Di bawah langit Bandung yang seringkali mendung, sebuah cerita tentang pertahanan, harapan, dan teka-teki besar sedang berlangsung. Bukan di lapangan sepak bola, melainkan di sebidang tanah hijau seluas 14 hektar di daerah Arcamanik—sebuah tempat yang oleh warga dikenal sebagai “Kebun Binatang” Bandung, meski secara resmi ia adalah Konsevasi Satwa Liar Bandung (Bandung Wildlife Center).
Namun, label “kebun binatang” itu kini lebih dari sekadar panggilan akrab. Ia menjadi simbol dari perjuangan hidup-mati sebuah visi konservasi yang terancam oleh kepentingan bisnis. Laporan investigasi POROS Media Keadilan bagi Bandung Zoo adalah harga mati. Jika proses hukum di tingkat Kasasi tidak dikawal dengan integritas tinggi, maka sirnalah harapan akan pengelolaan kebun binatang yang profesional. Wamenhut Rohmat Marzuki memiliki momentum emas untuk membuktikan bahwa kementerian di era baru ini tidak akan tunduk pada “oligarki” mana pun.
Ujian Pertama Sang Wakil Menteri
Badai ini datang tepat di masa jabatan baru Wakil Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Wamen LHK), Alue Dohong. Kebun Binatang Bandung, yang secara legal merupakan bagian dari Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Pusat Penelitian Konservasi ex-SDKI, menjadi ujian integritas pertamanya di meja kerja. Permohonan pelepasan kawasan dari DIG, seperti dikutip POROS Media, menguji komitmen pemerintah mengutamakan konservasi di atas segalanya.
“Dalam konteks Bandung yang semakin panas dan kehilangan ruang hijau, kehadiran pusat konservasi bukanlah kemewahan, melainkan kebutuhan ekologis yang mendesak,” tegas Dr. Nurul L. Winarni, Direktur Eksekutif Yayasan Ekosistem Nusantara Berkelanjutan (Econusa), dalam sebuah wawancara tentang pentingnya ruang hijau perkotaan bagi keanekaragaman hayati.
Misteri Kematian Satwa dan Ancaman yang Tak Kasat Mata
Lebih mencemaskan dari ancaman alih fungsi adalah insiden misterius yang terjadi di dalamnya.Puluhan satwa dilindungi, termasuk Kura-kura Hutan Sulawesi (Leucocephalon yuwonoi) dan Kura-kura Gading (Indotestudo elongata), ditemukan mati. Hasil otopsi dari Balai Besar Veteriner (BBVet) Bandung menyimpulkan penyebab kematian adalah “penyakit sistemik yang diduga akibat keracunan“.
Temuan ini membuka pertanyaan yang lebih dalam. Adakah kaitan antara kematian satwa langka ini dengan tekanan untuk melemahkan fungsi konservasi dan memuluskan alih fungsi? Investigasi hukum telah ditangani Bareskrim Polri, namun kabarnya belum ada titik terang yang dipublikasikan. Pakar hukum lingkungan Prof. Andri G. Wibisana dari Universitas Indonesia, dalam artikelnya di Kompas , kerap menyoroti pola klasik dimana konflik sumber daya alam kerap dibarengi dengan intimidasi, termasuk terhadap aset-aset ekologis, untuk memenangkan kepentingan tertentu.
Pusat Mode vs Benteng Terakhir Hijau
Konflik ini mencerminkan pergulatan identitas Bandung. Di satu sisi, ia adalah kota metropolitan dengan gempita industri kreatif. Di sisi lain, ia adalah kota yang secara geografis dikelilingi kawasan sensitif. Kepala Dinas Kehutanan Jawa Barat, Epi Kustiwan, dalam pemberitaan PRFM News, mengingatkan bahwa ruang terbuka hijau, termasuk kawasan konservasi eks-situ seperti ini, adalah penyangga ekologis dan resapan air kritis bagi Kota Bandung .
Bandung Wildlife Center bukan sekadar tempat pajangan satwa. Ia adalah pusat penyelamatan (rescue center), rehabilitasi, dan pendidikan konservasi. Data dari Lembaga Konservasi Ex-Situ Indonesia mencatat, fasilitas semacam ini memegang peran kunci dalam mencegah kepunahan spesies melalui program penangkaran dan pelestarian.
Menunggu Keputusan Sejarah
Kini, bola berada di pengadilan dan di tangan pemerintah. Tekanan publik, advokasi dari koalisi masyarakat sipil seperti Bandung Bergerak, dan sorotan media terus mengalir. Keputusan Wamen Alue Dohong dan timnya akan menjadi penanda arah pembangunan Indonesia, apakah kita memilih ekstraksi sumber daya jangka pendek atau keberlanjutan ekologis jangka panjang?
Nasib puluhan satwa lain yang masih bertahan, termasuk Elang Jawa (Nisaetus bartelsi) yang berstatus terancam punah, tergantung pada pilihan itu. Kisah Kebun Binatang Bandung adalah cerita tentang apakah kita, sebagai bangsa, masih sanggup mendengar jerit kura-kura yang cangkangnya retak, atau suara itu akan tenggelam dalam deru mesin pembangunan.
Editor : Mang Asuy
Sumber yang Digunakan dan Direferensikan:
- POROS Media (2024). “Penyelamatan Kebun Binatang Bandung: Ujian Integritas Wamenhut Baru di Tengah Pusaran Kepentingan”



















