TOBOALI – Kabut pagi di perairan Pulau Kelapan mulai menipis, memperlihatkan seberkas cahaya yang menari di atas riak air jernih kebiruan. Di bawahnya, taman karang dan biota laut yang memesona menanti. Ikon bahari ini menjadi penutup rangkaian perjalanan sekelompok wartawan yang bukan sekadar berwisata, melainkan sedang menjalankan misi jurnalistik: mengulik setiap lekuk sejarah dan menyoroti keelokan alam Bangka Selatan.Dalam rangkaian perayaan Hari Pers Nasional (HPN) 2026 dan menyambut Hari Ulang Tahun ke-23 Kabupaten Bangka Selatan, Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) setempat menggagas sebuah ekspedisi yang unik: PWI Jelajah Wisata Bangka Selatan. Kegiatan yang dijadwalkan pada Minggu, 1 Februari 2026 ini, dirancang sebagai laboratorium karya bagi insan pers sekaligus kampanye promosi destinasi wisata yang berdampak.“Ini adalah bentuk kontribusi nyata insan pers. Kami tidak hanya meliput, tetapi juga menjadi bagian aktif dalam mempromosikan potensi sejarah dan pariwisata daerah kami ke khalayak nasional,” papar Dedy Irawan, Ketua PWI Bangka Selatan, dengan semangat. Ia melanjutkan, kekuatan karya jurnalistik lah yang diharapkan dapat membawa cerita-cerita lokal ini melanglang lebih jauh.Perjalanan yang terkurasi ini akan mengajak 30 wartawan terpilih dari seluruh Indonesia menelusuri tiga lapisan narasi Basel: sejarah, geologi, dan bahari. Perjalanan dimulai dari Benteng Kota Toboali, benteng peninggalan kolonial yang menjadi saksi bisu sekaligus penanda berdirinya kota tertua di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung yang telah berusia 317 tahun. Dari sini, napak tilas berlanjut ke keajaiban alam Batu Belimbing, formasi granit berusia jutaan tahun yang menjadi magnet bagi pencinta geologi dan fotografi.Puncak ekspedisi adalah penyelaman di Pulau Kelapan, sebuah destinasi yang semakin mendunia. Keindahan bawah laut Basel, khususnya di sekitar Pulau Kelapan dan destinasi lain seperti Pulau Pongok, telah menarik perhatian dan menjadi bagian dari strategi pengembangan Destinasi Super Prioritas ‘Tanjung Kelayang’ yang dicanangkan pemerintah pusat. Pesona bahari Basel disebut-sebut memiliki potensi yang setara dengan Raja Ampat, menawarkan biodiversitas yang tinggi dan terumbu karang yang masih terjaga, sebagaimana dilaporkan oleh Kompas.com.Namun, perjalanan ini bukan sekadar tur biasa. Setiap peserta wajib menghasilkan sebuah karya feature jurnalistik yang nantinya akan dibukukan oleh PWI Basel. Mekanisme ini memastikan bahwa setiap destinasi tidak hanya dikunjungi, tetapi juga didalami, diolah, dan diceritakan dengan pendekatan yang mendalam.“Dengan membatasi kuota dan menetapkan kewajiban berkarya, kami ingin kegiatan ini efektif dan benar-benar menghasilkan luaran yang berkualitas, sebuah buku yang dapat menjadi referensi,” tegas Dedy. Pendaftaran telah dibuka sejak 5 Januari 2026 dan ditutup pada 15 Januari 2026.Inisiatif PWI Basel ini selaras dengan semangat HPN 2026 yang diperkirakan akan mengangkat tema besar tentang peran pers dalam memajukan kebudayaan dan pariwisata nasional. Lebih dari itu, kegiatan ini adalah investasi untuk masa depan. Kontribusi sektor pariwisata terhadap perekonomian Bangka Belitung terus meningkat, dengan Bangka Selatan sendiri menargetkan kunjungan 1,2 juta wisatawan pada 2026, seperti dilansir Bangka Pos. Upaya promosi yang organik dan kredibel melalui karya jurnalistik diyakini dapat menjadi pendorong yang ampuh untuk mencapai target tersebut.Pada akhirnya, jelajah ini adalah sebuah pengingat. Bahwa di balik setiap headline berita, para wartawan juga adalah pencinta cerita, penjaga memori, dan kadang-kadang, pionir yang membuka jalan bagi dunia untuk mengenal sebuah tempat. Mereka akan pulang dari Basel bukan hanya dengan gambar di kamera, tetapi dengan cerita-cerita yang siap ditabur, diharapkan tumbuh menjadi kesadaran kolektif untuk melestarikan dan berkunjung ke sudut negeri yang memesona ini.Sumber Referensi Terkait:1. Kompas.com – “Potensi Bahari Bangka Belitung Disebut Setara Raja Ampat, Ini Kata Kemenparekraf” (2023)2. Bangka Pos – “Target Pariwisata Bangka Selatan 2026: 1,2 Juta Wisatawan” (2024)3. Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia – Rencana Strategis Pengembangan Destinasi Super Prioritas.