Kebijakan yang Masih Tersekat-sekat

Secara institusional, upaya pemerintah memang ada. Pemerintah Provinsi Jawa Barat memiliki program seperti Griya Lansia “Nyaah ka Indung”, Pusat Pembelajaran Keluarga (PUSPAGA) untuk konseling, dan program ketahanan keluarga. Pemerintah Kota Bandung melalui Dinas Sosial juga menjalankan bantuan sosial untuk keluarga rentan, pendampingan sosial, dan rehabilitasi.

Namun, menurut pengamatan Koalisi Perempuan Indonesia dan berbagai riset lembaga swadaya masyarakat, program-program ini masih berjalan secara sektoral – terpisah antara isu anak, lansia, dan ekonomi keluarga. Tidak ada kebijakan atau program terpadu yang secara spesifik dirancang untuk keluarga dengan beban ganda (double burden) seperti yang dialami generasi sandwich, terlebih bila dikepalai oleh orang tua tunggal.

“Mereka terjepit di antara kategori. Untuk bantuan lansia, syaratnya sering rumit. Untuk bantuan anak, fokusnya pada yatim piatu. Sementara ibu tunggal yang merawat orang tua sakit seperti berada di wilayah abu-abu kebijakan,” jelas Dr. Atik Septiani, seorang sosiolog dari Universitas Padjadjaran yang dihubungi secara terpisah.

Akibatnya, seperti yang dialami Sari, dukungan yang diterima tidak menyentuh akar masalah: kurangnya waktu, kelelahan kronis, dan tekanan mental akibat peran ganda yang tak henti.

Menuju Kolaborasi Nyata, Melampaui Simpati

Isu generasi sandwich, terutama yang dihadapi orang tua tunggal, bukanlah drama individu tentang ketabahan. Ini adalah persoalan struktural yang membutuhkan pendekatan kebijakan yang lebih integratif dan empatik.

Beberapa langkah konkret yang mulai didorong oleh para pegiat adalah:

  1. Integrasi Data: Menyatukan data kepesertaan program lansia, anak, dan keluarga rentan untuk mengidentifikasi keluarga dengan beban ganda.
  2. Program Dukungan Khusus: Merancang program pendampingan sosial, bantuan respite care (pengasuhan pengganti sementara), dan akses layanan kesehatan mental yang terjangkau bagi caregiver keluarga.
  3. Insentif dan Perlindungan Sosial: Memperluas cakupan bantuan dan mempertimbangkan insentif khusus atau keringanan biaya kesehatan bagi keluarga yang secara aktif merawat lansia dan anak.
  4. Advokasi di Tempat Kerja: Mendorong kebijakan perusahaan yang ramah caregiver, seperti cuti khusus merawat anggota keluarga.

Generasi sandwich seperti Ibu Sari bukanlah pahlawan yang menginginkan pujian. Mereka adalah tulang punggung sunyi dari sebuah sistem yang belum sepenuhnya berempati. Mereka tidak meminta dikasihani, melainkan didengarkan dan didukung oleh sistem.

Maka, jika hari ini kita melihat seorang ibu tersenyum sambil memikul dunia, tanyalah dengan sungguh-sungguh: “Apa yang bisa kami bantu?” Bukan hanya untuk kekuatannya, tetapi untuk mengakui bahwa tidak ada manusia yang didesain untuk menopang dua generasi sendirian, tanpa jeda, dan tanpa jaring pengaman sosial yang memadai.


Sumber Referensi Tambahan:

  1. Pew Research Center. (2022). Parenting in America Today.
  2. Badan Pusat Statistik (BPS). (2023). Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Februari 2023.
  3. World Health Organization (WHO). (2021). Global Report on Long-Term Care.