Tasikmalaya, 8 Januari 2026 — Selama lebih dari satu dekade, warga Kampung Cibengkok, Cibatu, dan Cipeuteuy di Kelurahan Sukalaksana, Kecamatan Bungursari, Kota Tasikmalaya, harus menjalani rutinitas harian dengan “medan perjuangan” yang sama,ruas jalan yang rusak parah, dipenuhi lubang, kerikil tajam, dan debu yang pekat.
Kondisi infrastruktur yang mengenaskan ini telah lama menjadi duri dalam daging bagi ratusan kepala keluarga yang menggantungkan mobilitas mereka pada jalan tersebut. Keterbatasan akses bukan hanya soal kenyamanan, melainkan telah menyentuh persoalan ekonomi dan keselamatan sehari-hari.Dari Audiensi ke Unjuk Rasa Warga tak lagi hanya mengeluh, tetapi telah mengambil langkah tegas dengan melakukan audiensi langsung kepada Wali Kota Tasikmalaya, Viman Alfarizi Ramadhan.
Namun, janji yang digaungkan dalam ruang pertemuan ternyata belum juga terwujud di lapangan.Kekecewaan yang mendalam itu kemudian berubah menjadi aksi unjuk rasa. Puluhan warga mendatangi Bale Kota Tasikmalaya, menyuarakan tuntutan yang sederhana namun mendasar: hak mereka atas infrastruktur yang layak. Aksi ini menjadi bukti nyata bahwa kesabaran masyarakat telah berada di ujung tanduk.
Janji dan KetidakpastianSorotan publik yang kian tajam akhirnya menyentuh telinga Wakil Wali Kota Tasikmalaya, Diky Candra. Saat menghadiri sebuah acara di Kampung Cipeuteuy pada Rabu (6/1), ia mengakui langsung kondisi jalan yang “sangat memprihatinkan”.
“Saya langsung mengetik dan menyampaikan hal ini ke kepala dinas terkait. Barusan Pak Camat menyampaikan informasi bahwa jalan tersebut sudah dimasukkan dalam usulan,” ujar Diky, seperti dikutip dari sumber yang sama.
Namun, di balik usulan itu, terpendam ketidakpastian. Ketika ditanya apakah perbaikan yang ditunggu-tunggu selama belasan tahun itu akan terealisasi pada tahun 2026, Diky Candra tidak dapat memberikan kepastian. Ia hanya berjanji akan terus mengingatkan pihak teknis terkait.
“Saya belum berani memastikan karena belum melakukan pengecekan secara menyeluruh,” pungkasnya.Menanti Realisasi di Tengah Siklus JanjiKasus jalan rusak di Sukalaksana ini bukanlah fenomena baru di daerah. Ia menjadi cermin dari siklus klasik, protes warga → respons verbal pejabat → usulan anggaran → dan kemudia keheningan. Jarak antara “sudah diusulkan” dengan “sedang dikerjakan” sering kali menjadi jurang yang dalam dan penuh penantian.Warga Sukalaksana kini kembali menanti, dengan secercah harapan dari pernyataan wakil wali kota, namun dibayangi oleh memori panjang janji-janji sebelumnya.
Pertanyaan besarnya adalah, akankah tahun 2026 menjadi tahun di mana “usulan” itu akhirnya bertransformasi menjadi aspal mulus yang menghubungkan kampung mereka dengan kota, atau hanya menjadi babak baru dalam siklus penantian yang sudah terlalu lama?



















