Bandung – Senyumnya tetap terjaga saat mengantar anak ke sekolah sebelum bergegas mengantarkan sang ibu kontrol rutin ke rumah sakit. Dalam perjalanan, ia menyusun daftar belanja dan memikirkan laporan kerja yang harus diselesaikan malam ini. Ia adalah Ibu Sari (nama samaran), sosok yang oleh sosiolog dan literatur kesehatan masyarakat dikategorikan sebagai “Generasi Sandwich”. Namun, bagi Sari, istilah itu bukan sekadar teori; itu adalah realitas harian yang menyesakkan: menjadi satu-satunya tulang punggung untuk anaknya yang berusia 8 tahun dan orang tuanya yang semakin rentan.
“Tidak ada hari libur. Sakit adalah kemewahan yang tidak boleh saya miliki,” ujarnya lirih, di sela-sela menunggu antrian obat di sebuah puskesmas di Bandung. Cerita Sari adalah fragmen dari potret besar yang sering luput dari kebijakan publik, meski jumlahnya terus membengkak.
Beban Berlapis di Pundak Ibu Tunggal
Menjadi orang tua tunggal, seperti Sari, berarti ia harus menjadi “sistem keluarga” yang utuh. Ia adalah pencari nafkah tunggal, pengasuh utama, guru daring, sekaligus sandaran emosi bagi anaknya. Studi yang dilakukan oleh Pew Research Center (2022) menunjukkan bahwa rumah tangga dengan orang tua tunggal, terutama yang dipimpin perempuan, secara signifikan lebih rentan secara finansial dan mengalami tingkat stres kronis yang lebih tinggi. Di Amerika Serikat saja, hampir seperempat anak tinggal di rumah dengan orang tua tunggal, dengan beban ekonomi yang tidak merata.
Di Indonesia, data Badan Pusat Statistik (BPS) dalam Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Februari 2023 mengungkap terdapat 10,98% rumah tangga dengan kepala rumah tangga perempuan, yang seringkali mencerminkan konteks orang tua tunggal. Beban ini berlipat ganda saat mereka juga harus memikul tanggung jawab sebagai “anak siaga”.
Anak Siaga: Tanggung Jawab yang Datang Tanpa Peringatan
Di sisi lain, Sari juga harus berperan sebagai manajer perawatan (caregiver) bagi ibunya yang mulai pikun. Tanggung jawab ini mencakup pembiayaan kesehatan, pendampingan ke fasilitas medis, hingga pengambilan keputusan kritis. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dalam laporan tentang “Perawatan Jangka Panjang” (2021) menekankan bahwa caregiver keluarga, terutama perempuan, sering mengalami beban psikologis, fisik, dan finansial yang sangat berat tanpa dukungan sistemik yang memadai. Mereka berisiko tinggi mengalami kelelahan fisik dan mental (burnout), depresi, serta penurunan kesehatan sendiri.
Tekanan sosial yang menyatakan “itu kewajiban” atau “kamu anak berbakti” justru sering menjadi belenggu yang membungkam suara mereka. “Rasa bersalah jika merasa lelah itu nyata. Seolah kita tidak boleh punya batas,” tambah Sari.
Selanjutnya: Ketika Sandwiched Generation Dipaksa Menjadi Kekuatan Utama Dua Generasi



















