Dalam ruang CES di Las Vegas awal Januari lalu, deretan robot humanoid mini bergerak lincah di sekitar panggung—seperti adegan dari film Star Wars yang hidup. Di tengah mereka, Jensen Huang, CEO Nvidia, dengan penuh keyakinan menyatakan” 2026 akan menjadi momen ChatGPT bagi kecerdasan artifisial fisik“. Pernyataannya bukan sekadar retorika, melainkan penanda dimulainya babak baru dalam lomba teknologi yang akan mengubah wajah industri Asia.Di satu sisi, China melesat bak roket dengan ambisi menjadikan robot humanoid sebagai tulang punggung industri masa depan. Di sisi lain, Asia Tenggara bergerak lebih hati-hati, menimbang biaya, tenaga kerja murah, dan kebutuhan riil di lapangan. Jurang adopsi teknologi ini menggambarkan dua realitas ekonomi yang berbeda, namun sama-sama menentukan masa depan otomasi di kawasan terpadat di dunia ini

Ambisi Besar China ,China bukan lagi sekadar pemain, melainkan penggerak utama pasar robot global. Data dari Morgan Stanley mengungkap fakta mencolok: 55% dari seluruh robot yang diproduksi di dunia pada 2024 berasal dari Negeri Tirai Bambu. Sektor robot humanoid, meski masih muda, telah memicu gelombang antusiasme dan investasi yang masif.

Perusahaan-perusahaan seperti Unitree Robotics dan Fourier Intelligence tak hanya mengejar kemiripan bentuk, tetapi juga kemampuan fungsional. Raphael Yee, Direktur Embodied AI di Lionsbot, menjelaskan keunggulan desain antropomorfik ini “Kemampuannya menggunakan tangan dan kaki untuk menaiki tangga membuka akses ke infrastruktur yang dirancang untuk manusia.” Ini adalah terobosan yang tak dimiliki robot beroda konvensional.

Proyeksi dari analis Macquarie, Daisy Zhang, bahkan lebih optimistis. Dalam catatan riset November lalu, ia memperkirakan produksi komersial robot humanoid bisa dimulai pada 2026, dengan China dan AS sebagai pelopor.

Di balik optimisme itu, ada awan peringatan yang mulai menggelayut. Pemerintah China, melalui juru bicara Komisi Pembangunan dan Reformasi Nasional, Li Chao, secara terbuka mengingatkan bahaya “investasi berlebih” dan potensi gelembung di sektor industri frontier ini. Peringatan langka ini menunjukkan betapa panasnya kompetisi dan tingginya ekspektasi yang perlu dijaga agar tidak melampaui kenyataan.

Sementara China memacu ambisinya, langkah Asia Tenggara justru diwarnai kehati-hatian yang pragmatis. Di sini, biaya tenaga kerja yang relatif rendah menjadi faktor penentu utama, memperlambat insentif untuk beralih ke otomasi canggih.

Vivekanand Patil dari Epson Asia Tenggara mengamati bahwa adopsi robotika paling maju di kawasan ini masih terkonsentrasi di manufaktur elektronik, dengan Vietnam dan Thailand muncul sebagai hub otomasi yang tumbuh cepat. Namun, fokusnya bukan pada robot humanoid futuristik, melainkan pada robot industri dan kolaboratif yang teruji untuk tugas spesifik.

“Mayoritas pelanggan kami yang menggunakan armada robot pembersih justru berasal dari Eropa, bukan Asia Tenggara,” ungkap Raphael Yee dari Lionsbot. Masalah kekurangan tenaga kerja dan tingginya biaya di Eropa menjadi pendorong utama, sementara di Asia Tenggara, akses terhadap tenaga kerja murah masih melimpah.

Bahkan di sektor berisiko tinggi seperti pembersihan kapal bawah air, teknologi robotik kesulitan bersaing. Syahrul Hatta dari C-Leanship mengungkapkan bahwa layanan pembersihan mekanis mereka yang lebih aman harus bersaing dengan penyelam manusia yang jauh lebih murah. Di banyak negara Asia Tenggara, regulasi keselamatan dan lingkungan yang longgar turut mempertahankan status quo ini.

Paradoks Moravec

Dijelaskan oleh Yee, paradoks ini menyatakan bahwa hal yang mudah bagi manusia—seperti memegang telur tanpa memecahkannya atau mencuci piring—justru sangat sulit untuk diprogram pada robot.

“Kita sangat berbeda secara anatomi dengan cara mereka dibangun,” ujarnya. Tantangan dalam motorik halus dan interaksi dengan lingkungan yang tidak terstruktur menjadi penghalang besar bagi robot humanoid untuk benar-benar menggantikan manusia dalam tugas-tugas sederhana sekalipun.

Kolaborasi, Bukan Penggantian

Lalu, apa jalan tengahnya? Bagi banyak pelaku industri di Asia Tenggara, jawabannya terletak pada keseimbangan dan kolaborasi. Patil dari Epson menekankan bahwa tujuan sebenarnya bukanlah menggantikan manusia, melainkan menciptakan sistem yang lebih cerdas dan kolaboratif.

“Tujuannya adalah mendukung operator, meningkatkan konsistensi, dan membantu produsen mengatasi kekurangan tenaga kerja dan keterampilan secara berkelanjutan,” tegasnya.

Di tengah relokasi pabrik multinasional—termasuk dari China—ke Asia Tenggara, permintaan akan otomasi akan terus tumbuh. Namun, bentuknya mungkin akan lebih evolusioner daripada revolusioner, sistem yang mudah diterapkan, dapat diskalakan, dan melengkapi tenaga kerja manusia, bukan robot humanoid serba bisa yang masih jauh dari kematangan teknologi dan ekonomi.