Di balik pesona alamnya yang memikat, dari bentangan sawah hijau hingga kaki Gunung Galunggung, tersembunyi sebuah ‘luka’ kronis yang menganga.Kondisi jalan yang mengenaskan. Baru-baru ini, data resmi mengukuhkan kabar getir yang sudah lama dirasakan warga, Kabupaten Tasikmalaya menduduki peringkat runner-up untuk jalan rusak berat se-Jawa Barat.
Berdasarkan data dari Satuan Kerja (Satker) Jalan Nasional Wilayah Jawa Barat, yang dirilis Tribun Jabar, dari total 238,64 kilometer jalan nasional di Tasikmalaya, sebanyak 10,29% atau setara dengan 24,55 kilometer berada dalam kategori rusak berat. Angka ini hanya kalah oleh Kabupaten Cirebon yang menempati posisi pertama. Data ini bukannya tanpa dasar. Badan Pusat Statistik (BPS) dalam publikasi Statistik Transportasi Darat 2023 juga mencatat bahwa kerusakan jalan secara nasional masih menjadi salah satu penyumbang utama dalam biaya logistik dan meningkatkan risiko kecelakaan.
Di lapangan, statistik itu berubah menjadi drama keseharian. Di ruas-ruas jalan seperti di Kecamatan Ciawi, Cipedes, atau di jalan penghubung menuju Kawasan Industri Manonjaya, pengendara harus berjibaku dengan kubangan luas dan lereng-lereng aspal yang terkelupas. Arus logistik barang hasil bumi dan kerajinan tangan khas Tasikmalaya—yang menjadi urat nadi perekonomian—terhambat, biaya operasional angkutan membengkak, dan keselamatan menjadi taruhan.
“Kami seperti diuji ketangguhan kendaraan dan kesabaran setiap hari. Hujan jadi musuh, panas pun jalan tetap berlubang,” keluh Asep (45), seorang supir truk pengangkut kayu yang rutin melintasi jalur Cikalong, seperti yang banyak dikeluhkan warga dalam berbagai forum daring.
Menanggapi hal ini, Bupati Tasikmalaya, H. Cecep Nurul Yakin, S.Pd., M.AP., telah menyampaikan komitmennya. Dalam pemberitaan tersebut, ia berjanji akan segera melakukan perbaikan. “Kami akan koordinasi dengan pemerintah pusat, karena ini menyangkut jalan nasional. Untuk jalan kabupaten, kami alokasikan perbaikan bertahap,” ujarnya.
Berikut adalah rincian panjang jalan rusak berdasarkan data BPS 2024:
- Kabupaten Sukabumi: 507,48 km
- Kabupaten Tasikmalaya: 296,89 km
- Kabupaten Cianjur: 279,48 km
- Kabupaten Karawang: 241,01 km
- Kabupaten Bekasi: 216,17 km
- Kabupaten Garut: 214,01 km
- Kabupaten Subang: 193,72 km
- Kabupaten Bandung Barat: 183,49 km
- Kabupaten Purwakarta: 150,34 km
- Kabupaten Bogor: 146,71 km
Namun, janji perbaikan jalan di Indonesia sering kali berhadapan dengan tembok tebal realitas. Laporan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) 2022 menyebutkan bahwa tantangan utama perbaikan infrastruktur jalan tidak hanya pada anggaran, tetapi juga pada tingginya beban gandar kendaraan barang yang melampaui muatan (overloading) dan kualitas pelaksanaan pekerjaan. Selain itu, studi yang diterbitkan dalam Jurnal Teknik Sipil ITB (2021) menyoroti bahwa perencanaan pemeliharaan jalan yang tidak berbasis data kondisi aktual dan berkelanjutan sering berujung pada perbaikan yang bersifat ‘tambal sulam’.
Komitmen Bupati Cecep kini diawasi oleh jutaan mata warga Tasikmalaya. Pertanyaannya, akankah perbaikan yang dijanjikan hadir sebagai solusi komprehensif dan berkelanjutan, atau sekadar menjadi ‘tambalan musiman’ yang akan terkikis kembali oleh roda-roda berat dan derasnya hujan? Jawabannya tidak hanya terletak pada besaran anggaran, tetapi juga pada kesungguhan dalam pengawasan, penegakan aturan terhadap overload, dan transparansi pelaksanaan. Jalan yang rusak bukan hanya soal permukaan yang berlubang, ia adalah cermin dari tata kelola infrastruktur yang diuji. Nasib pariwisata, perekonomian, dan nyawa warga bergantung pada seberapa serius janji itu diwujudkan.
Sumber Ide Tulisan



















