bergerak dengan tuntutan yang konkret. Mereka tidak hanya meminta pembersihan saluran air dan normalisasi sungai yang telah dikeruk berkali-kali. Suara mereka lebih dalam, meminta developer untukĀ tidak lepas tangan.
“Kami minta ada tanggung jawab berkelanjutan. Bukan hanya saat musim hujan dan ada longsor, lalu dibersihkan. Tapi ada jaminan bahwa struktur bukit sudah diamankan, sistem drainase yang benar-benar direkayasa, dan jika ada kerusakan lagi, ada mekanisme ganti rugi yang jelas,” ujar Sari, aktivis warga setempat.
Mereka juga mendesak Pemerintah Kota Sukabumi dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) untuk turun tangan, melakukan audit lingkungan independen terhadap proyek Harmoni Hill. Mereka ingin mengetahui apakah proyek ini telah memenuhi seluruh analisis mengenai dampak lingkungan (Amdal) dan memiliki izin yang lengkap, terutama terkait pengelolaan daerah aliran air (DAS).
Proyek Harmoni Hill kini berdiri bagai monumen ambivalen di satu sisi simbol kemajuan dan kepemilikan properti, di sisi lain pengingat pahit tentang betapa rapuhnya keseimbangan alam ketika dieksploitasi. Di kaki bukit itu, warga tak hanya berjuang mengeringkan rumah mereka dari lumpur, tetapi juga memperjuangkan hak mendasar, hidup aman dari ancaman yang dipicu dari atas bukit, dari pembangunan yang mengatasnamakan harmoni, namun justru membawa petaka.



















